Doakan anakmu, Allah menanti doamu – catatan Hari Ayah 2016


Dalam rangka Hari Ayah bulan November ini marilah kita renungkan lagi betapa pentingnya doa kita sebagai orang tua dalam keberhasilan anak-anak kita. Semoga semua ayah, selain ibu, akan makin lebih banyak membasahi bibir dan mengisi hati dengan doa untuk anak-anaknya.

Semoga dengan doa anak-anak kita menjadi anak-anak pembawa rahmat bagi alam semesta. Aamiin.

🌻🌻🌻

Jika kau suatu saat menjadi orang tua…

Jadilah seperti Nuwair binti Malik (Radhiyallahu ‘Anha) yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya
Saat itu sang anak masih remaja
Usianya baru 13 tahun

Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah saw tidak mengabulkan keinginan remaja itu.
Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah saw dengan potensinya yang lain.
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah saw karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.
Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris pencatat wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini:

Zaid bin Tsabit ra.

Jika suatu saat nanti kau jadi orang tua
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah (Rahimahallah) yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.
Kelak, ia tumbuh menjadi jajaran Ulama Hadits dan Imam Madzhab.

Ia tidak lain adalah
Imam Ahmad bin Hanbal (Rahimahullah)

Jika suatu saat nanti kau jadi orang tua
Jadilah orang tua yang terus mendoakan anaknya
Seperti Ummu Habibah (Rahimahallah)
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu.

Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu.. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya.

Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya:
Imam Syafi’i (Rahimahullah)

Jika suatu saat nanti kau jadi orang tua
Jadilah orang tua yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya ‘Abdurrahman.
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi Imam Masjidil Haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram,” katanya memotivasi sang anak.
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam Masjidil Haram.”

Sang Ibu tak bosan-bosannya mengingatkan.
Hingga akhirnya ‘Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan termasuk deretan Ulama berkelas dunia yang disegani.
Kita pasti sering mendengar Murattal-nya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama:
‘Abdurrahman As-Sudais (Hafidzahullahu ta’ala)

Jika suatu saat nanti kau jadi orang tua
Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses.

Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu
Seperti ibu Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu.
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri.
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor.
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia.
Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999
Dr. Ahmad Zewail (Hafidzahullahu ta’ala)

Maa syaa’Allaah

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa min-dzuriyyatinaa Qurrata a’yun waj-‘alnaa lil-Muttaqiinaa Imaamaa..

Aamiiin Allaahumma Aamiiin

Digubah dari kiriman Ibu Sulistiowati, Group Al Maarij, diambil dari FB Masjid al-Mursalin.

Hanya soal waktu sampai anakmu meninggalkanmu menjalani hidupnya sendiri. Nikmatilah kebersamaan, selagi masih ada waktu



Untuk Bapak/Ibu yang sering jengkel dengan si buah hati:

HANYA SOAL WAKTU
Oleh: Shahnaz Haque

Saat rumahmu akan sebersih dan serapih rumah-rumah dalam majalah-majalah yang sering kau irikan itu.
Maka, nikmatilah setiap detik letihmu yang harus berpuluh kali membereskan kekacauan yang mereka buat
Hanya soal waktu…

Saat mereka tak mau lagi kau gandeng, peluk atau sekedar kau cium rambutnya
Maka… berbahagialah ketika mereka selalu membuntutimu kemanapun kakimu melangkah, meski kadang hal itu mengesalkanmu,
bagi mereka tak ada selainmu

Hanya soal waktu…
Saat kau tak lagi jadi si serba tahu dan tempat mengadu
Maka… bersabarlah dengan rentetan pertanyaan juga celoteh riang dari mulut mungil mereka yang kadang membuat dahimu mengernyit atau keasyikanmu terhenti
Hanya soal waktu…

Saat mereka mulai _meminta kamarnya masing-masing dan melarangmu mengutak atik segala rupa apa yang di dalamnya
Maka… tahan emosimu dari rengekan manja mereka saat minta kelon atau dongeng sebelum tidur ketika mata 5 wattmu juga meminta haknya

Hanya soal waktu…
Saat mereka menemukan separoh hatinya untuk selanjutnya membangun sarangnya sendiri. Mungkin saat itu posisimu tak lagi sepenting hari ini

Maka… resapilah setiap mili kebersamaanmu dengan mereka selagi bisa
Karena tak butuh waktu lama menunggu kaki kecil mereka tumbuh menjadi sayap yang kan membawanya pergi menggapai asa dan cita
Kelak kau hanya bisa menengok kamar kosong yang hanya sekali dua akan ditempati penghuninya saat pulang…

Termangu menghirup aroma kenangan di dalamnya dan lalu tercenung “Dulu kamar ini pernah begitu riuh dan ceria.” Dan kau akan begitu merindukannya
Kelak kau akan sering menunggu dering telepon mereka untuk sekedar menanyakan “Apa kabarmu ibu, ayah?”

Dan kau akan begitu bersemangat menjawabnya dengan cerita-cerita tak penting hari ini
Kelak kau akan merindukan acara memasak makanan kegemaran mereka dan merasa sangat puas saat melihat hasil masakanmu tandas di piring mereka
Janganlah keegoisanmu hari ini akan membawa sesal di kelak kemudian hari
Kau takkan pernah bisa memundurkannya sekalipun sedetik untuk sekedar sedikit memperbaikinya
Karena waktu berjalan…
Ya… ia berlari…
Tidak…. ia bahkan terbang…
Dan dia tak pernah mundur kembali…

Mari kita sayangi anak kita sepenuh hati, selagi masih ada waktu.

Di balik anak yang besar ada ibu yang besar


  
IBUKU TAK SEPERTI PARA IBU

Seorang ibu yang biasanya merapikan kamar dengan tangan kanannya, ia mampu mengguncang dunia dengan tangan kirinya. Hati ibu bak lapangan paling luas atau samudera paling dalam bagi anak-anaknya. Dekapan ibu adalah tempat berteduh yang paling menentramkan.

Jamil az-Zahawi, “Generasi sebuah ummat tidak akan pernah hebat, jika para ibunya tidak mau peduli.”
Sedangkan penyair dari lembah Nil, Mesir, Hafidh Ibrahim menggubah syair, “Ibu adalah madrasah, yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu telah menyiapkan generasi yang kesatria.”

Para ibu sebenarnya adalah para arsitek peradaban sejati. Jika mereka cerdas dan cermat memainkan perannya, maka akan hadir dari sentuhannya generasi-generasi unggulan.

Dan inilah sepenggal kisah tentang lahirnya seorang ulama’ besar dari asuhan seorang ibu yang istimewa.

Namanya Robi’ah bin Abi Abdirrahman. Namun sejarah lebih mengenalnya dengan sebutan Robi’atur Ra’yi. Robi’ah artinya musim semi. Ro’yi artinya pendapat.

Orang yang idenya, pendapatnya, pemikirannya, selalu segar dan indah bagai musim semi. Genius. Tidak salah jika nama ini disandang oleh mufti besar kota Madinah di jamannya ini.
Robi’ah lahir tidak dalam keadaan yatim. Namun ia menjalani hari-hari layaknya anak yatim. Sejak kecil sampai tumbuh dewasa, orang yang sempat menimba ilmu dari Anas bin Malik ini murni hanya mendapat sentuhan kasih sayang dari ibunya.
Ayahnya pergi saat dia masih dalam kandungan sang ibu. Berangkat ke Khurasan untuk tugas perang selama dua puluh tujuh tahun. Waktu yang sangat panjang. Tanpa kabar. Tanpa berita. Masih hidupkah? Atau bahkan sudah syahid di medan laga? Tidak ada yang tahu pasti.

Akhirnya, ibunya lah yang harus berjuang, meski dalam kesendirian. Mendidik dan membesarkan Robi’ah kecil, hingga kemudian menjadi ulama’ paling cerdas saat itu.

Dari sinilah mahakarya sang ibu itu dimulai. Ketika ia menyuruh buah hatinya untuk menghafal al-Qur’an di Masjid Nabawi. Bisa dibilang, ini tradisi masyarakat muslim hari itu. Menyuruh anak menghafal al-Qur’an sebelum belajar ilmu yang lain. Dan di tangan seorang guru yang tulus, Robi’ah mampu menghafal al-Qur’an dalam usia yang masih sangat belia.

Selanjutnya, sang ibu menyuruhnya untuk mengikuti dengan baik halaqah-halaqah ilmu yang ada hari itu. Tidak kemana-mana. Cukup di Masjid Nabawi yang sampai hari itu terus memancarkan cahaya ilmu. Banyak halaqah disana. Selesai mengikuti satu halaqah ilmu, Robi’ah berpindah ke halaqah yang lain.

Dua puluh tujuh tahun berlalu. Waktu yang tidak sebentar untuk sebuah perpisahan. Farukh, begitu nama asli ayah Robi’ah, ternyata masih hidup. Ia pulang ke Madinah. Untuk melepas rindu. Berharap bisa berkumpul kembali bersama istri dan anaknya.

Setiba di Madinah. Tepat di depan rumahnya. Masih belum ada yang berubah. Sama seperti dulu. Hati semakin berbunga-bunga. Air mata berlinang. Tak kuasa lagi untuk segera menumpahkan seluruh gelora kerinduan yang sudah lama terpendam.

Tiba-tiba suasana menjadi berubah. Sepertinya kali ini Farukh harus menunda dulu nostalgianya. Ketika tatapan matanya tertuju pada sesosok lelaki yang tanpa canggung keluar masuk rumahnya. Pikirannya sudah kemana-mana. Mungkinkah sang istri telah menikah lagi setelah sekian lama ditinggalnya? Emosi membuncah. Tanpa ragu-ragu lagi Farukh menarik lelaki itu. Dan akhirnya, mereka berdua terlibat baku hantam.

Orang-orang di sekitar rumah ramai-ramai menghampiri. Mereka hendak melerai pertengkaran itu. Hadir pula Malik bin Anas disana. Suasana semakin tegang. Hingga akhirnya, istri Farukh keluar dari rumah. Samar-samar dia mengamati wajah yang seolah masih tidak asing baginya. Setelah yakin bahwa lelaki itu adalah Farukh, suaminya, ia segera berteriak melerai.
“Tahukah kamu, siapa dia?” tanya ibunda Robi’ah kepada Farukh.

“Tidak! Siapa?” sahut Farukh singkat.

“Dia adalah anakmu. Robi’ah!” jelas wanita itu.
Merekapun berpelukan. Menatap satu sama lain. Sungguh pertemuan yang dramatis.

Kini, lengkap sudah kebahagiaan dirasakan oleh istri Farukh. Suaminya telah kembali. Anaknya pun sudah dewasa.

“Istriku, dimana kamu menyimpan uangku yang 30 ribu Dinar dulu?” tanya Farukh sesaat setelah suasana keakraban kembali muncul.

“Dulu kamu menguburnya di sebuah tempat, dan aku telah mengambilnya.” jelas sang istri.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Robi’ah berjalan keluar rumah. Dengan pakaian rapi, ia hendak pergi menuju Masjid Nabawi. Kemudian wanita itu berkata kepada suaminya, “Sekarang, keluarlah untuk shalat di Masjid Nabawi. Nanti kita lanjutkan lagi.”
Farukh segera beranjak pergi menuju Masjid Nabawi. Selesai shalat, sebagaimana lazimnya, orang-orang berkumpul dalam halaqoh-halaqoh ilmu. Begitu juga Farukh yang setelah usai shalat tidak segera beranjak pulang. Hingga akhirnya pandangan matanya tertuju pada sebuah halaqah ilmu yang dihadiri banyak orang. Paling banyak bahkan dari sekian halaqoh ilmu yang ada. Iapun beranjak menghampiri halaqah itu, untuk sekedar memastikan, siapa guru yang akan menyampaikan ilmunya disitu. Pasti dia adalah seorang ulama’ yang istimewa. Farukh berjalan menghampiri, dan dengan sabar ia meminta jalan kepada orang-orang yang duduk berdesakan, sehingga bisa mendapat tempat didepan.

Ternyata, Robi’ah, puteranya, yang menjadi guru di halaqah itu. Rabi’ah tahu, ayahnya sedang berjalan mendekat kepadanya. Rabi’ah segera berpaling. Pura-pura tidak melihat. Farukh semakin penasaran, masih belum jelas, siapa sebenarnya ulama’ yang dikelilingi oleh murid paling banyak di Masjid Nabawi itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang di sampingnya.
“Kamu tahu, siapa orang itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah Rabi’ah yang sedang khusyuk menyampaikan ilmu.

“Itu adalah Robi’ah bin Abi Abdirrahman.”

“Sungguh, Allah telah memuliakan anakku.” katanya lirih. Air matanya ikut berlinang.

Farukh pulang ke rumah. Hatinya sangat bahagia. Segera ia menemui istrinya.

“Sungguh, aku melihat anakmu sangat dimuliakan, melebihi para ahli ilmu lainnya.” kata Farukh berapi-api, meluapkan seluruh kebahagiaannya kepada istrinya. Air mata kembali mengiringi obrolan tersebut.

“Kira-kira, mana yang lebih kamu sukai; uang 30 ribu Dinar atau kemuliaan anakmu sebagaimana yang telah kamu lihat?” jawab sang istri.
“Demi Allah, jelas aku memilih kemuliaan anakku.”

“Sungguh, aku telah menggunakan semua uangmu untuk membiayai kebesaran anakmu.” jelas sang istri.
“Demi Allah, kamu tidak menyia-nyiakan uangku.”
Begitulah kurang-lebih kisahnya.

Inilah salah satu contoh ibunda yang cerdas. Yang berorieantasi kepada kebesaran dan kehebatan buah hatinya. Banyak uang yang dimilikinya. Dan suaminya pun sedang tidak bersamanya. Namun ia tahu, bagaimana cara menginfestasikan uang itu. Ia gunakan untuk membiayai kebesaran anaknya di kemudian hari. Memang, kebesaran tidak dapat dibeli dengan uang yang banyak sekalipun. Buktinya, betapa tidak sedikit keluarga yang hidup dalam gelimangan harta, namun tidak mampu melahirkan generasi yang baik dan hebat. Karena materi hanyalah satu dari sekian banyak sarana yang ada. Yang lebih penting adalah pembentukan mentalitas yang luhur.
Dan benarlah langkah yang dilakukan oleh Ibunda Robi’atur Ra’yi. Karena pada akhirnya, anaknya benar-benar menjadi ulama’ besar di usia yang masih sangat belia. Kurang dari dua puluh tujuh tahun dari usianya, Robi’ah sudah menjadi guru besar di Masjid Nabawi, dengan halaqoh paling besar dan ramai. Dikelilingi oleh para senior ulama’ Madinah hari itu. Bahkan, banyak diantara muridnya yang kelak menjadi orang hebat sepertinya. Ada Malik bin Anas. Ada Laits bin Sa’ad. Ada Hasan bin Zaid. Ada Sufyan ats-Tsauri. Dan masih banyak lagi.
Dan yang sangat menakjubkan dari itu semua adalah sebuah pernyataan salah seorang muridnya, Malik bin Anas, tentang kebesaran dan kedalaman ilmu Rabi’ah. Ketika Robi’ah meninggal dunia di tahun 136 Hijriyah, Malik bin Anas berkata, “Kini telah hilang manisnya ilmu Fiqih.”
Mereka menjadi manusia besar dan hebat, disebabkan adanya sosok ibu yang istimewa.

Parentingnabawiyah.com

Budi Purnomo, Group Al Maarij

🌿🌻🍀🌿🌻🍀🌿🌻🍀

Sahabat,

Apakah arti kisah ini bagimu? bagaimanakah kisah ini mengetuk hatimu yang terdalam?

Kita membaca kisah ini bukan sebagai kebetulan. Allah lah yang menuntun kita membacanya. Kira-kira apa pesanNya dibalik kisah ini?

Apa yang Allah inginkan darimu dengan menuntunmu membacanya?

“Bukan aku tak mau menyampaikan cinta, aku tak tahu, Nak.” Catatan di Hari #Ayah 2015


  

Selamat Hari Ayah 2015.

Beberapa catatan penting yang kupelajari hari ini dari acara Peluncuran Materi Pengayaan Orangtua dan Guru PAUD adalah:

– Emosi negatif sudah menjadi bagian hidup anak Indonesia.  93% anak pernah mengalami tindak kekerasan di rumah atau sekolah (Save The Children, survey di 10 propinsi).

– 82% remaja menganggap orang tua otoriter, 50% pernah dihukum secara fisik, 39% mengatakan orang tua pemarah (FEKMI, 2003).

– Orang tua adalah pendidik terpenting, dan paling tak tersiapkan (Anies Baswedan).

– Kebanyakan orang tua mendidik berdasarkan rabaan, tradisi dan kebiasaan, bukan pengetahuan.

Catatan-catatan tersebut disampaikan oleh Ibu Ferry Farhati Baswedan sebagai latar belakang dari diluncurkannya program pengayaan orangtua dan guru PAUD ini.

Selanjutnya Ayah Irwan menyampaikan bahwa Indonesia masuk dalam kelompok Fatherless Country dan anak-anak Indonesia termasuk kelompok lapar ayah.

Menurut Ayah Irwan ada beberapa hal yang menyebabkan hal-ha di atas terjadi:

  • Orang tua memiliki masalah dalam mencintai dirinya sendiri. Hanya orang yang benar-benar mencintai dirinya mampu mencintai orang lain, termasuk keluarganya.
  • Orang tua memiliki tingkat stress yang tinggi, yang tak diselesaikan di luar rumah sehingga terlampiaskan pada keluarganya.
  • Orang tua tidak merasa perlu belajar untuk menjadi orang tua. Contoh dari orang tuanya sendiri yang menjadi acuan mereka mendidik anak, yang juga belum tentu berdasarkan ilmu atau panduan yang jelas.
  • Orang tua bukannya tidak mau mendidik dengan cinta, tapi tidak tahu, dan tidak mencari tahu. 

Demikian juga guru PAUD. PAUD adalah tempat anak tumbuh kembang di luar rumah. Guru-gurunya sebagian besar adalah ibu-ibu PKK yang belum tentu faham ilmu pendidikan anak usia dini.

Untuk itulah kami, Sanggar Fortune dan Komunitas Rumah Pencerah, meluncurkan materi-materi pengayaan ini, untuk memberikan panduan bagi orang tua, guru PAUD dan relawan dalam bidang pendidikan usia dini.

Ada lima nilai yang penting sekali untuk dianut orang tua dan guru dalam mendidik anak, yang disampaikan dalam materi-materi ini;

🌻 Cinta. 

Pendidikan anak wajib didasari cinta. Cinta perlu secara eksplisit dikatakan dan ditunjukkan secara fisik. Anak membutuhkan orang tua dan pengajar yang mampu membuatnya merasa dicintai. Cinta inilah yang akan menjadi modal baginya menyayangi dirinya sendiri dan orang lain di masa depan.

Ketidakmampuan orang tua menyampaikan cinta akan melahirkan anak yang gersang dan lapar. Ia akan sulit menjadi pemberi di masa dewasanya karena ia masih merasa “hampa” dalam hidupnya.

🌻 Visioner

Orang tua dan guru yang mampu bermimpi akan lebih mudah mendidik anak yang mampu bermimpi pula. Masa depan anak akan sangat ditentukan oleh kemampuannya bermimpi.

🌻 Semangat belajar

Anak sangat dinamis. Orang tua perlu memberikan bimbingan secara dinamis pula. Apa yang baik di masa kita kecil belum tentu dapat diterapkan pada anak-anak kita. Belajarlah terus untuk menentukan metode terbaik khusus untuk anak kita, karena tiap anak unik. Kegemaran belajar juga akan ditiru anak, modal penting bagi masa depannya.

Orang tua yang tak mampu menandingi dinamika anak akan membuat anak membutuhkan stimulan di luar orang tua, antara lain gadget.

🌻 Relijius

Agama adalah dasar segalanya. Inilah manual hidup paling dasar bagi orang tua untuk mendidik anak. Bagaimana orang tua dapat mendidik anak menjalankan manual hidup ini kalau mereka sendiri tak menguasainya.

🌻 Kehadiran

Banyak orang tua tak hadir saat anak membutuhkannya sehingga mereka mencari figur lain. Sayangnya figur ini banyak didapat dari asisten rumah tangga yang juga belum tentu tahu dinamika pengasuhan anak.

Pada saat tak ada yang hadir, anak dapat mengalami krisis yang berdampak panjang di masa depannya.

  

Marilah kita simak puisi Kahlil Gibran mengenai anak di bawah ini.

Anak

Anakmu bukanlah milikmu,mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau.

Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian.

Dia merentangkanmu dengan kuasaNya, hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah, sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Yuk, sama-sama kita bantu anak-anak Indonesia tumbuh lebih berdaya.

Bagi yang ingin:

  • menyelenggarakan pelatihan orang tua dan guru PAUD
  • pesan materi “Menjadi Orangtua Cerdas” atau 
  • bertanya seputar materi “Guru Cahaya Masa Depan” bisa hubungi Esvy di +6285697403656.

Pembayaran dilakukan melalui rekening Mandiri a.n Komunitas Rumah Pencerah 101-00-0735655-1

Kemudian mengirimkan bukti transfer melalui :

WA/Telp : +6285697403656

Line : aspary

e-mail : esvy@rumahpencerah.org

Buku bisa diambil di KRP (Dengan membuat janji terlebih dahulu) atau dikirim dengan Go-Jek (Satu hari) atau JNE (2-3 hari)

*harga buku belum termasuk biaya pengiriman

Satu kebaikan dapat menimbulkan kebaikan lain. Kebaikan apa yang akan kau mulai hari ini?


  
🌸Kisah Salaf🌸
RIWAYAT SEDEKAH 
🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
Seorang kakek tiba-tiba muncul ketika Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabatnya di dalam masjid selepas mengerjakan shalat jamaah.

“Wahai, Rasulullah. Saya sangat lapar. Tolonglah saya. Dan saya tidak punya pakaian kecuali yang menempel di badan sekarang. Berilah saya.”

Sebenarnya Rasulullah sangat iba menyaksikan keadaan orang tua itu. Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan tangannya agak gemetar memegangi tongkatnya. Cuma kebetulan beliau sedang tidak punya apa-apa. Sudah habis diberikannya kepada orang lain.

“Maaf, orang tua. Tidak ada yang dapat saya berikan saat ini. Tetapi jangan putus asa. Datanglah kepada anak saya, Fatimah, mungkin ada sesuatu yang bisa diberikannya sebagai sedekah.”

Maka pergilah kakek itu kepada Fatimah. Didepan rumahnya kakek itu berseru, “Wahai putri Rasulullah. Aku lapar sekali. Dan tidak punya apa-apa. Aku datang kepada ayahmu, tetapi beliau sedang tidak punya apa-apa. Aku disuruhnya datang kepadamu. Mungkin engkau, punya sedekah untukku?”

Fatimah kebingungan. Ia tidak memiliki barang yang cukup berharga untuk disedekahkan. Padahal, selaku keluarga Rasulullah ia telah terbiasa menjalani hidup amat sederhana, jauh di bawah taraf kehidupan rakyat jelata. Yang dianggapnya masih lumayan berharga cuma selembar kulit kambing yang biasa dipakai sebagai alas tidur Hasan dan Husain. Jadi, itulah yang diambil dan diserahkanya kepada si kakek.

Orang tua itu lebih kebingungan daripada yang memberikannya. Ia sedang lapar dan tidak punya apa-apa. Mengapa kepadanya diserahkan selembar kulit kambing? Buat apa?

“Wahai Putri Rasulullah. Apakah kulit kambing itu dapat mengenyangkan perutku dan dapat kupakai untuk menghangatkan badanku?” tanya orang tua itu.

Fatimah tidak bisa menjawab. Ia kembali masuk kedalam rumahnya, mencari-cari benda lain yang pantas disedekahkan. ia bertanya-tanya, mengapa ayahku mengirimkan orang ini kepadaku, padahal Ayah tahu aku tidak lebih kaya daripada beliau? Sesudah termenung sejenak barulah ia teringat akan seuntai barang pemberian Fatimah binti Abdul Muthalib, bibinya. Barang itu amat indah, namun ia merasa kurang pantas memakainya karena ia dikenal sebagai pimpinan umat. Barang itu adalah sebuah kalung emas.

Buru-buru diambilnya benda itu dari dalam kotak simpanannya, lalu diserahkan kepada si kakek. Orang itu terbelalak melihat benda yang kini digenggamnya. Begitu indah. Pasti amat mahal harganya. Dengan suka cita orang itu pergi menemui Rasulullah kembali di masjid. Diperlihatkannya kepada beliau kalung emas pemberian Fatimah. Rasulullah hanya berdoa, “Semoga Allah membalas keikhlasannya.”

Salah satu sahabat nabi yang kaya raya, Abdurrahman bi Auf, berkata, “Hai, orang tua. Maukah kaujual kalung itu kepadaku?”

Kakek itu menoleh kepada Nabi, “Bolehkah saya jual, Ya Rasul?”

“Silakan, kalung itu milikmu,” sahut Nabi.

Orang tua itu lantas berkata kepada sahabat Abdurrahman bin Auf, “Berikan kepadaku beberapa potong roti dan daging untuk mengganjal perutku, dan sekedar biaya kepulanganku ke kampung.”

Abdurrahman bi Auf mengeluarkan duapuluh dinar dan seratus dirham, beberapa potong roti dan daging, pakaian serta seekor unta untuk tunggangannya ke kampung.

Dengan gembira kakek itu berkata, “Terima kasih, wahai kekasih Allah. Saya telah mendapatkan lebih daripada yang saya perlukan. Bahkan saya telah merasa menjadi orang kaya.”

Nabi menjawab, “Terima kasih kepada Allah dan RasulNya harus diawali dengan berterimakasih kepada orang yang bersangkutan. Balaslah kebaikan Fatimah.”

Orang tua itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas, “Ya Allah, aku tak mampu membalas kebaikan Fatimah dengan yang sepadan. Karena itu aku mohon kepadaMu, berilah Fatimah balasan dari hadiratMu, berupa sesuatu yang tidak terlintas di mata, tidak terbayang di telinga dan tidak terbetik di hati, yakni surgaMu, Jannatun Na’im.”

Rasulullah menyambut doa itu dengan amin seraya tersenyum ceria.

Beberapa hari kemudian, budak Abdurrahman bin Auf, bernama Saham datang menghadap Nabi sambil membawa kalung yang dibeli dari orang tua itu.

“Ya Rasulallah,” ujar Saham. “Saya datang kemari diperintahkan Tuan Abdurrahman bin Auf untuk menyerahkan kalung ini untukmu, dan diri saya sebagai budak diserahkannya kepadamu.”

Rasulullah tertawa. “Kuterima pemberian itu. Nah, sekarang lanjutkanlah perjalananmu ke rumah Fatimah, anakku. Kalung ini tolong serahkan kepadanya. Juga engkau kuberikan untuk Fatimah.”

Saham lalu mendatangi Fatimah dirumahnya, dan menceritakan pesan Rasulullah untuknya. Fatimah dengan lega menyimpan kalung itu di tempat semula, lantas berkata kepada Saham, “Engkau sekarang telah menjadi hakku karena itu, engkau kubebaskan. Sejak hari ini engkau kembali menjadi orang merdeka.” Saham tertawa nyaring sampai Fatimah keheranan, “Mengapa engkau tertawa?”

Bekas budak itu menjawab, “Saya gembira menyaksikan riwayat sedekah dari satu tangan ke tangan berikutnya. Kalung ini tetap kembali kepadamu, wahai putri junjungan, namun karena dilandasi keikhlasan, kalung ini telah membuat kaya orang miskin, telah menjamin surga untukmu, dan kini telah membebaskan aku menjadi manusia merdeka.”

(Ditulis ulang dari 30 Kisah Teladan, oleh Alm. K.H Abdrrahman Arroisy. Semoga menjadi amal jariyah beliau yang tak usang oleh masa, Aamiin).

💐💐💐💐💐

Berbagai kebaikan dapat muncul diawali dengan sebuah kebaikan.

Apakah hal paling sederhana yang dapat anda lakukan saat ini untuk memulai sebuah rantai kebaikan?

Bagaimanakah anda dapat terus melakukannya setiap hari agar setiap hari ada rantai-rantai kebaikan baru yang anda mulai?

Semoga Allah ridloi semua kebaikan tersebut dan menjadikannya jalan menuju surgaNya bagi anda.

Aamiin yra

Anak bisa jadi pembatal orang tua masuk surga 


 

Bismillah …

Ada seorang anak, yang dimasa kecilnya begitu lucu, menggemaskan, rajin, pintar, dan cerdas, serta hal-hal baik lainnya melekat ada pada diri anak tersebut. Pendidikan parenting yang diperolehnya di masa kecil begitu baik. Di sekolah prestasinya juga menonjol.

Sayangnya, saat ia beranjak remaja kondisi tersebut pelan-pelan berubah, sifat buruknya lebih dominan dari sifat baiknya. Sang anak menjadi pribadi yang berani menentang hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia mengusung nilai-nilai liberalisme yang menghendaki kebebasan individu dalam segala bidang, sehingga kehidupannya pun jauh dari nilai-nilai agama. Demikian berlanjut terus ke perjalanan hidupnya di masa tuanya.
Mengapa kondisi akhirnya bisa seperti itu?

Apakah resikonya kelak di akhirat hanya ditanggung sendiri oleh anak?

Mari kita bahas.

Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang orangtua yang sudah divonis masuk surga, tetapi kemudian dibatalkan dalam pengadilan akhirat hingga akhirnya dia masuk neraka bersama anaknya. Itu terjadi karena anaknya menggugat orangtuanya yang tidak pernah memperhatikan agamanya sewaktu di dunia, sementara orangtua sibuk dengan urusan ibadahnya atau dunianya sendiri.
Sebagai pengantar jurnal, dan mengenang gaya tausiyah yang kocak dari alm. KH. Zainuddin MZ, berikut ini saya cuplikkan tausiyah beliau mengenai hal ini.

Sampai sekarang saya tidak tahu apakah cerita tersebut derajatnya shahih ataukah tidak? Karena saya belum pernah menemukannya pada hadist Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, yang jelas makna yang terkandung di dalamnya sama sekali tidak bertentangan dengan makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur`an dan hadits-hadits shahih. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

[QS At-Tahriim: 6]

Tentang ayat ini dalam kitab tafsir Ath-Thabari, Qatadah berkata: “Perintahkan mereka untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya. Bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah. Apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan, maka tegurlah!”

Ibnu Jarir berkata: “Kita wajib untuk mengajarkan anak-anak kita tentang agama Islam, kebaikan dan adab!”

Sedangkan Ibnu Umar berkata: “Didiklah anakmu, karena kelak kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”

Dari penjelasan para mufassir tersebut, dapat dipahami bahwa ayat ke-6 dari QS At-Tahriim itu merupakan sebuah perintah tegas kepada seorang Muslim untuk menjaga keluarganya dari siksa api neraka, yaitu dengan cara memperhatikan pendidikan agama mereka dan selalu memperhatikan tindak-tanduk mereka. Namanya kewajiban, maka bila perintah tersebut tidak dipatuhi dengan baik oleh seorang Muslim, tentu ada konsekuensi yang akan dia dapatkan di akhirat nanti.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dipimpinnya.”

[HR Bukhari dan Muslim]

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa bila seorang Muslim tidak mendidik anaknya dengan baik, maka kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas tugasnya di dunia itu, dan tentunya ada konsekuensi yang akan dia dapatkan.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga. Kelak ia akan berkata, ’’Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?” Dijawab-Nya, “karena permohonan ampunan anakmu untukmu.”

[HR Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Ibn Katsir]

Bila seorang hamba mendapatkan hasil yang baik (di akhirat) karena dia telah mendidik anaknya dengan baik sehingga menjadi anak shaleh yang berdo’a memohonkan ampunan untuknya (hanya do’a anak shaleh yang diterima, saat pintu amal terputus, saat di alam barzah); maka dapat dipahami secara mafhum mukhalafah (pengertian terbalik), bahwa seorang hamba juga akan mendapatkan hasil yang tidak baik (di akhirat) karena lalai dalam memperhatikan dan mendidik anaknya.

Jadi, hati-hati bahwa anak bisa menjadi pembatal orangtua masuk surga.
Secara umum, Parenting adalah upaya terbaik yang ditempuh oleh orangtua dalam mendidik anak dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Untuk masa anak-anak, pendidikan parenting lebih ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan antara orangtua dan anak yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti: memberi makan (nourishing), memberi petunjuk (guiding), dan melindungi (protecting) anak-anak ketika mereka tumbuh berkembang.

Sedangkan parenting untuk usia remaja sebaiknya lebih ditekankan pada proses interaksi berkelanjutan yang meliputi aktivitas-aktivitas seperti: membekali dengan ilmu yang bermanfaat (enlightening), memberi petunjuk dan nasehat (coaching + counseling), dan melindungi (protecting) anak-anak dari serbuan perang pemikiran atau perang akidah. Ada sebuah petuah bijak:


“You will be the same person in five years as you are today except for the people you meet and the books you read.”

[Charlie “Tremendous” Jones]

Dengan demikian, orangtua seharusnya tidak lalai memperhatikan kualitas pergaulan anaknya, juga peduli dengan buku-buku bacaan anaknya. Tidak dengan kekuatiran yang berlebihan, namun bersama-sama belajar mengelolanya, agar tidak tumbuh benih-benih kebencian dalam kehidupan sosial yang majemuk.
Sungguh, betapa tidak akan ada artinya ketika anak telah berhasil meraih berbagai prestasi yang membanggakan, namun pondasi dasarnya rapuh. Hal ini bisa menjadi bom waktu bagi anak di usia dewasanya kelak, yang juga berdampak pada orangtuanya.

Lihatlah berbagai kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme yang banyak merugikan negara.

Lihatlah penjara-penjara kriminal banyak diisi oleh para terdidik.

Lihatlah kasus perzinaan, perselingkuhan, dan perilaku seksual menyimpang.

Lihatlah kasus anak tidak dianggap lagi oleh orangtuanya karena akidahnya telah digadaikan (murtad).

Lihatlah episode kehidupan dimana ada anak yang terbelenggu kesibukan duniawi tidak lagi peduli dengan orangtuanya yang telah berusia senja.

Lihatlah kasus mereka yang terperosok mengikuti aliran sesat, yang selain menggerogoti iman juga merongrong finansial serta merusak keutuhan keluarga.

Padahal, semuanya tampak baik-baik saja pada awalnya. Namun nyatanya, “life begin at 40″ diisi dengan gundah gulana, tiada kedamaian hati.
Sebelum semuanya terlambat, pandanglah anak-anak kita hari ini.

🌹 Sudahkah kita memperlakukan anak kita dengan baik?

🌹 Sudahkah kita menginvestasikan waktu yang berkualitas bersama mereka?

🌹 Sudahkah kita mengetahui harapan-harapannya?

… impiannya?

… keinginannya?

yang semuanya dibarengi dengan bekal ilmu yang bermanfaat dari orangtuanya?

Mari susun game plan pertanggung-jawaban terhadap titipan yang telah diamanahkanNya kepada kita.

Di dunia luar, anak diberikan pendidikan teknis (akademis) untuk masa depannya yang gemilang. Di dalam rumah, diimbangi dengan pendidikan karakter dari orangtuanya, karena itu telah menjadi kewajiban atas perintahNya. Anak-anak muslimin yang tidak berkarakter adalah mangsa empuk racun pemikiran.
Wallaahu a’lam bish-showab
Salam hangat tetap semangat,

Iwan Yuliyanto

05.02.2014
http://iwanyuliyanto.co/2014/02/05/anak-bisa-menjadi-pembatal-orangtua-masuk-surga/

🌹🌹🌹

Sungguh menyentak tulisan Mas Iwan ini.

Karena ini urusan keselamatan kita di akhirat yang abadi nanti, penting sekali bagi kita untuk memperhatikan dan memprioritaskan urusan ini.

Seringkali Ayah menyerahkan semua urusan pendidikan kepada Ibu. Padahal jelas-jelas ayahlah yang akan dimintai pertanggungjawaban pertama kali sebagai kepala keluarga.

Seringkali orang tua menyerahkan semua urusan pengasuhan anak kepada pengasuh di rumah, pembantu atau baby sitter. Padahal jelas-jelas mereka semua hanya asisten, bukan penanggung jawab utama. Sayang sekali kalau pendidikan dan masa depan anak – yang juga menjadi masa depan kita – kita serahkan sepenuhnya pada mereka, bukan?

Seringkali pula orang tua menyerahkan segala urusan pendidikan anak pada guru atau sekolah. Padahal jelas-jelas rumahlah tempat utama anak belajar, dan sekolah melengkapi dalam hal akademis.

Seringkali orang tua salah kaprah menganggap keberhasilan pendidikan anak terletak pada keberhasilan mereka menggondol gelar sarjana. Padahal jelas-jelas Allah mengatakan bahwa yang nomor satu paling penting adalah iman dan akhlak.

Demi masa depan mereka, demi masa depan kita semua, demi ridloNya yang menjadi kunci kebahagiaan dan keselamatan kita semua sekeluarga di bumi dan akhirat, marilah kita prioritaskan urusan pendidikan anak kita.

🌹 Jadi, apakah hal terkecil yang dapat kita lakukan mulai hari ini untuk membangun anak pewaris surga?

🌹 Bagaimanakah agar kita dapat terus meningkatkan usaha tersebut setiap hari?

🌹 Mengapa hal itu penting bagi kita?

Anak adalah cerminan gaya komunikasi orang tuanya. Bagaimana kita bisa berkomunikasi lebih baik dengan anak?


  
Sahabat blog terkasih,

Anak adalah amanah, tugas dari Allah. Kesuksesan mereka lahir batin, dunia akhirat, akan ditanya oleh Sang Pencipta dan harus kita pertanggungjawabkan. Baik tidak nya anak terpulang pada kita. Jangan marah kalau anak melakukan hal yang tidak kita suka karena anak adalah cerminan kita.

Simak paparan Bu Elly Risman pada hari Sabtu, 10 Januari 2015, @SACikeas, yuk. Semoga berkah dan bermanfaat ya.

🌹🌹🌹🌹🌹

Mendidik anak dengan baik, benar dan menyenangkan

Saat ini kebanyakan kita ternyata tidak siap jadi orangtua. Jika kita salah mengasuh anak kita sekarang, maka kita akan salah mengasuh cucu kita.

Mengapa kita tidak siap menjadi orang tua? Karena kita tidak menguasai tahapan perkembangan anak dan menguasai cara otak bekerja. Misalnya:

  • kapan anak boleh dikasih hp?
  • umur berapa anak boleh didudukan menonton tv?

Anak dibawah usia 3 tahun tidak boleh terpapar TV, karena anak usia tersebut memerlukan waktu 4-6 detik untuk memamah perubahan warna, gambar dan suara. Sedangkan pada TV perubahan itu terjadi 2-3 detik, sehingga dapatmenyebabkan kerusakan otak anak batita.

Banyak orang tua yang meletakkan anak batita di muka TV selama berjam-jam karena ingin mengajak anak belajar. Atau lebih parah lagi, karena tidak mau repot. Acara apa yang ditonton pun belum tentu dicek.

Itu baru urusan menonton TV. Belum yang lainnya.

Kita perlu mengetahui tahapan perkembangan anak, juga cara otak anak bekerja pada usia yang berbeda-beda. Apa yang kita lakukan dapat membangun atau merusak otak dan kepribadian anak yang tentunya berdampak panjang di masa depan anak.

Cara berkomunikasi dengan anak 

Cara kita berkomunikasi dan bahasa tubuh kita sangat berpengaruh pada perkembangan anak kita. Cara bicara yang salah dapat:

1. Melemahkan konsep diri anak 
2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama.
3. Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak.
4. Melemahkan kemampuan berfikir 
5. Melemahkan kemampuan memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri.
6. Menimbulkan rasa iri berkepanjangan yang dapat menimbulkan kesan “dunia tidak adil” sampai dewasa.

Danpak-dampak ini akan lebih besar dan lebih buruk daya rusaknya kalau sampai ada aspek emotional atau verbal abuse. 

Anak-anak yang mengalami hal-hal di atas cenderung berfikir negatif. Dan parahnya hal ini dapat terus terjadi di 40 tahun (krisis usia separuh baya). Mereka tidak hanya perlu dipeluk badannya tapi juga jiwanya. 

Dua hal yang perlu diingat terlebih dahulu sebelum memulai komunikasi yang baik dan benar:

🌸 Bila hati senang, otak akan menyerap lebih banyak. Jadi buatlah hati anak senang dulu sebelum berkomunikasi.

🌸 Banyak senyum. Ketika senyum, otot pipi bergerak.  Ini membuat otak dingin dan mengeluarkan seretonin (anti agresivitas). Tidak mungkin pula orang tua marah kepada  anak sambil senyum. 

Komunikasi orang tua yang tidak efektif:

🌸Bicara tergesa-gesa.
 Waktu terbatas, bicara panjang, sambil marah-marah dan muka kencang tanpa  plus tidak senyum.

🌸 Kurang kenal diri sendiri dan tidak introspeksi. Anak selalu disalahkan tanpa mau melihat porsi kesalahannya sendiri

🌸 Lupa kalau setiap individu itu unik dan tiap anak unik (QS. 3:6) dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, tak dapat dibandingkan.

🌸 Tidak mengerti perbedaan kebutuhan dan kemauan.
Kebutuhan dan kemauan bisa berbeda karena individunya berbeda, masanya pun berbeda. Rasulullah mengatakan didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.

🌸 Tidak mau memahami anak: 

  • Tidak membaca bahasa tubuh.
  • Tidak mendengar perasaan
  • Kurang mendengar aktif

🌸 Melakukan parentogenik (penyakitnya ortu) yaitu 12 gaya populer.
1. Memerintah
2. Menyalahkan
3. Meremehkan
4. Membandingkan
5. Mencap/melabel
6. Mengancam
7. Menasehati
8. Membohongi
9. Menghibur
10.Mengeritik
11. Menyindir
12. Menganalisa

12 gaya populer ini adalah gaya yang menghambat komunikasi. Ketika kita menggunakan gaya ini anak langsung mengalami hambatan untuk memahami.

Anak yang terlalu sering menerima bentakan, kemarahan dan nasehat panjang yang mengabaikan perasaannya. Maka anak akan merasa terpojokkan. Dampak kedepannya ketika anak sudah besar kalo tidak melawan atau diam. Susah diajak kerjasama.

🌸 Selalu menyampaikan “pesan kamu.” Contoh: “kamu sih…sudah mama bilang….”

🌸 Tidak memisahkan “masalah siapa” dan langsung memarahi tanpa analisa.

Nah, sekali lagi, anak kita adalah cerminan diri kita, gaya komunikasi kita, kelebihan dan kekurangan kita. Marilah kita lihat apa yang harus diperbaiki. Dan mulailah memperbaiki diri sebagai orang tua, bukan mulai dengan memarahi anak. Ingatlah selalu bahwa kita akan mempertanggungjawabkan semua ini suatu hari nanti.

Semoga anak kita dapat menjadi sumber bahagia dunia dan akhirat. Aamiin yra.

🌸