Skip to content

Mensyukuri “ketidakbisaan”

🌸Gratitude Journal – 2 Mei 2019

Ramadan hampir habis. Lebaran sudah tercium baunya, sudah ramai bunyinya. Dan akupun terhenyak. Bagaimana Ramadlanku?

Ramadlan bagi kami selalu spesial. Sebelum masuk Ramadlan kami sudah punya rencana detil mau apa saja Ramadlan, apa yang sama-sama, apa yang pribadi. Dan bagaimana semua saling support. Seru, penuh petualangan, penuh kesan dan cerita.

Tapi Ramadlan kali ini beda.

Aku sibuk dengan berbagai treatment, terapi dan dokter. Hana sibuk ujian. Abang sibuk nyaleg dan berbagai urusan lain. Aku di Purwakarta, Hana sekolah di Jakarta. Ayah bolak balik deh. Jadi yang biasanya kita lakukan bersama tak lagi bisa jadi cerita tahun ini.

Itu mau Allah. Itu kondisinya. Artinya itu pula yang harus kita syukuri, nikmati dan cari hikmahnya.

Sempat sedih saat tadi menyadari kok minimalis banget ibadah bersama kami sebagai keluarga.. juga aku sebagai pribadi. Tapi kalau memang ini maunya Allah, artinya memang itu yang terbaik yang harus dijalani. Bersyukur saja untuk Ayah, Hana dan diriku pribadi. Enjoy aja.

Mungkin bukan lagi jumlah Quran yang bisa dibaca, atau tulisan yang bisa ditulis, dan yang bisa di share. Mungkin saatnya untuk mensyukuri bahwa aku masih bisa membaca, menulis dan berbagi. Seminim apapun, sebisanya.

Mungkin bukan lagi bisa mengingatkan Ayah atau Hana, tapi mensyukuri bahwa minimal mereka semua masih bisa beribadah dengan sangat baik dan tekun, tanpa dukunganku sama sekali.

Mungkin ini saatnya bisa menikmati ketidak bisaan.

Mungkin ini saatnya untuk hapus semua sombong, congkak dan merasa mampu.

Mungkin ini saatnya untuk merunduk dan menyadari kehambaan kita di hadapanNya yang memberi dan mengambil. Mensyukuri yang diberi tanpa merasa melekat, mensyukuri pula saat ia diambil. Tetap yakin bahwa ini semua adalah skenario Sang Maha Pengasih Penyayang.

Kalau dulu pelajaran ibadah Ramadlan itu seperti apa yang ada di berbagai buku, kini pelajaran ibadah Ramadlan ku ada di dalam hati. Bertumpu pada rasa syukur yang minta untuk selalu hadir dalam setiap situasi. Dan pada kata Alhamdulillah yang ingin selalu ada pada bibir. Dua hal inilah guruku kali ini.

Dan rasanya ini pelajaran advance bagiku. Buat banyak orang ini harus dijalani sejak kecil. Aku baru sekarang Allah beri pelajarannya. Better late than never. Kusyukuri timing ini. Alhamdulillah.

Seru kali game hidup Ramadlan kali ini. Level kesulitannya… lumayaaaaan. Mantul. Alhamdulillah.

Barulah aku bisa menyadari bahwa Ramadlan kali ini memang sungguh seru, justru karena ini begitu sepi dari rutinitas dan jamaah. Karena ini saatnya aku “meneng” belajar dalam heningnya diri, di bawah bimbinganNya.

Alhamdulillah.

Terima kasih untuk semua keluarga, saudara, sahabat, teman, mentor, coach, guru yang telah menjadikanku diriku apa adanya. Terima kasih kehadirannya dalam perjalananku. Semoga apapun yang kualami ini bisa punya arti bagi semua yang membacanya. Aamiin yra.

I love you all, I’m sorry, please forgive me

Thank you all.

Aku, Indira Abidin, bersyukur dan berjanji menjalani hari dengan bahagia, dengan izinNya, bersama-sama.

Bismillah….

🌸🍀🌸🍀🌸🍀

1 Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: