Skip to content

Saat musibah membuka pintu naik kelas

Nabi Adam as tidak menyalahkan iblis saat ia dikeluarkan Allah dari surga karena memakan buah terlarang setelah termakan tipu daya iblis.

Nabi Adam as tak pula menyalahkan Hawa yang ada di sisinya karena tak mengingatkan.

Nabi Adam hanya meminta maaf atas kesalahannya dengan doa yang abadi sampai sekarang:

“Rabbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.”

“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Doanya menginspirasi semua umat manusia dan kesalahannya yang dibayar dengan pembersihan di muka bumi pun menjadikannya mulia. Nabi Adam pun menjadi awal dari semua peradaban di muka bumi.

Bagaimana denganku?

Saat ada yang salah kucari siapa yang bisa jadi kambing hitam. Kucari pula orang yang harusnya bisa mencegah kesalahan itu terjadi. Dia pula ikut kena salah. Bahkan pemerintah pun bisa kena damprat.

Tapi ternyata saat yang salah ada di luar aku tak bisa menemukan apa yang harus menjadi lebih baik. Saat yang harus berubah orang lain, ternyata power pindah pula ke tempat lain.

Ternyata begitu aku mau mengambil tanggung jawab, mencoba mengganti pola pikir, perilaku, kata-kata yang usang dengan yang lebih baik, ternyata aku menjadi lebih powerful.

Dan dengan minta maaf dan memaafkan ternyata posisiku jadi pindah ke atas. Karena tangan di atas selalu lebih baik dan lebih enak.

Seperti Nabi Yunus yang menyalahkan kaumnya karena menolak pesannya. Lari dari kaumnya yang membuatnya dihukum Allah di dalam perut ikan.

Baru di sanalah ia menyadari bahwa sesungguhnya semua terpulang padanya. Barulah ia tobat dan sadar akan apa yang harus diubah. Barulah Allah memberikan jalan keluar. Ia pun keluar dari perut ikan dan disambut meriah oleh kaumnya.

Doanya pun abadi sepanjang masa:

“Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin.”

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya).

Baginya perut ikan adalah hukuman sekaligus ruang kelas. Di sanalah ia menjadi lebih baik dan dikeluarkan dari gelap.

Saat azab, musibah dan bencana kita jadikan sebagai kesempatan memperbaiki diri, pada saat itulah azab, musibah dan bencana menjadi karunia.

Kusyukuri musibah yang Allah berikan padaku. Darinya baru kutahu apa yang harus kubersihkan.

Kusyukuri azab yang tengah melanda diriku, darinya kusadar bahwa aku masih bisa naik kelas di dunia dan akhirat. Karena azab dunia bisa menyelamatkan diri dari azab sesungguhnya di akhirat. Dan saat azab dunia bisa disyukuri maka apapun dalam hidup bisa berjalan lebih indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: