Skip to content
Advertisements

Jangan sakiti Allah dengan anggapan “sial”

tauhid(2)

Dulu sebelum mengadakan perjalanan orang Arab melepas burung dan melihat arahnya. Kalau burung terbang ke kanan mereka akan langsung berjalan, dan kalau ke kiri mereka akan membatalkan perjalanan karena takut sial. Nah, Rasulullah saw lalu memperingatkan:

“Barang siapa yang membatalkan keperluannya karena merasa sial, maka ia telah berbuat
syirik.” (HR. Ahmad dengan derajat hasan).

Ada kalender yang isinya adalah hari baik, hari sial, bulan baik dan bulan sial. Kita juga sering dinasehati untuk melakukan hal tertentu hanya di bulan tertentu dan tidak di bulan tertentu, karena alasan “sial” atau celaka. Allah pun melarang hal ini:

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: ​ “ ​Allah ta’ala berkata: “Keturunan Adam menyakitiKu, mereka mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, (yaitu) aku yang membolak-balikkan siang dan malam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Waktu Nabi Musa as dikirim Allah untuk memberi peringatan pada Firaun, ada banyak sekali kejadian, bencana dan musibah yang terjadi karena Firaun “bandel” tak mau mendengar peringatan Nabi Musa as. Maka Nabi Musa as pun disebut sebagai “pembawa sial” yang menyebabkan bencana tersebut muncul. Mengenai hal ini Allah berfirman:

“Kemudian apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami.” Dan apabila mereka ditimpa kesusahan, merekalemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” ​(Al-A’raf : 131).

Nah, jadi marilah kita berhenti mengatakan “sial” pada hari, bulan, tahun, atau apapun, apalagi orang. Sungguh sangat tidak benar, karena apapun terjadi bukan karena hari, bulan, tahun atau orang, tapi karena ketetapan Allah swt. Ini adalah salah satu aspek tauhid yang penting kita jaga.

Solusi dari resah akibat “takut sial” adalah tawakal:

“Rasa sial itu kesyirikan 2x. Tidak ada di antara kami yang bisa mencegahnya muncul dalam benak. Akan tetapi Allah yang menghilangkannya dengan tawakal kami kepadaNya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dan untuk itu Rasulullah saw mengajarkan doa sebagai berikut:

“Allahumma laa khaira illaa khairuk, wa laa thaira ilaa thairuk, wa laa ilaaha ghairuk.” Artinya: ​“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang Engkau datangkan, tidak ada kesialan kecuali sudah Engkau tetapkan, dan tidak ada sesembahan selainMu.” ​(HR Ahmad).

Yuk, kita tegakkan tauhid dalam hati kita sesuai tuntunan Quran dan hadits di atas. Semoga hal ini bisa mengantarnya pada keselamatan dunia akhirat. Aamiin yra.

Advertisements

1 Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: