Skip to content
Advertisements

Perbedaan itu indah saat menjadi jalan untuk kasih

kindness

Sahabat,

Ada kisah indah yang dikirim pamanku, Oom Syarifudin, hasil karya @surabaya. Kisah ini menggambarkan betapa indahnya perbedaan. Allah ciptakan hamba-hambaNya dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang sedang butuh, ada yang sedang berkelebihan.

Yang butuh berserah diri hanya padaNya, pada yang berjanji mencukupi hidup semua hambaNya. Yang berkelebihan diber ganjaran berlipat-lipat. Semua sesuai janjiNya bagi mereka yang saling mencintai dalam jalanNya. Perbedaan inilah yang mempertemukan, dan perbedaan inilah yang menjadi jalan kasihNya mengalir dengan indahnya.

Kita tak pernah tahu kapan sebuah bantuan, yang mungkin tak seberapa bagi kita, bisa menjadi jalan kasih Allah yang mengubah hidup orang lain, dan menjadi jawaban atas doa-doa mereka. Sedikit saja pemberian kita adalah cara Allah mengabulkan doa yang disampaikan melalui doa di malam-malam yang sunyi, dengan penuh derai air mata, dan tangan yang menengadah ke langit. Penuh harap hanya padaNya. Dan Allah pilih kita sebagai kepanjangan tanganNya.

Yuk kita simak yuk.

——

Ini kisah nyata yang dialami Pak Ustad Uyad Albantani.
Sekitar tahun 2014, Ustad Uyad Albantani (Uy) mendapat undangan ceramah keluar kota, berangkatlah beliau dari rumah menuju bandara Soekarno-Hatta dengan taksi.
Sepanjang perjalanan beliau ngobrol dengan pak supir (ST);

Uy: “Ngomong-ngomong, udah berapa lama nyupir taksi pak?”
ST: “Ow belum lama, Pak. Baru beberapa bulan saja.”
Uy: “Ooh gitu, emang sebelumnya kerja dimana?”
ST: “Dulu sempat kerja di perusahaan perkapalan di Surabaya pak, kebetulan dulu pernah ambil Tehnik Mesin di ITS, trus perusahaannya bangkrut, jadi saya kena PHK. Lama nganggur di Surabaya akhirnya saya putuskan pindah ke Jakarta.”
Uy “Wah, sayang sekali ya, ngomong-ngomong anak sudah berapa?”
ST: “Alhamdulillah sudah 4 pak, yang besar malah sudah mau tamat SMA.”
Uy: “Oh gitu, kalo boleh tau, narik taksi sehari bersih bisa dapet berapa sih?”
ST: “Ya alhamdulillah Pak, kalo dirata-rata sehari bisa dapet tujuh puluh lima ribu, kalo lagi rame bisa sampe seratus lima puluh ribu, dan gak tentu jugalah pak.”
Uy: “Oh ya, tapi sebelumnya mohon maaf nih, emang segitu cukup buat anak istri?”
ST: “Ya insya Allah cukup pak, daripada gak ada sama sekali.”
Uy: “Masyaa Allah, kok bisa cukup ya pak, ini di Jakarta lho?”
ST: “Ya kalo dihitung-hitung sih gak cukup pak, tapi sekarang saya merasa lebih tenang, Pak. Alhamdulillah sekarang kerja bisa sambil ngurus masjid. Alhamdulillah juga saya masih bisa rutin sedekah, 10% dari hasil naksi saya infakkan ke masjid.”
Uy:” Ya Allah, jadi uang segitu masih dipotong lagi buat sedekah?” Tak terasa air mata pun menetes haru.
ST: “Iya pak, mumpung Allah lagi ngasih kesempatan saya bersedekah, dulu waktu masih jaya boro-boro saya mau sedekah, Pak. Makanya habis apa yang saya miliki. Saya bersyukur kali sekarang bisa dekat sama Allah.”

Tak terasa, mobil sudah memasuki portal menuju terminal 1B Soetta, argo menunjukkan seratus lima belas ribu lalu dibayar oleh Pak Uyad seratus lima puluh ribu.

Karena rasa haru yang mendalam dari cerita supir taksi tadi, sebelum keluar dari mobil pak uyad mengeluarkan lagi uang dua juta rupiah dan diberikannya ke bapak supir taksi itu.

“Ini buat anak istri dirumah ya, salam buat keluarga,” katanya sambil beranjak keluar dari mobil.

Tiba-tiba bapak supir keluar dari mobilnya dan menyusul Ustad Uyad. “Masyaa Allah pak, ini kebanyakan,” sambil menyodorkan kembali uang tersebut.

“Oh gak papa, kebetulan saya lagi ada titipan rezeki dari Allah dan saya mau sedekah sama orang yang ahli sedekah, senang ketemu sama bapak. Tolong jangan dikembalikan. Berilah kesempatan Allah mencatat sebuah amal jariyah buat saya,” Jawab Ustad Uyad.

Dengan mata yang berkaca-kaca, pak supir menerima uang tersebut sambil memeluk Ustad Uyad. Mereka berpisah dan suasana haru itupun berlalu. Sebagaimana detik yang lari meninggalkan waktu.

Pada tahun 2016, di suatu malam, Ustad Uyad sedang bersilaturahmi dengan teman-temannya di lobby hotel JW Mariot. Ketika asik ngobrol, tiba-tiba datang seorang office boy menghampirinya sambil menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?” tanya Ustad Uyad, “Tak tahu, Pak, saya disuruh sama bapak diluar tadi. Itu titipan dari dia. Pesannya supaya diserahkan ke Bapak,” jawab office boy.

“Bapak yang mana?” tanya Ustad Uyad. ”

Wah, saya juga gak kenal pak, orangnya diluar sana, Pak,” jawab office boy.

Melihat kejadian itu, salah satu teman Ustad Uyad yang kebetulan berdinas di kepolisian memberi saran untuk segera membuka amplop tersebut dan ternyata didalamnya berisi uang US 2.000 dollar. Dalam kondisi keheranan dan terkejut, muncul rasa penasaran dan curiga, jangan-jangan uang ini diberikan sebagai jebakan, akhirnya Ustad Uyad berlari keluar hotel meninggalkan temannya di lobby.

“Mana bapak yang ngasih amplop ini?” tanyanya kembali ke office boy yang menyerahkan amplop tadi.

“Itu pak, bapak itu masih diluar,” jawab office boy.

Dengan setengah berlari, Ustad Uyad akhirnya menemukan bapak yang ditunjuk tadi.

“Pak, maaf ya, Bapak yang ngasih amplop ini? Apa maksudnya? Bapak siapa?” tanyanya dengan nada agak meninggi karena beliau takut sedang menerima jebakan dari seseorang.

“Iya saya, Pak. Saya memang udah lama mencari Bapak, saya supir taksi yang pernah nganterin Bapak dulu ke bandara, masak Bapak lupa?”

“Waduh maaf, Pak, mana saya inget, saya sering naik taksi” jawab Ustad Uyad penasaran.
“Saya supir taksi yang dua tahun dulu pernah bapak kasih uang dua juta.”
“Masyaa Allah maaf pak, saya benar-benar gak ingat.”
“Saya yang pernah anter bapak dari Lebak Bulus ke terminal 1B pas bapak mau ke Bangka Belitung.”

Ustad Uyad mulai mengingat kejadian dua tahun yang lalu.
“Terus terang, Pak, saat itu saya memang sedang membutuhkan uang sebanyak itu untuk bayar kontrakan yang jatuh tempo. Hari itu juga sama saya harus bayar sekolah anak saya. Dan saya tidak tau lagi kemana harus saya cari uang sebanyak itu. Jadi ketika Bapak kasih dua juta itu saya kaget sampe nangis. Saya berterima kasih sekali sama Bapak.”

“Masyaa Allah pak, maafkan saya, saya baru ingat, Lagian itu kejadian dua tahun yang lalu. Trus ini kenapa kok Bapak ngasih sebanyak ini?”
“Saya cuma ingin berterima kasih saja sama Bapak, Alhamdulillah, Pak sekarang saya sudah bekerja di perusahaan konsultan teknik untuk proyek.”
“Masyaa Allah pak, ya udah Pak saya terima tapi ini kebanyakan” sambil bermaksud menyerahkan amplop itu kembali, namun ditolak.

“Maaf Pak, tolong diterima Pak, jangan dikembalikan, berilah kesempatan Allah mencatat sebuah amal jariyah buat saya.”

Ustad pun tak mampu lagi berkata-kata. Pelukan dan air mata mengiringi haru pertemuan kembali dua hamba yang saling mencintai karena Allah.

Terima kasih kepada Ustad Uyad yang telah memberikan izin kepada saya untuk menuliskan kembali kisah nyata ini.
@surabaya
Allah berfiman :
Barangsiapa membawa Amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

(QS. Al An’am : 160)

 


Sahabat,

Tak pernah Allah salah janji. Saat kita hanya menyerahkan seluruh hidup kita hanya padaNya, Allah pasti akan membantu dan mencukup kita, karena Allah Maha Mencukupi. Dan saat kita menjadi tanganNya membantu orang lain, Allah punya hadiahNya yang tak pula kita sangka-sangka. JanjiNya tak pernah salah.

Belum tentu orang yang terlihat baik-baik saja itu tidak sedang terdesak membutuhkan uang. Begitu ada keinginan untuk memberi, langsung saja memberi, siapa tahu itu intuisi dari Allah bahwa ia sesungguhnya benar-benar sedang membutuhkan uang, tapi tak mau meminta karena ia menjaga kehormatannya.

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al-Baqarah : 273)

Inilah indahnya skenario Allah. Allah ciptakan manusia berbeda-beda. Ada yang saat ini sedang kekurangan, ada yang saat ini juga sedang berkelapangan. Allah pertemukan keduanya agar Rahman dan Rahim nya mengalir menjadi saksi indahnya pertemuan dua hamba. Yang kekurangan dijamin kecukupan melalui yang berkelapangan, yang berkelapangan dijamin mendapat keberkahan dan kelapangan lebih luas lagi dengan berbagi hak mereka yang kekurangan. Inilah cinta, inilah kasihNya.

Yuk, bagaimana kita bisa #NaikKelas untuk menyerahkan hidup kita hanya padaNya? Bagaimana pula kita bisa #NaikKelas menjadi kepanjangan tanganNya dalam membantu orang lain?

Dan kenapa hal itu penting?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: