Skip to content
Advertisements

Prasangka baik

dekat
Suatu hari, Rasulullah SAW menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut. Beliau bersabda, “Semoga penyakitmu ini menjadi penghapus dosamu.”

Orang itu menjawab, “Tapi ini adalah demam yang mendidih, yang jika menimpa orangtua yang sudah renta, bisa menyeretnya ke lubang kubur.”

Mendengar keluhan orang itu, Rasulullaah SAW bersabda, “Kalau demikian anggapanmu, maka akan begitulah jadinya.”

(HR. Ibnu Majah)

Jauh-jauh hari Rasulullah saw sudah berpesan bahwa anggapan kita, prasangka kita, dapat menjadi kenyataan. Allah pun berfirman, bahwa Allah adalah sesuai prasangka hambaNya. Jadi kita adalah prasangka kita.

Otak kita adalah organ tubuh yang sangat luar biasa. Sejak bayi ada di dalam rahim bayi sudah mampu menyerap emosi ibunya. Emosi inilah yang membentuk “prasangka” awal dari setiap manusia. Kalau ibunya mencintainya sepenuh hati, ia akan membentuk prasangka bahwa dunia penuh cinta dan ia pun adalah sumber cinta bagi dunia. Kalau ibunya tak menginginkannya, meskipun hanya disimpan dalam hati, atau stress, sedih, bayi pun akan menyerapnya sebagai prasangka bahwa ia tak diterima, tak dicintai, dan dunia penuh kebencian. Maka ia pun membenci dirinya sendiri dan dunia.

Selama ia tumbuh apapun yang didengarnya dan dilihatnya dari lingkungannya mempengaruhi prasangkanya sampai akhirnya hal itu menjadi prasangka yang menetap saat ia dewasa.

Kita dipengaruhi oleh orang tua kita, tapi kita perlu sadar dan menentukan sendiri prasangka kita. Saat kita mau secara sadar memastikan bahwa prasangka kita selalu baik, maka kita akan yakin bahwa dunia penuh cinta, dan kita adalah sumber cinta. Maka kalau kita sakit, kita yakin Allah memberikannya sebagai wujud cintaNya. Apapun yang terjadi adalah baik, dan kita bisa bergantung sepenuhnya padaNya, karena Ia adalah sumber cinta dan kekuatan dalam hidup kita.

Saat itu otak kita memerintahkan seluruh sel tubuh kita untuk relax, santai, bahagia, karena ada Allah tempat bergantung. Vibrasi kita ke luar pun santai, tenang, bahagia.

Kalau kita terus membiarkan bisikan setan mempengaruhi kita dan membiarkan prasangka kita penuh dengan was was, pesimis, galau, maka semua yang kita khawatirkan itulah yang akan terjadi.

Prasangka itu membuat otak kita memerintahkan seluruh sel tubuh untuk terus berjaga-jaga, waspada, dan pasang tameng karena ada bahaya yang mengancam. Bayangkan kalau sel terus waspada dan berjaga. Kapan sel mau istirahat? Kapan sel yang rusak diperbaiki?

Vibrasi kita ke luar pun penuh dengan kecurigaan. ketidak sukaan, karena kita ada dalam ancaman. Maka kita pun akan sulit berbagi kasih, berbagi cinta.

Kita bisa lihat, prasangka baik, menghasilkan hasil yang baik. Prasangka buruk menghasilkan hasil yang buruk. Otak kita akan menterjemahkan apapun prasangka tersebut menjadi instruksi yang mendukung terwujudnya prasangka itu.

Maka, mulai sekarang, apapun yang kita rasakan, mulailah membangun prasangka baik. Yakinlah bahwa kita tercipta hanya berkat Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang mencintai kita lebih dari ibu kita sendiri. Yang memberikan hanya yang terbaik bagi kita.

Tinggalkan galau masa lalu dan kecemasan masa depan. Nikmati saja semuanya. Syukuri saja semuanya. Karena semua pasti baik selama kita ada dalam jalanNya.

Yuk, mulai cek dan periksa, seperti apa prasangka kita dalam setiap momen hidup kita. Setiap kali kita merasa galau, cemas, khawatir, bilang ke otak kita, “Terima kasih untuk peringatannya. Insya Allah ada Allah tempat bergantung. Semua baik-baik saja. Nikmati saja, syukuri saja.” Senyum, dan benar-benar nikmati apapun yang ada.

Sakit? Nikmati saja. Jadi kita bisa mensyukuri sehat.
Ada yang gossip tentang kita? Nikmati saja, doakan, dan maafkan. Pahala dan bekal akhirat sudah bertambah banyak sekali. Alhamdulillah.
Barang hilang? Nikmati saja, syukuri. Saatnya untuk belajar lebih berhati-hati dan lebih banyak sedekah. Mungkin hilang karena kita kurang sedekah. Mungkin hilang karena ada yang tidak halal. Alhamdulillah, Allah bersihkan.

Semua bagus, semua alhamdulillah.

Nah, apa lagi kecemasan yang perlu kita ganti dengan prasangka baik dan kita syukuri hari ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: