Skip to content
Advertisements

Bahlul 3: Nikmat dan bencana sama saja, jadi biasa-biasa saja untuk keduanya.

disasters are blessings

Karena penampilannya yang urakan, pakaian sobek, tingkah laku nya yang aneh, suka ketawa sendiri, Bahlul sering menjadi olok-olok anak-anak di pasar. Suatu hari anak-anak di pasar melemparinya dengan batu sampai ia berdarah-darah. Seperti orang gila, ia pun hanya tersenyum dan berkata, “Bagaimana mungkin, seseorang yang ridla
dan puas dengan Allah mengeluhkan sesuatu?”

Ternyata kata-kata ini kemudian diuji oleh Allah.

Dengan tubuh berdarah-darah Bahlul berjalan menuju Bashrah. Ia berharap penduduk di sana bisa lebih baik padanya. Bahlul tiba di gerbang kota Bashrah di malam hari. ia kelaparan, kehausan dan kedinginan. Dilihatnya ada orang berbungkus selimut terbaring di samping gerbang. Ia pun membaringkan tubuhnya di samping tubuh ini, berharap mendapat kehangatan darinya. Ia pun tidur dengan nyenyaknya, dengan tubuh sangat lelah setelah berjalan jauh.

Ternyata tubuh yang terbungkus selimut di sampingnya adalah mayat. Bahlul pun, dengan bajunya yang penuh darah akibat lemparan batunanak-anak di Baghdad, dituduh menjadi pembunuhnya. Sebagai pendatang ia tak faham bagaimana caranya membela diri. Tak ada orang yang dikenalnya untuk membelanya atau menjadi saksi bahwa ia tak bersalah. Faktanya ia ada di samping jasad tersebut. Maka ia pun dibawa ke tiang gantungan.

Di alun-alun kota penduduk kota ramai menyaksikan Bahlul digiring. Bahlul sangat tenang dan tak terlihat marah atau kecewa karena tak merasa bersalah. Ia pun meminta izin untuk berdoa dan ia pun berdoa dengan khusuk, “Wahai Tuhanku, aku tidak bersalah dan hampir saja mati karena  kejahatan yang tidak kulakukan. Akan tetapi, aku tidak sedih, marah atau benci kepada-Mu. Engkau mengetahui siapa yang membunuh  dan yang terbunuh, Engkau juga mengetahui mengapa segala sesuatu terjadi. Kini, aku sadar bahwa Engkaulah yang menuntunku pergi meninggalkan Baghdad dan datang ke kota ini. Engkaulah juga yang menuntunku tidur disamping mayat itu. Engkaulah yang
meninggalkanku di sana dan polisi itu pun kemudian menemukanku. Karena itu lakukanlah apa yang Engkau kehendaki atas diriku, sebab Engkau dan hanya Engkau sajalah di belakang semua ini.”

Tiba-tiba sebelum eksekusi dilakukan ada seseorang yang muncul dari kerumunan penduduk. Ia berteriak dan mengaku bahwa ia adalah pembunuh yang sesungguhnya. Ia minta eksekusi dibatalkan.

Sipir penjara dan orang-orang pun terkejut. Apa yang terjadi? Ia pun segera dibawa ke hakim. Di hadapan hakim ia mengaku semua perbuatannya. Ia pun bercerita bahwa tiba-tiba masuk mulut naga, yang mengancam akan menelannya kalau ia tidak mengaku saat itu juga.

Sang Hakim terkejut. Ia pun kemudian menoleh pada Bahlul, kenapa Bahlul begitu tenang? Algojo bercerita bahwa ia sempat berdoa, dan kemudian ada pula yang mengaku.

Masih dengan gaya khasnya, Bahlul berkata, “Ketenangan hamba bukanlah karena merasa yakin bahwa hamba tidak akan digantung. Hamba yakin bahwa apa pun yang telah ditetapkan Allah adalah yang terbaik, dan memang demikian seharusnya. Jadi, hamba benar-benar tunduk dan pasrah pada kehendakNya. Pada gilirannya, hal ini membuat hamba demikian damai dan tenang.”

Ia pun kemudian berkata pada Hakim, “Jika Dia memilih memberi hamba racun pahit dan mematikan, maka hamba akan menerimanya sebagai gula yang manis dan anugerah dariNya.”

Kisah ini diambil dari kitab Mushibatnama oleh Fariduddin Athtar. Dari kisah ini kita bisa belajar dari seorang hamba Allah yang benar-benar 100% menyerahkan segala urusannya pada Allah. Ia yakin bahwa apapun yang terjadi berasal dariNya, dan pasti yang terbaik. Allah dicintainya lebih dari segala apapun yang ada didunia. Dan ia yakin sepenuhnya bahwa Allah mencintainya lebih dari segalanya pula. Maka ia pun bahagia atas apapun yang terjadi, karena yakin bahwa semuanya ada berkat cinta seorang yang tercinta dan penuh cinta.

Sahabat, bagaimana dengan kita?

Sudah sampai dimana kedekatan kita padaNya dan sikap berserah kita padaNya? Sudah sampai mana kita yakin bahwa apapun yang terjadi berasal dariNya, dan didasari pada cintaNya? Sudah seberapa dalam kecintaan kita padaNya, sehingga semua yang terjadi diyakini adalah baik, sehingga hati kita pun selalu bahagia. Nikmat dan bencana menjadi sama, semua adalah karunia penuh cinta dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menyayangi kita lebih dari ibu kandung kita sekalipun.

Bagaimanakah kita bisa belajar dari kisah Balul yan satu ini? Bagaimana kita bisa #NaikKelas dari kejadian ini? Agar hidup selalu damai, aman dan penuh cinta?

Sumber: Ketika Bahlul Akan Digantung oleh Nadirsyah Husein

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: