Skip to content
Advertisements

Raja, penguasa, kita muliakan. Yang Maha Mulia sering kita lupakan. Bahlul 1.

righteousness taqwa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “bahlul” berarti anti mainstream, atau orang yang hilang akal. Banyak orang yang menggunakan kata “bahlul” untuk mencela orang yang bodoh atau gila. Sesungguhnya “bahlul” berasal dari panggilan seorang sufi yang unik, Abu Wahib ibn Amr, hidup di masa Sultan Harun Al Rasyid di Bagdad. Beliau adalah sufi yang tawadu, disebut juga dengan nama Syech Bahlul, banyak merenungkan hakikat hidup dan asal muasalnya. Caranya merenung dan berfikir seringkali aneh, ia bisa bicara sendiri, ketawa sendiri, atau menangis sendiri dalam perenungannya. Ia juga berpakaian kotor, kumal seperti orang gila. Itulah sebabnya ia disebut gila. Padahal ia tidak gila.

Raja dan penguasa seringkali datang padanya dan mendapat berbagai sindiran halus terkait kepemimpinan mereka. Orang banyak yang datang pula meminta nasehat-nasehatnya, yang sangat unik dan bisa saja dibilang aneh.

Suatu hari Sultan Harun Al Rasyid berjalan melalui sebuah pemakaman. Dilihatnya Bahlul sedang duduk di sana. Sultan pun bertanya, “Wahai Bahlul, kapankah kamu akan berakal/sembuh dari gila?”

Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon,”Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar?”

Sultan menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan bertanya, “Siapa yang gila, aku atau engkau yangg selalu duduk dikuburan?”

Bahlul berkata, “Aku berakal dan engkau yang gila.”
Harun berkata, “Bagaimana itu bisa?”
Bahlul menjawab, “Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita?”

Bergetarlah hati Sang Sultan. Ia menangis dengan tangisan yang membasahi jenggotnya.

Sultan pun lalu berkata, “Demi Allah engkau yang benar. Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul.”

Bahlul berkata, “Cukup bagimu Al-Quran maka jadikanlah pedoman.”
Sultan bertanya, “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul? Aku akan penuhi.”
Bahlul menjawab, “Iya aku punya tiga permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu.”
“Mintalah,” jawab Sultan
Bahlul berkata,”Satu: tambahkan umurku.”
“Aku tak mampu”,
“Dua: jaga aku dari Malaikat Maut.”
“Aku tak mampu.”
“Tiga: masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api neraka.”
“Aku tak mampu.”

Bahlul pun berseru, “Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu.”

Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul “Orang-orang Gila Yang Berakal” mengenai Syech Bahlul di Bagdad.

Manusia, meskipun ia seorang sultan penguasa sekalipun, hanyalah seorang hamba. Kita, sultan, presiden, raja, sama dan sederajat. Bahkan kalau kita lebih taqwa, kita bisa lebih mulia dari seorang raja yang dzalim dan lupa pada Tuhannya. Sesungguhnya dunia ini hanyalah tempat manusia mempersiapkan hidup abadi di akhirat. Di dunia ini manusia terbatas kemampuannya. Di surgalah ia bisa leluasa hidup dengan segala kenikmatan. Tapi dunia membutakan manusia sehingga manusia tak mampu mempersiapkan hidup abadi tersebut. Jabatan, kedudukan, kekayaan menjadi ujian yang melenakan. Melenakan pemiliknya, menipu yang disekitarnya.

Seringkali kita memuliakan seseorang sedemikian rupa karena kedudukan, jabatan atau hartanya, tapi lupa untuk memuliakan Yang Maha Mulia. Kita mengira kita bisa mulia karena manusia yang kita fikir mulia. Kita lupa bahwa kita hanya bisa mulia saat memuliakan Sang Maha Mulia. Dipanggil pejabat, langsung menyahut dengan penuh hormat. Dipanggil Allah melalui adzan tak bergeming sedikitpun. Sesungguhnya siapa yang harus kita utamakan? Siapa yang kita butuhkan?

Apakah pelajaran yang bisa kita dapatkan dari sini, sahabatku? Apa pesan yang Allah selipkan khusus untukmu dari kisah ini? Khusus hanya untukmu, dengan segala ujianmu? Bagaimanakah kita bisa #NaikKelas berkat pesan tersebut?

 

Dan kenapa itu penting?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: