Skip to content
Advertisements

Sudahkah cinta kita hanya untukNya? Bukan untuk berdagang cinta?

cinta

Manusia adalah makhluk yang dilimpahkan begitu banyak cinta oleh Sang Maha Cinta, Maha Pengasih dan Penyayang. Manusia ada karena cinta, dan hanya bisa tumbuh karena adanya cinta. Maka sudah seharusnyalah kita mencintai karena kita sudah berlimpah cinta, bukan karena kita berharap mendapat cinta lagi dari makhlukNya.

Kalau ada balasan, itu harusnya jadi bonus ekstra, bukan tujuan utama.

Mereka yang bisa melakukan hal ini insya Allah akan bahagia selalu dunia akhirat, karena mereka tak akan pernah berharap dari manusia. Mereka yang tak mampu melakukannya akan banyak dilanda sedih, kesal, benci, dendam dan berbagai hal yang merusak hati dan membawa sakit di tubuh, bahkan sampai bisa menimbulkan kanker. Kita tak pernah bisa mengendalikan manusia lain. Hanya Allah yang bisa. Maka berharap dari manusia itu sungguh sangat beresiko dan bisa berujung pada kebinasaan.

Di bawah ini ada sebuah cerita yang mengisahkan hal ini yang sumbernya berasal dari artikel kiriman Pak Bambang WEN, guruku di komunitas SSQ. Kita simak yuk.

🌸🌿🌸🌿

Bundaku adalah seorang perempuan yang sederhana, lahir dari keluarga sederhana, dan sangat berbakti pada mertuanya. Bunda sendiri sudah yatim piatu sejak kecil. Suatu hari aku dikejutkan oleh Bunda, “Ari, Nenek kamu masuk rumah sakit. Bunda harus datang melihatnya.”
Sungguh berat sesungguhnya hatiku. Tapi karena Bunda selalu keras keinginannya mengunjungi mertuanya, maka pergilah aku bersama Bunda menengok Nenek.

Sejak kecil aku tidak terlalu senang mengunjungi Kakek Nenekku, orang tua Ayah. Ayah meninggal saat aku masih sangat kecil. Setiap lebaran, Bunda sendirian mengajakku pergi kerumah Kakek dan Nenek naik bus. Perjalanan ini selalu melelahkan, melalui jalan-jalan Jawa dan Sumatra yang tak bersahabat. Aku tak pernah menikmatinya, tapi Bunda selalu semangat. Dan saat kami tiba dalam kondisi lelah, Kakek Nenek tidak pernah hangat dengan kehadiran kami. Bayangkan perasaanku.

Kakek Nenek memperlakukanku beda dengan sepupu-sepupuku. Aku pun selalu tampil beda. Bajuku lusuh, bukan baju baru. Beda sekali dengan sepupu-sepupuku yang selalu datang dengan pakaian baru dan bagus.

Apalagi pada Bunda, yang dianggap “bukan perempuan dari keluarga terhormat” tak seperti menantu lainnya yang “terhormat” kata mereka. Tapi kulihat Bunda tak pernah tersinggung dengan perlakuan Nenek dan Kakek terhadapnya. Bundapun tak pernah mendapat bantuan satu senpun dari keluarga Ayah, tak pula pernah memintanya. Padahal Bunda membesarkanku seorang diri.

Bi idznillaah, dengan izin Allaah SWT , usahaku berhasil dan kini aku bisa menanggung Bunda. Bunda tak perlu lagi berkerja keras. Namun aku tetap patuh pada kewajiban setiap lebaran datang berkunjung ke rumah Kakek Nenek.

Akupun pernah bertanya, “Kenapa Bunda selalu menaruh hormat kepada kakek dan nenek. Padahal mereka sangat acuh dan tidak peduli dengan kita.”

Bunda menatapku dengan tersenyum, “Ketika Ayahmu almarhum pulang ke Sumatera dalam keadaan sakit, beliau berpesan kepada Bunda, bila dia meninggal agar Bunda menjalin silahturahim dengan keluarganya dan mendidikmu untuk dekat dengan keluarganya.”

“Kamu tahu, setelah Ayahmu meninggal, butuh dua tahun Bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan Kakek dan Nenekmu yang tak mau menerima Bunda. Bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi Bunda ingat kata kata Ayahmu, ‘Cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia,’ ya kan, anakku?”

“Ya, Bunda” Terlontar begitu saja dari mulutku.

Belakangan keluarga yang berkumpul di rumah Kakek dan Nenek tidak lagi utuh. Yang lain hanya menelepon mengucapkan selamat lebaran kepada Kakek dan Nenek. Sepupuku pun tak semua datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran via SMS, telpon atau WA.

Entah kenapa kedatanganku bersama Bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh Kakek. Om dan sepupuku tidak ada yang datang. Dari kakek kutahu bahwa nenek terkena stroke tapi keadaanya cepat tertolong.

Kami bicara di taman rumah sakit. “Dua tahun lalu, Om mu yang pejabat di Jakarta, terkena kasus Korupsi. Dia dalam pemeriksaan oleh aparat yang berwajib. Sebelumnya, Om mu yang di Surabaya, perusahaannya disita oleh Bank karena bankrut. Om kamu yang di Bandung bercerai dengan istrinya, karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK sebagai PNS. Semua anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang liar. Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam pergaulan bebas,” kata Kakek lirih.

“Kemarin, ada yang memberi tahu Nenekmu bahwa Om kamu sudah divonis penjara enam tahun atas tindakan korupsinya. Seketika itu pula Nenekmu jatuh pingsan dan stroke.”

Aku hanya diam.

“Ari, kami tahu bahwa selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibumu kurang baik. Bahkan kami biarkan ibumu menderita membesarkan kamu, anak dari putra sulung kami, cucu kami. Kami menyesal karena sikap kami selama ini. Belakangan ini, Nenekmu selalu menyebut nama kamu dan menangis. Kini dimasa tua kami, kami resah karena tak tahu siapa yang akan mengurus kami. Nenekmu mungkin setelah ini akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah.”

Kugenggam tangan Kakek, “Aku yang akan merawat Kakek dan Nenek. Izinkan aku untuk membawa Kakek dan Nenek ke Jakarta, tinggal bersamaku. Beri kesempatan aku untuk berbakti kepada Kakek dan Nenek, ya Kek.”

Seketika itu juga Kakek memelukku erat. Terasa pundakku basah, aku tahu Kakek menangis.

“Harta yang ada jual saja, Kek. Untuk bantu Om. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk panti asuhan, setuju kan Kek?” tanyaku.

Kakek semakin erat pelukannya, “Masya Allah, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami.”

Bertahun-tahun aku dididik oleh Bunda untuk memahami makna cinta. Bahwa cinta adalah tindakan memberi karena Allah dan bukan mengharap balasan dari manusia.
akupun harus memahami hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, orangtua ayahku.

Bunda nampak bahagia sekali ketika melihatku mendorong kursi roda Nenek menuju tangga pesawat dengan di samping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. kami semua ke Jakarta.

🌸🌿🌸🌿

Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang ikhlas, mencintai, dan berbuat apapun hanya untukNya, tanpa target, tanpa berharap dibalas makhluk.
Susah?
Memang pasti susah, tapi insya Allah bisa kok. Dan sudah banyak yang membuktikan bisa. Mintalah kekuatan padaNya untuk menjadi makhluk yang ikhlas lahir batin, dengan ikhlas yang tak perlu lagi terucap di mulut.

Jadi cinta yang mana yang bisa mulai kita ikhlaskan hanya padaNya mulai hari ini? Yang mana lagi? Kenapa itu penting? Untuk siapa saja hal itu penting?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: