Skip to content
Advertisements

Belajar kerakyatan dari dr. Cipto Mangunkusumo

“Tiap-tiap manusia,” ujar bung Karno, “harus menjalankan kewajibannya dengan tidak menghitung-hitung apa yang nanti akan menjadi buahnya.”.png

Di Jakarta, hampir semua pernah ke RS Cipto Mangunkusumo, minimal pasti tahu. Dan semua mahasiswa dan teman alumni FKUI pasti bersyukur sekali pada rumah sakit yang satu ini. Lalu tahukah kita siapa Cipto Mangunkusumo? Yuk kita simak tulisan ini yuk. Terima kasih untuk Pak Anton Dwisunu H yang tulisannya saya adopsi untuk mengenalkan seorang tokoh yang penting bagi bangsa ini.

🌸🌿🌸🌿🌸🌿

*Kisah Onze Tjip*
Diadopsi dari tulisan Anton Dwisunu H

Ada ungkapan terkenal di kalangan masyarakat yang sudah kenal rumah sakit : ‘Dokter atau Perawat belum jago kalau bukan keluaran RSCM’ sehingga mau tidak mau RSCM memang Lembah Tidarnya para dokter dan perawat digembleng untuk merawat orang sakit. Dulu RSCM bernama Centraal Burgerlijke Ziekenhuis atau CBZ. Orang Djakarta tempo dulu selalu menyebut CBZ- diucapkannya Sibiset. Kakek saya saja selalu bilang “Naar CBZ” kalo mau ke RSCM. Barulah generasi ibu saya menyebut Rumah Sakit itu RSCM atau RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat). Kenapa CBZ begitu hebat, apakah ada hubungannya antara CBZ dan nama Cipto?

Bagi saya nama Cipto yang diberikan pada 17 Agustus 1964 oleh pemerintahan Sukarno atas usulan Menteri Kesehatan saat itu, Dokter Satrio, bukan tanpa sebab. Suatu sore di bulan Maret 1963 Bung Karno memanggil tim dokter CBZ untuk bertanya tentang nama Rumah Sakit itu. Di teras Istana Negara mereka bicara ngalor ngidul tentang rumah sakit.

Bung Karno berkata “Aku ingin rumah sakit ini, menjadi rumah sakit rakyat, dia harus melayani rakyat secara penuh dan total. Rakyat harus dibebaskan dari biaya-biaya atau minimal sedikit biaya untuk berobat. Dan untuk itu nama kebelanda-belandaan, bukanlah nama yang baik. Aku bertanya kepada kalian nama apa yang cocok untuk Rumah Sakit ini.”

Lalu dokter Satrio nyeletuk “Bagaimana kalau kita namakan Rumah Sakit Tjiptomangunkusumo saja Pak?” Bung Karno terdiam matanya langsung berkaca-kaca. Tak lama kemudian air mata pelan mengalir ke pipinya. “Aku ingat Onze Tjip…Aku ingat Onze Tjip….”

Ciptomangunkusumo lahir dari keluarga jelata. Ayahnya sesungguhnya anak petani namun karena kecerdasannya dia mampu menjadi guru Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Cip ditakdir memang hidup menembus kelas-kelas sosial. Ia yang hanya anak guru mampu masuk sekolah STOVIA. Ini sekolah elite jaman dulu yang belajar tentang bidang kedokteran. Usia masuk Stovia dulu adalah berkisar 12-16 tahun. Jadi mereka diajarkan dari yang paling dasar sekali tentang bidang pengobatan dengan alat ajar yang minim.

Tapi memang Indonesia selalu melahirkan generasi yang cerdas. Cip salah satunya. Ia merasa dirinya adalah anak si Kromo, dan sedari awal ia sudah menentang sikap kepriyayi-priyayian yang merupakan penghalang pencerdasan bagi rakyat. Saat itu kepala sekolah memerintahkan setiap murid mengenakan pakaian adat. Hal ini untuk dimaksud agar membedakan diri mereka satu sama lain. Tapi Cip menolak ia hanya pakai, pakaian dekil, kumal, pakaian anak Jawa jelata, pakaian tukang angon wedhus, anak gembala kambing. Saat seorang gurunya mengusir Cip keluar karena memakai pakaian proletar, kepala sekolahnya melarang dan berteriak pada guru itu,”Tjip een begaafd leerling (Hei, Tjip itu salah seorang yang berbakat).” Sejak itu Cip boleh bebas mengenakan pakaian si Kromo.

Cip dengan cepat menyelesaikan sekolah kedokteran. Tak lama kemudian ia mendengar juniornya mengadakan kongres Budi Utomo. Cip tahu ini dari adiknya Gunawan Mangunkusumo yang teman akrab Sutomo, penggagas Budi Utomo. Disana Cip diundang bicara pada salah satu sesi kongres. Di depan kongres dia berkata “Saudara-saudara organisasi ini bukan organisasi orang Jawa, bukan kumpulannya para priyayi, saya menghendaki organisasi ini jadi tempat berkesadarannya rakyat Jawa dan juga seluruh Hindia Belanda.” Ucapan itu diucapkan tahun 1908.

Bila Budi Utomo dirujuk sebagai Tahun Kebangkitan Nasional maka sangat tidak tepat bila tidak mengikuti ucapan Cip tentang nasionalisme. Ucapan ini ditentang oleh banyak peserta kongres termasuk Radjiman Wediodiningrat. Radjiman meminta agar Kongres Budi Utomo merupakan buah kesadaran priyayi saja tidak masuk ke dalam rakyat kecil. Tjip menggebrak meja saat Radjiman bicara itu dan berteriak dalam bahasa Jawa Ngoko “Aku keluar!!”……..dan ini membuat kaget banyak orang.

Tak lama dari Budi Utomo, Cip buka praktek di Solo. Disana ia langsung terkenal sebagai dokter rakyat. Ia sendiri masuk ke kampung-kampung naik sepeda. Ia mengobati rakyat kecil dan tidak usah membayar. Rakyat mengenalnya sebagai ‘wong pinter.’ Dulu dokter belum banyak, Cip disangka dukun tapi ia mengenakan alat-alat kedokteran macam stetoskop.

Sore hari Cip senang jalan-jalan ke alun-alun. Kadang-kadang ia menggunakan bendinya. Ia sengaja meledek peraturan yang bendi tidak boleh lewat depan keraton. Suatu saat ketika bendinya lewat keraton, Sunan Pakubuwono X sedang duduk-duduk. Sang Sunan langsung berdiri, “Siapa itu naik bendi?” Abdi dalemnya menjawab “Dokter Cip, sinuwun.” Sunan langsung menggerutu, “Woo Kurang ajar.” tapi Sunan tidak mau berbuat apa-apa. Ia tahu Cip ini orang pintar dan Sunan suka dengan orang-orang pintar. Ia kerap menyekolahkan abdi dalemnya untuk sekolah ke Batavia termasuk Purbatjaraka yang kelak jadi ahli bahasa Jawa kuno.

Suatu pagi di rumahnya, Cip membaca koran tentang wabah pes di Malang. Saat itu wabah pes sangat luar biasa. Penyakit ini disebabkan kutu tikus. Saat itu wabah ini susah ditangani karena sarana kesehatan dan alat kedokteran yang minim. Cara tradisional adalah membakar orang yang mati kena pes dan juga membakar rumahnya.

Cip datang ke Malang dan ia mendengar tidak ada satu pun dokter yang berani ke Malang. Ia sendirian menantang maut. Orang yang terkena air liur dari penderita akan ketularan, tapi Cip berani bekerja tanpa masker. Suatu saat ia mendengar ada anak yang sakit parah dan ibunya sudah mati, rumahnya di bakar. Cip langsung membongkar rumah dan mencegah membakar, ia menggendong anak itu tanpa rasa takut dan dengan telaten mengobatinya. Cip berhasil. Anak itu sudah yatim piatu dan kedua orang tuanya meninggal karena pes. Cip mengangkat anak ini dan memberi nama menjadi Pesyati. Sepanjang hidup Pesyatilah yang merawat Cip. Tuhan selalu memberikan hadiah perbuatan baik dibalas jauh lebih baik.

Atas keberaniannya Cip dihadiahi oleh pemerintah Belanda bintang jasa tertinggi yang bernama “Orde Van Oranje Nassau” atau kerap disebut “Ridderorde“. Awalnya Cip menerima tapi setelah ia tahu ternyata Pemerintah hanya bisa omong doang, Cip menaruh bintang jasa itu di pantatnya dengan bintang jasa di pantat ia ke Batavia. Wartawan banyak memotret dan membuat headline olok-olok untuk pemerintah. “Seorang Jawa berani taruh hadiah raja di pantatnya.” Pemerintah jelas marah, tapi tidak ambil tindakan.

Tahun 1913 Cip bersama Douwes Dekker dan Suwardi Surjaningrat (kelak bernama Ki Hadjar Dewantoro) mendirikan partai paling progresif “Indische Partij.” Partai ini menjadi corong kuat melawan pemerintah Hindia Belanda. Cip sendiri masuk jadi wartawan harian ‘De Express’ dan Majalah Tijdschrift milik Douwes Dekker.

Suatu hari Suwardi menulis essay ‘Andai Aku Orang Belanda’ sebuah essay satir yang bikin panas pemerintah Hindia Belanda. Saat itu Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pungutan besar-besaran bahwa mereka akan mengadakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda atas Spanyol. Ini sebuah ironi bagaimana bisa sebuah bangsa yang terjajah kok membuat sebuah perayaan yang justru dibiayai oleh penderitaan bangsa yang dijajah. Komite Perayaan Belanda dibuat tandingannya. Maka berkumpullah Cipto, Douwes Dekker, Abdul Muis dari Sarekat Islam Medan dan Wignjadisastra. Komite ini disebut ‘Komite Tandingan’ atas perayaan kemerdekaan yang ironis itu. Mereka memang merayakan kemerdekaan Belanda tapi akan memakai baju gembel, dan akan membawa gerobak berupa meja yang diselimuti kain hijau sebagai pralambang untuk ‘tuntutan bumiputera berparlemen’. Kaum Bumiputera harus ada perwakilannya di pemerintahan. Keruan saja aksi komite tandingan ini buat marah pemerintah. Cip cs ditangkapi saat digiring ke penjara.

Cip berteriak “Ayo kita nyanyikan lagu kebangsaan Republik Transvaal,” teriak Cip. Republik Traansvaal, adalah salah satu wilayah di Afrika Selatan yang kemudian menjadi merdeka dari pemerintahan Belanda. Kemerdekaan Transvaal ini kerap menginspirasi perjuangan rakyat Indonesia di tahun belasan.

Muis teriak, “Aku tak bisa nyanyi.”
“Sudah kamu ikutin saja” kata Tjip sambil bersemangat menyanyi.

Cipto menikah dengan anak patih, tapi kemudian bercerai. Ia kemudian menikahi seorang wanita Belanda bernama Nyonya Vogel. Keponakan Nyonya Vogel ini Donald dan Luis diangkat jadi anak Cipto. Tiga anak, Donald, Luis dan Pesyati ikut Cip.

Setelah keliling di beberapa tempat, Cip tinggal di Bandung. Ia bekerja untuk rakyat. Ia menuliskan plang di depan rumahnya ‘Dokter Cipto, dokter partikelir.’ Rumahnya di Bandung ini tepatnya terletak di Tegallega.

Pada tahun 1920, Cip sering kedatangan tamu. Anak muda tampan dan berwajah sangat enak dilihat. Anak muda itu bernama Sukarno. Cip tahu anak ini adalah anak didik Cokro. Pemikiran Cip pun banyak mempengaruhi pemikiran Sukarno mengenai kebangsaan.

Tahun 1923 saat PKI mengadakan kongres. Foto Cip terpampang bersama Karl Marx, Lenin dan Tan Malaka. Ini merupakan penghormatan besar PKI terhadap Cip. Walaupun Tjip tidak pernah masuk jadi anggota PKI. Namun gara-gara itu ia kena getahnya. Saat pemberontakan PKI 1926/1927, Cip dituduh terlibat dan menghasut karena pernah memberikan dana 10 gulden kepada salah seorang kopral KNIL. Ternyata Kopral KNIL itu bersama kawan-kawannya mau meledakkan gudang amunisi di Bandung. Cip langsung diinterogasi, ditemukan daftar tamu-tamunya yang kebanyakan juga terlibat pemberontakan PKI. Gubernur Jenderal De jonge kalap luar biasa dan memerintahkan Cip dibuang ke Banda Neira. Buru-buru kawan Cip yang bernama Koch datang dan menanyakan pada Cip, “Cip, verteel me nou de waarheid (Cip katakan terus terang).” kata Koch sambil mengguncang bahu Cip. Tapi Cip tenang-tenang saja.

Cip diantarkan ke stasiun tengah malam, namun Bung Karno sudah menunggu. Bung Karno adalah satu-satunya orang politik yang mengantarkan Cip. Ia menciumi tangan Cip sembari menangis. Cip memegang bahu Bung Karno dan mengingatkannya pada prinsip-prinsip kebangsaan yang sambil menepuk-nepuk bahu Sukarno. Bung Karno yang saat itu baru saja mendirikan Partai Nasional Indonesia terus memegangi bahu Cip.

Cip berangkat dengan keluarganya ke Banda Neira. Disana ia diawasi oleh Tuan W. C Ten Cate. Tuan Cate ini agak keterlaluan mengawasi Cip. Setiap hari ia datang dan menggeledah rumah Cip sampai-sampai telur pun diperiksa. Saat penggeledahan Cip, isterinya, Donald, Luis dan Pesyati diperintah naik ke peti. Mereka berdiri dipojokan dan melihat Belanda itu membongkar barang-barang mereka, kegiatan itu berlangsung hampir tiap pagi. Tapi kemanusiaan selalu menemukan jalan pertemanan. Tuan Cate ini malah jadi sahabat Cip. Mereka setiap hari pagi dan sore duduk di pantai dan bicara banyak.

Kesehatan Cip memburuk. Setiap waktu mendengar kabar buruk tentang pergerakan nasional ia langsung sakit. Saat tahu Sukarno ditahan dan banyak aktivis ditangkapin Cip menangis sendirian di kamarnya. Donald dan Luis takut. “Oom Cip selalu begitu, bila mendengar kabar buruk perjuangan di Jawa,” tulis Donald dalam salah satu memoarnya tentang Cip.

Andai tak datang Syahrir dan Hatta ke Banda mungkin Cip sudah lama mati. Ia tidak ada teman bicara. Hatta dan Sjahrir memperpanjang usia Cip karena ada teman bicara yang seimbang.

Saat Jepang masuk Cip dibawa pulang ke Djakarta. Awalnya ia mau diangkut ke Australia tapi dia menolak. “Bila rakyat Indonesia hancur oleh Jepang, biarlah aku mati bersamanya,” pesan Cip pada perwira Belanda yang akan mengirim Cip ke Australia.

Cip sakit paru-paru. Pipinya peot dan dekok yang dalam antara jidat di dekat batang hidungnya makin besar. Tapi Cip selalu berusaha gembira ia berbicara filsafat dengan rasa senang.

Setelah sampai di Jawa awalnya Cip dibawa ke Sukabumi karena disana udaranya bersih, tapi kesehatan Cip menurun. Dia kemudian dibawa ke Jakarta. Disana ia sering berteriak kesakitan. Saat itu di Jaman Jepang obat sangat langka sekali. Cip berteriak minta disuntik adrenalin, tapi Donald dan Bu Cip tidak punya uang. Luis sampai menangis di depan teras rumah mendengar Oomnya berteriak kesakitan. Donald akhirnya bersama Pesyati nekat memberikan ampul berisi air untuk menyuntik Cip sebagai sugesti. Akhirnya seorang dokter yang bernama dokter Loe Ping Kian, menyarankan Donald untuk membawa Oomnya ke Rumah Sakit Jang Seng Ie (Sekarang Rumah Sakit Husada di Jalan Mangga Besar).

Dokter Cip tak kuat menahan sakit disana dan ia wafat dalam keadaan sengsara. Donald, Luis, Pesyati dan Bu Cip menangis sedih.

Itulah kisah Dokter Cipto Mangunkusumo, penggagas Indonesia Raya, orang yang menyadarkan Bung Karno tentang arti sebuah bangsa. Dia rela hidup susah demi rakyat. Apabila ada dokter sekarang yang memeras pasien dengan obat mahal padahal ada obat murah, yang mempermainkan pasien, pasien masuk Rumah Sakit sampai jual harta benda tapi dokternya gonta ganti mobil, lihatlah pada kisah Dokter Cip ini. Seorang dokter adalah pejuang kemanusiaan, bukan pejuang harta benda. Bila dokter bersikap materialistis dalam melaksanakan tugasnya. percayalah dia adalah sampah masyarakat.
Pada dr. Cipto kita banyak belajar.

🌸🌿🌸🌿🌸🌿

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi bukan hanya dokter, tapi semua profesi, untuk benar-benar melayani rakyat. Ke depan kita butuh lebih banyak lagi dokter, profesor, peneliti, pejabat, pimpinan perusahaan, wakil rakyat, pemangku adat, tokoh agama, yang benar-benar tulus ikhlas melayani.

Demi pertemuan denganNya, demi kerindukan akan utusanNya, dan demi bakti pada orang tua, bangsa dan negara.. sekarang, hal termudah apakah yang bisa kita lakukan untuk bisa melayani mulai saat ini?
Kenapa itu penting?
Untuk siapa saja hal itu penting?

Sumber gambar: Tjipto Mangunkusumo

Artikel lain mengenai dr. Cipto Mangunkusumo:
Wikipedia: Tjipto Mangoenkoesoemo
Biografi pahlawan Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: