Skip to content
Advertisements

Apa yang kita sia-siakan mungkin didambakan orang lain. Syukurilah.

thank you

Ada seorang fakir miskin melewati jalan di Madinah. Di sepanjang jalan, dia sering melihat orang-orang makan daging. Dia pun merasa sedih karena jarang sekali bisa makan daging. Dia pulang ke rumahnya dengan hati jengkel.

Sesampai di rumah, istrinya menyuguhkan kedelai rebus. Dengan hati terpaksa, dia memakan kedelai itu seraya membuang kupasan kulitnya ke luar jendela. Dia sangat bosan dengan kedelai.

Dia berkata pada istrinya, “Bagaimana hidup kita ini…? Orang-orang makan daging, kita masih makan kedelai.”

Tak lama kemudian, dia keluar ke jalan di pinggir rumahnya. Alangkah terkejutnya, dia melihat seorang lelaki tua duduk di bawah jendela rumahnya, sambil memungut kulit-kulit kedelai yang tadi ia buang dan memakannya seraya bergumam, “Segala puji bagi Allah swt yang telah memberiku rezeki tanpa harus mengeluarkan tenaga.”

Mendengar ucapan lelaki tua itu, dia menitikkan air mata, seraya bergumam, “Sejak detik ini, aku rela dengan apapun yang Engkau berikan, Ya Allah.”

…dari laman Dewa Ayu Putu Sukartini. Jazakillah, Ukhti.

🌸🌿🌸🌿🌸🌿

Sahabat,

Masihkah kita ngedumel dan mengeluh akan karuniaNya setiap hari? Sadarkah kita bahwa kalau ada yang kita keluhkan dan kita tak syukuri itu sesungguhnya berharga sekali? Dan sadarkah kita banyak sekali yang berharap mendapat apa yang kita keluhkan itu?

Dan bagaimana kalau semua yang tak kita syukuri diambil olehNya tanpa sempat kita mengucap syukur padaNya, untuk diberikan pada orang lain yang mampu mensyukuriknya?

Banyak orang yang baru menyadari betapa berharganya karunia Allah saat karunia tersebut diambil olehNya, sebagai ujian. Apakah Allah harus sampai menguji kita dengan mengambil karunia tersebut, baru kita mau bersyukur? Apakah nanti kita bersyukur dan bukan malah makin mengeluh panjang lebar?

Ada seorang anak setiap hari mengeluhkan ibunya yang suka ngomel. Lalu aku bertanya, apakah ia akan lebih bahagia kalau Allah ambil ibunya? Dan ia pun terhenyak. “Tidak, lebih baik Ibu marah-marah daripada Ibu dipanggil Allah,” katanya.

Ada seorang ibu mengadu pada Ustad Somad, karena suaminya jarang shalat. Ustad pun berkata, “Syukuri saja dulu. Sudah bagus kekurangannya hanya satu. Banyak suami yang pezina, suka mukul, suka minum dan lain-lain, selain tidak pernah shalat.”

Banyak pasien penerima kurikulum kanker yang mengeluh mengenai sakitnya padaku, dan akupun bertanya, apakah organ tubuh yang sakit ini dulu pernah disyukuri keberadaannya? Lalu saat sekarang Allah ambil kesehatannya, kenapa mengeluh?

Dan kalau sekarang Allah sudah memberi sakit untuk bisa membawa kesadaran baru untuk bersyukur, apakah benar-benar  sakit membawa syukur? Atau malah keluhan yang lebih banyak lagi?

Kalau kita terus mengeluh, kapan kita mau mulai bersyukur? Mau tunggu diambil?

Yuk, mulailah kita melihat 3 hal dalam hidup kita:

– Diri kita sendiri.

Syukuri setiap organ tubuh yang ada. Sempatkan untuk membelai mereka satu persatu dan mengucap sayang dan cinta. Berikan hak mereka berupa nutrisi pada waktunya dan istirahat yang cukup. Jangan bebani mereka dengan hati yang resah atau galau. Bahagialah, maka semua organ tubuh akan berterima kasih.

Syukuri pula hati kita dengan menjaga kebersihannya, pikiran dengan menjaga dari pikiran negatif, dan jiwa dengan menjaga ketenangannya.

– Semua manusia yang ada di sekitar kita.

Berhentilah mengeluhkah suami, istri, anak, dan semua yang kita kenal. Bersyukurlah bahwa mereka dihadirkan Allah untuk kita. Yang membahagiakan adalah ujian, yang menyebalkan pun ujian. Seberapa banyak kita mampu mensyukuri keberadaan mereka? Seberapa banyak kita mampu menjadi lebih dekat denganNya dengan keberadaan mereka?

 – Alam semesta

Syukuri semua hewan yang ada, pohon, udara dan semua nikmat karuniaNya di alam semesta. Jaga mereka, jangan rusak keseimbangan alam. Suatu hari cucu kita akan berterima kasih pada kita. Mungkin yang kita lakukan kecil, tapi tetap akan berarti di hadapanNya saat kita harus bertanggung jawab nanti.

Apa hal terbaik yang bisa kita lakukan hari ini untuk berhenti mengeluh dan lebih banyak bersyukur?

Kenapa itu penting? Untuk siapa saja hal itu penting?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: