Skip to content
Advertisements

Tiada kebaikan tanpa kebijaksanaan

Kebajikan dan Kebijaksanaan

Tak ada kebajikan tanpa kebijaksanaan.

Memberi bukanlah kebajikan,

jika itu membuat yang diberi jadi pengemis.

Membantu bukanlah kebajikan,

jika bantuan itu membuat yang dibantu jadi manja.

Menolong bukanlah kebajikan,

jika menjadikan yang ditolong malas.

Memberi, membantu dan menolong bukanlah kebajikan, jika dimaksudkan agar kelak menerima pemberian, bantuan, dan pertolongan.

Tak ada kebajikan tanpa kebijaksanaan.

Melayani bukanlah kebajikan,

jika membuat yang dilayani jadi pemalas.

Memuji bukanlah kebajikan,

jika membuat yang dipuji jadi sombong.

Menghormati bukanlah kebajikan,

jika membuat yang dihormati jadi orang yang gila hormat.

Melayani, memuji, dan menghormati bukanlah kebajikan, jika dimaksudkan agar kelak menerima pelayanan, pujian, dan penghormatan.

Tak ada kebajikan tanpa kebijaksanaan.

Dalam kebijaksanaan selalu ada kebajikan.

Apa pun yang diperbuat oleh sang bijak,

Selalu mengandung kebajikan.

Apa pun yang dikatakan oleh sang bijak,

Selalu tersimpan kebajikan.

Pemikiran-pemikiran sang bijak

Mengekspresikan timbunan kebajikan.

Dalam kebijaksanaan selalu ada kebajikan.

Sumber: “Berbuat Baik itu Mudah” – Chuang

🌸🌿🌸🌿🌸🌿

Dikirim oleh Ama Chen, sahabat berlatih bersama.

Tulisan ini diposting terkait pembelajaran kami di kelas.

Ada 4 teman menjadi trainer, dan membuka sesi-sesi sharing. Semua share apa adanya. Berbagi, ya berbagi saja untuk melayani.

Ternyata setelah di tes hasilnya masih lemah. Yang sharing lemah, yang mendengar lemah. Mungkin ada beberapa pertanyaan atau statement yang menggoncang sehingga melemahkan, tanpa disadari.

Tiba-tiba sebelum kelas berakhir ada seorang anak yang baru sebulan belajar. Yang lain sudah jauh lebih lama.

Anak ini maju dan ternyata bingung mau bicara apa juga. Akhirnya ia share pengalamannya 1 bulan belajar dan berlatih. Jauh dari bagus dan nangis pula.

Yang lain terdorong maju ke depan untuk memeluk.

Ternyata setelah dicek justru yang Ini yang menguatkan. Yang sharing kuat, yang dengar pun menguat.

Penjelasannya, anak baru ini meskipun baru sudah mampu punya body intelligence yang sangat baik. Karena baru, ia tak banyak fikir dan analisa, ia ikuti semua sense tubuhnya.

Body intellegence sesungguhnya adalah “sinyal kebijaksanaan Allah” melalui tubuh.

Kami yang sudah lama dan “merasa lebih faham” ternyata lebih susah mendengarkan sinyal kebijakan ini.

Anak baru yang masih hijau ternyata lebih jernih dalam menangkap apa yang Allah inginkan darinya.

Inilah kebijakan yang bisa didapat hanya dengan benar-benar menjernihkan hati.

Yang menilai adalah Allah, kita tinggal ikuti sinyalNya atau “instink” atau “sense.”

Ternyata memang tak bijak untuk “asal memberi” karena malah bisa membawa mudharat. Dan hal ini menjadi bahasan sendiri. Orang tua terutama harus punya sense apa yang dibagi dan ditahan. Kalau nggak kasihan anaknya.

Di Islam hal ini dikenalkan sebagai “basyiroh.”

Pujian selalu melemahkan yang memuji dan yang menerima, kalau tidak dikembalikan ke Allah.

Hal ini berkali-kali sudah dibuktikan dengan tes.

Jadi harus selalu kembalikan ke Allah. Alhamdulillah, barakallah nya harus pakai hati, baik di penyebut dan penerima.

Kalau tidak pasti lemah.

Kalau di Islam kita kenal dengan “sakit ain.”

Semoga kita semua selalu ada dalam lindunganNya dan bimbinganNya untuk bisa berbuat baik dan bijaksana.

Aku, Indira Abidin, bersyukur dan berjanji menjalani hari ini dengan bahagia bersama-sama.

Aamiin yra.

🌸🌿🌸🌿🌸🌿

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: