Skip to content
Advertisements

Ada di kelas apa kita?

To all Cancerians-
Sahabat blog

Sering kita merasa sudah tenang kalau semua pengeluaran kita terpenuhi dari gaji bulanan kita. Dan ternyata banyak juga lho yang tetap tenang-tenang saja saat pengeluaran pun ikut mengandalkan kartu kredit yang ternyata lebih besar daripada pendapatan bulanan. Saat tagihan kartu kredit membengkak baru deh panik. Dan penuhlah SMS kita dengan tawaran untuk “menutup hutang kartu kredit.”

Bagaimana supaya kita bisa benar-benar tenang dan aman dalam hal keuangan keluarga? Nah, coba kita lakukan pendataan beberapa hal:

Penerimaan:

  • penerimaan aktif (dari kerja yang memakan waktu: gaji, upah): Rp ….
  • penerimaan pasif (dari hal-hal yang tak memakan waktu: royalti buku, sewa kos, dll): Rp ….
  • Total penerimaan bulanan: Rp …

Pengeluaran:

  • zakat: Rp … Langsung dibayar supaya tidak “menunggu sisa”
  • pajak: Rp … Dihitung di depan juga supaya tidak dimakan oleh pengeluaran.
  • kebutuhan dasar (tidak bisa tidak, harus ada): Rp ….
  • kebutuhan tambahan (kalau tidak ada sesungguhnya tidak apa-apa, tapi kalau bisa ada lebih baik): Rp ….
  • pengeluaran gaya hidup (kemewahan yang tidak ada juga tidak apa-apa)
  • investasi: Rp ….
  • sedekah: Rp ….
  • Total pengeluaran  bulanan: Rp …

Nah setelah menghitung semua itu, kita bisa tahu kita ada di kelas berapa:

Kelas Preman: Pengeluaran > penerimaan aktif, dan tak ada penerimaan pasif
Kelas ini dihuni oleh mereka yang pengeluarannya lebih besar daripada penerimaan. Kartu kredit pun menjadi pilihan. Kelas ini benar-benar berbahaya.

Kelas rawan: Pengeluaran = penerimaan aktif dan tidak ada penerimaan pasif.
Kalau semua baik-baik saja semua lancar, tapi bagaimana kalau ada PHK, sakit, dan berbagai hal lain yang membutuhkan dana lebih dan membuat penerimaan aktif hilang tiba-tiba?

Untuk kelas preman dan rawan, tugasnya adalah:

  • memangkas pengeluaran gaya hidup dan kebutuhan tambahan. Penerimaan harus mencukupi untuk membayar semua kebutuhan dasar selama tiga bulan (jadi kalau ada apa-apa selama tiga bulan kita punya serep), zakat, pajak dan investasi yang ke depan bisa membangun penerimaan pasif.
  • mulai membangun penerimaan pasif

Aman: penerimaan pasif = kebutuhan dasar. 
Nah di kelas ini hidup mulai tenang. Semua kebutuhan sudah dicukupi oleh penerimaan pasif yang akan ada tanpa kita harus bekerja sehari-hari, dengan izinNya. Maka gaji, atau penerimaan aktif, bisa dipakai untuk kebutuhan lain-lain, gaya hidup dan untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa.

Hidup mulai bisa tenang dalam kelas ini dan fokus pada hal-hal yang penting. Ini adalah kelas minimal yang harus dituju oleh kita semua. Maka kalau kita belum ada di kelas ini, mulailah membangun penerimaan pasif untuk mencapai kelas ini.

Nyaman: penerimaan pasif = kebutuhan dasar + investasi.

Di kelas ini benar-benar tenang karena penerimaan pasif kita sudah menutup semua kebutuhan dasar dan investasi untuk meningkatkan penerimaan pasif. Maka penerimaan aktif bisa dipakai untuk kebutuhan tambahan dan gaya hidup, seperti jalan-jalan keluarga dan gadget.
Enak kan, semua kebutuhan dasar dan investasi untuk pengembangan bisa ditutup dari penerimaan pasif. Apapun yang akan terjadi pada usaha, atau kalau ada musibah apapun, kita siap menghadapinya. Insya Allah di tingkat ini kita lebih aman dari goncangan kehidupan ekonomi keluarga.

Mapan: penerimaan pasif = kebutuhan dasar + investasi + lifestyle
Penerimaan aktif bisa dipakai untuk sedekah 100% kalau mau. Tabungan akhirat yang akan terus bertambah.
Di tahap inilah kita “kerja untuk passion” dan bukan lagi untuk uang.

Penerimaan pasif bisa diupayakan dalam berbagai hal:
1. bisnis yang sudah jalan otomatis, oleh tim, sehingga sebagai pemilik kita tak terlibat lagi.
2. waralaba, berbagai jenis, dari yang tetap harus dipantau seminggu sekali sampai yang benar-benar lepas tangan.
3. emas: menahan inflasi. Nilainya tak akan ikut turun seperti nilai uang.
4. properti: menyewakan kamar untuk kos-kosan, dll.
5. instrumen keuangan: saham, obligasi, dll. Cermati yang satu ini karena resikonya harus benar-benar dikelola.

Dan untuk semua itu bisa benar-benar tumbuh kembang secara berkelanjutan, jangan lupa, dibutuhkan kedekatan dengan Sang Maha Sumber Rejeki. Karena tanpa izinNya, tak ada yang bisa kita capai.

Sumber: Income Pentagon, ditulis oleh Lyra Puspa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: