Skip to content
Advertisements

Kalau anak tunawisma saja sukses meraih impian masuk Harvard, kita pun dengan izinNya pasti bisa meraih impian

Life takes on the meaning.png

Namanya Liz Murray. Lahir di Bronx, New York, dalam sebuah keluarga pecandu narkoba. Ayah dan ibunya keduanya hidup dari pesta obat ke pesta obat lainnya. Liz hidup dengan penuh limpahan cinta, tapi ibunya tak punya daya membesarkannya dengan ketergantungannya pada obat. Ibunya pernah mencuri uang yang diterimanya sebagai hadiah ulang tahun, menjual kalkun yang diterima dari pemberian, semua untuk membeli obat. Seringkali ibunya muntah sepanjang hari dan harus dirawat oleh anak-anaknya. Di sekolah ia selalu dicela karena bau dan rambutnya penuh kutu. Tak lama ia pun drop out dari sekolah.

Ayah ibunya pun didiagnosa AIDS. Di usia 15 tahun ibunya meninggal dan ayahnya pindah ke penampungan tunawisma karena tak mampu lagi membayar sewa tempat tinggal. Liz pun menjadi homeless

Dalam kondisi ini sebagian besar anak akan menyerah dan mengeluh panjang lebar, menyerahkan nasib pada orang lain dan meminta-minta. Tidak begitu dengan Liz. Tanpa punya tempat tinggal, Liz bersekolah kembali.

Liz makan dari bekas-bekas makan orang lain di tempat sampah. Karena tak ada tempat tinggal ia biasa naik kereta bawah tanah sepanjang malam agar bisa tidur dengan hangat. Tugas sekolah pun dikerjakan di stasiun kereta tempatnya mencari perlindungan dan kehangatan.

Ibu Liz dulu selalu berkata, “Suatu hari saya akan memperbaiki hidup saya.” Saat ibunya meninggal Liz pun merasa bahwa “suatu hari” itu harus terjadi sekarang atau hari itu tak akan pernah datang. Maka Liz menjadi sangat termotivasi sekolah. Ia ngebut menyelesaikan kurikulum satu tahun dalam satu semester dan mengambil kelas malam. Seorang guru tersentuh melihat kegigihan Liz dalam kondisi sangat memprihatikan. Ia pun mulai menjadi mentor bagi Liz.

Suatu hari gurunya mengajak murid-muridnya ke Harvard University. Liz memandang gedung universitas itu dengan penuh kekaguman dan dalam hatinya ia yakin bahwa ia bisa bersekolah di sana.

Dalam kondisi yang sangat mengenaskan Liz berhasil lulus dan mendapatkan beasiswa New York Times scholarship untuk anak-anak tak mampu. Liz pun sukses masuk Harvard University, dan kakaknya, Lisa, berhasil lulus dari  Purchase College di New York State.

Liz kemudian mendirikan Manifest Living, dan menjadi seorang motivator yang sangat menginspirasi. Sebuah film dibuat mengisahkan hidupnya,  Homeless to Harvard: The Liz Murray Story, dan ditayangkan pada tahun 2003. Liz pun menulis buku “Breaking Night” yang diluncurkan bulan September 2010.

Tahun 2013, Liz dianugerahi gelar doktor dalam bidang pelayanan publik. Ia menjadi pembicara kunci, memberikan commencement address di Merrimack College, North Andover, Massachusetts.

Dari seorang murid yang dibully dan dihina di sekolah sampai lulusan doktor yang menginspirasi dan terpilih menjadi wakil angkatannya memberikan commencement address. Apalagi kalau bukan ketekunan, keyakinan untuk sukses, mindset bahwa ia bisa mengendalikan sendiri hidupnya, dengan izinNya.

Kalau kita suka mengeluh orang tua begini begitu, tidak punya uang, tidak punya modal, tidak punya waktu, tidak bisa begini dan tidak bisa begitu, coba ingat-ingat Liz. Ia pun tidak punya semua itu. Tetap saja ia bisa maju dan sukses. Dari stasiun kereta bawah tanah dan makanan tempat sampah sampai gelar doktoral, semua bisa, asal kita berani mengambil kendali akan hidup kita dan tidak membuat alasan apa-apa.

Yuk… apa hal paling berharga yang sahabat-sahabat bisa pelajari dari kisah hidup Liz?

Apa hal termudah dan paling sederhana yang bisa kita lakukan mulai hari ini untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, belajar dari seorang anak tunawisma bernama Liz Murray?

Sumber:

The 23 Most Inspiring People Alive

Liz Murray

Liz Murray: ‘My parents were desperate drug addicts. I’m a Harvard graduate’

Breaking Night: A Memoir of Forgiveness, Survival, and My Journey from Homeless to Harvard

Ditayangkan juga di: Anak tunawisma pun berhasil mencapai impian masuk Harvard. Kita masih cari alasan juga?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: