Skip to content
Advertisements

Jujur dan baik itu wajib dalam setiap kondisi, dalam kondisi sulit sekalipun

the northern.png

Sahabat,

Beberapa kali saya dengar, barang yang haram saja susah, apalagi yang halal. Seakan-akan hidup penuh dengan keterpaksaan untuk menerima ketidak baikan, dan kebaikan adalah sesuatu yang sangat tak terjangkau. Orang yang lurus dan jujur biasanya tidak akan maju, dan bodoh.

Kisah di bawah ini membuktikan bahwa justru kejujuran dan kebaikan itu yang akan membawa keberuntungan dan kekayaan. Bukan sebaliknya. Aku ambil kisah ini dari laman Bu Yuni. Kita simak yuk.

🌿🌹🌿🌹🌿🌹

Seorang istri pengusaha di Washington tak sengaja kehilangan tasnya di dalam rumah sakit di malam musim dingin. Sang pengusaha tampak sangat gelisah, lalu berusaha mencarinya pada malam itu juga. Di dalam tasnya tidak hanya berisi $100.000 atau sekitar Rp. 1.3 miliar, tapi juga ada informasi pasar yang sangat rahasia.

Ketika Anderson, si pengusaha tersebut, tiba di rumah sakit, dia melihat seorang bocah perempuan kurus sedang berjongkok. Bocah itu tampak menggigil di sudut koridor rumah sakit yang sunyi sambil mendekap sebuah tas. Si pengusaha langsung mengenali itu adalah tas isterinya yang jatuh. Ternyata bocah bernama Seada ini, ke rumah sakit menemani ibunya yang sakit keras.

Ibu dan anak yang miskin ini, telah menjual semua barang-barang yang bisa dijual. Uang yang terkumpul juga hanya cukup untuk biaya pengobatan semalam. Apabila tidak ada uang, maka besok akan didepak dari rumah sakit. Malam itu, Seada yang tak berdaya mondar-mandir di koridor rumah sakit. Dia menatap ke atas dan memohon kepadaNya, bertemu dengan seseorang yang baik hati untuk menyelamatkan ibunya.

Tiba-tiba, tas yang terselip di bawah ketiak seorang wanita yang turun terburu-buru dari loteng jatuh tanpa disadarinya ketika melewati koridor rumah sakit.
Mungkin ia merasa masih ada sesuatu di bawah ketiaknya, sampai-sampai tidak sadar tasnya jatuh. Saat itu hanya ada Seada sendiri di koridor. Dia berjalan mengambil tas itu, kemudian bergegas berlari ke pintu. Sayangnya wanita itu telah naik ke sebuah mobil dan berlalu dari hadapannya. Seada kembali ke kamar pasien tempat ibunya dirawat.

Ketika dia membuka tas itu, ibu dan anak ini pun tercengang melihat tumpukan uang tunai di dalamnya. Detik itu juga, terlintas dalam benak mereka kalau uang itu mungkin bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit ibunya. Namun, ibu Seada menyuruh putrinya mengembalikan tas itu ke koridor, menunggu pemiliknya datang mengambilnya. Orang yang kehilangan uang itu pasti sangat cemas.

“Yang harus kita lakukan dalam hidup ini adalah membantu orang lain, kita juga harusnya ikut cemas dengan apa yang dicemaskan orang lain, dan hal yang paling tidak patut kita lakukan adalah serakah dengan harta yang tak jelas asal usulnya,” kata ibu Seada.

Anderson pun mendapatkan kembali tasnya. Dia terharu dengan perilaku bocah itu.
Anderson berupaya membantu perawatan ibu bocah itu. Sayangnya meskipun Anderson sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu Seada tak terselamatkan. Dia meninggalkan anak perempuannya menjadi sebatang kara di dunia.

Anderson kemudian mengadopsi Seada, merawat dan menyekolahkannya.
Setelah mendapatkan tasnya, Anderson bukan saja mendapatkan kembali 100.000 dollar AS miliknya, tapi yang terpenting adalah informasi pasar yang hilang itu akhirnya didapatkan kembali. Hal itu membuat bisnis pengusaha itu seketika melonjak dan menjadi milyuner.

Seada yang telah diadopsi oleh Anderson sejak ibunya meninggal ketika itu, telah menamatkan kuliahnya dan membantu bisnis sang milyuner. Meski Anderson belum memberikan tugas sebenarnya, namun dalam praktik jangka panjangnya, kecerdasan dan pengalaman Anderson telah memengaruhi Seada secara tidak langsung. Hal itu menjadikan Seada sebagai sosok orang yang matang.

Saat memasuki usia senjanya, Anderson selalu meminta pendapat Seada mengenai pandangannya. Detik-detik menjelang masa kritisnya, Anderson meninggalkan sebuah surat wasiat yang mengejutkan. Begini bunyi surat itu.

“Saya sudah kaya sebelum mengenal ibu Seada. Namun, ketika saya berdiri di depan ibu dan anak yang miskin dan sedang sakit yang tidak tergoda dengan setumpuk uang yang dipungutnya itu, apalagi saat itu mereka sedang membutuhkan uang, saya merasa mereka bahkan jauh lebih kaya dari saya, karena mereka memegang teguh prinsip hidup yang mulia. Itu adalah prinsip yang sangat minim dimiliki pengusaha.”

“Harta yang saya dapatkan semuanya ini hampir berasal dari berbagai trik dan intrik. Adalah mereka yang membuat saya sadar bahwa modal hidup terbesar dalam hidup seseorang adalah perilaku.”

“Saya mengadopsi Seada bukan untuk balas budi, juga bukan karena simpati. Tapi saya mengundang sesosok tauladan. Dengan adanya dia di sisi saya, saya bisa mengingat hal mana yang pantas atau tidak dilakukan dalam bisnis. Inilah alasan pokok saya belakangan yang membuat usaha saya terus berkembang makmur, dan saya menjadi milyuner.

Setelah kematian saya, seluruh harta dan aset saya wariskan pada Seada sebagai penerusnya. Ini bukan hadiah, tapi demi agar usaha saya bisa lebih gemilang, saya yakin putra saya yang pintar bisa mengerti dengan pertimbangan matang saya selaku ayahnya.”

Ketika putra Anderson pulang dari luar negeri, dia membaca dengan seksama surat wasiat ayahnya. Dia segera tanpa ragu sedikit pun menandatangani persetujuan tentang surat warisan terkait harta termaksud.

“Saya setuju Seada mewarisi seluruh aset ayah saya. Saya hanya meminta Seada menjadi isteri saya,” katanya.

Melihat putra Anderson menandatangani surat persetujuan warisan tersebut, Seada merenung sejenak, lalu membubuhkan tandatangan.

“Saya terima seluruh harta maupun aset dari Anderson – Termasuk putranya.”

🌿🌹🌿🌹🌿🌹

Kalau saja Seada tidak mengembalikan tas berisi uang tersebut kepada pemilikya, belum tentu nasibnya sedemikian baiknya. Dan Anderson percaya benar bahwa kejujuran dan kebaikan inilah yang dibutuhkan oleh bisnisnya untuk berkembang pesat.

Dan terlepas dari apapun ganjarannya, sebagai manusia, kita dilahirkan hanya untuk berbuat kebaikan dalam jalanNya, sebagai ibadah bagi Sang Pencipta. Kita tidak dilahirkan untuk keburukan. Maka, marilah kita benar-benar menjadi manusia sesuai tujuan Sang Pencipta menciptakan kita.

Ganjaran sudah pasti ada, dan sudah pasti lebih baik, tapi marilah kita tak lagi hanya membahas ganjaran. Marilah kita berbuat benar-benar sesuai identitas kita sebagai manusia, yang diciptakan baik, dan sejahtera hanya dengan mensejahterakan.

Terima kasih banyak pada Ibu R. Ay Tri Wahyuniati Subali yang sudah berbagi kisah di atas.

Advertisements

2 Comments »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: