Skip to content
Advertisements

Masih bisa sok tahu atas perintahNya?

Maha Kuasa.png

Nabi Nuh as diperintahkan membuat kapal di atas gunung. Semua orang tertawa dan menghinanya, memanggilnya dengan sebutan laki-laki gila dan bodoh. Siapa yang menyangka bahwa ada banjir dan hanya kapal itu yang bisa menyelamatkan semuanya.

Nalar vs iman. Tak masuk akal, tapi perintahNya terbukti menyelamatkan semua yang beriman dan mau mengikuti petunjukNya.

Kisah keluarga Nabi Ibrahim as adalah kisah yang sarat dengan hal-hal yang tak masuk akal dan butuh iman yang kuat. Bayangkan seorang ayah yang bertahun-tahun menginginkan seorang anak, saat lahir Allah memerintahkannya untuk membawa istri dan bayinya ke padang pasir tandus tanpa kehidupan dan meninggalkannya di sana.

Tak masuk akal? Tapi ini perintahNya.

Dan istrinya tenang, karena kalau perintahNya, pasti Allah sudah siapkan jalan keluarnya dan limpahkan kebaikan bagi semua yang taat. Dan iman pun berbuah manis. Ada zam-zam yang tiba-tiba keluar, ada kelompok musafir yang sedang membutuhkan air. Jadilah cikal bakal kota Mekah dibangun oleh seorang ibu yang ditinggal di tengah padang pasir. Tak masuk akal, karena memang akal manusia tak bisa menggapai ilmu Allah.

Bayi ini tumbuh besar, menjadi pemuda tampan dan baik. Tiba-tiba ayahnya bermimpi bahwa Allah menyuruhnya untuk mengorbankannya. Tak masuk akal, tapi ini perintahNya. Dan Nabi Ismail pun sabar, karena tahu ini perintahNya. Tak masuk akal, kambing tiba-tiba muncul menggantikan Ismail as. Dan sampai sekarang inilah cikal bakal Iedul Qurban, sarana umat manusia mensucikan diri.

Di masa Nabi Musa as pernah terjadi pembunuhan misterius. Tak ada yang bisa tahu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut, dan siapa yang harus dihukum. Tentu hal ini menimbulkan keresahan. Maka Nabi Musa as pun memerintahkan kaumnya untuk mencari sapi betina. Kaumnya bingung dan menjadi sangat rewel. Apa hubungannya sapi betina dengan investigasi pembunuhan?

Mereka bertanya dengan sangat detil, sapi seperti apa, warnanya apa, apa cirinya? Berbagai jawaban Nabi Musa as tak juga memuaskan kaumnya. Ributlah semua orang mempertanyakan dan mempermasalahkan perintah ini.

Akhirnya sapi tersebut ada dan diberikan kepada Nabi Musa as. Sapi pun disembelih. Sebagian dagingnya dipukulkan kepada jenazah orang yang dibunuh. Tiba-tiba dengan izinNya jenazah korban pembunuhan tersebut bangun dan hidup kembali. Ia pun bercerita mengenai siapa yang membunuhnya dan apa yang terjadi dengannya.

Barulah kaum Nabi Musa as mengerti, bahwa mencari sapi yang mereka pertanyakan dan terus permasalahkan hanya syarat dari Sang Maha Tahu dalam memberikan jawaban yang mereka sedang cari.

Dan kejadian inipun diabadikan oleh Allah dalam surat Al Baqarah 67-73. Nama surat inipun diambil dari kejadian tersebut. Allah ingin mengajarkan kita bahwa ilmuNya sangatlah luas dan tak terjangkau oleh nalar manusia. PerintahNya seringkali tidak kita mengerti karena nalar kita “tidak sampai” dengan keterbatasan ilmu kita. Tak perlu bingung atau resah, jalani saja, teliti dan lakukan riset dengan dasar iman. Pasti jalanNya akan terbuka dan suatu hari kita akan menemukan hikmahNya.

Apa arti kisah-kisah di atas bagi kita, sahabat? Bagaimanakah kita bisa lebih taat menjalankan perintahNya tanpa harus memilih berdasarkan nalar kita yang terbatas?

Kini kita banyak sekali menghadapi ujian. Ada kanker, ada masalah ekonomi, ada urusan keluarga. Tapi dijamin tak akan sebesar masalah-masalah di atas. Akal sehat mengajak bersedih, mengeluh, mencari siapa yang salah. Allah mengajak sabar dan syukur. Pasti ada jalan keluar, dan Alah jamin semua kehidupan pasti terpenuhi. Semua sakit ada obatnya.  Khusus bagi yang sabar dan syukur pasti dilimpahkan banyak karunia. Tak masuk akal? Masak kanker terus bersyukur? Masak dikhianati pasangan harus sabar, apalagi syukur? Aneh. Tak masuk akal. Tapi itu perintahNya. Lalu kita mau sok tahu?

Bagaimanakah kita bisa membuka mata dan hati lebih lebar untuk melihat bahwa ilmuNya seluas samudra, dan ilmu kita hanya seujung celupa jari di samudra itu? Bahwa janjiNya pasti benar dan kita tinggal berpegang padaNya?

Bagaimanakah kita bisa berhenti sombong dan sok tahu, merasa bisa menentukan segala hal tanpa ketentuanNya? Merasa bisa dan kuat menanggung semua di pundak sendiri tanpa menyerahkan segala urusan padaNya?

Bagaimanakah kita bis berhenti merasa derita kita paling hebat sedunia dan mulai melihat bahwa banyak sekali orang yang lebih besar ujiannya dan membuktikan bahwa sabar dan syukur itu bisa, bahkan mudah kok?

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: