Skip to content
Advertisements

Keabadian itu pasti adanya, tidak bisa dipilih atau dihindari. Siapkah kita?

img_1923

Suatu hari seorang guru sedang menyampaikan mengenai hidup abadi di surga, dan bagaimana strategi hidup untuk bisa mencapainya. Seorang pemuda dengan lantang berkata, “Nggak penting seperti itu. Yang penting kita semua berbuat baik saja dan tidak mengaggu orang lain.”

Maka Sang Guru pun menyampaikan, “Allah memerintahkan kita agar kita mengejar surga yang abadi, dan menghindari neraka yang abadi. Kalau Allah sampaikan maka tentu harus dikejar kan?

Banyak orang bilang kita hidup cuma sekali, jadi nikmati saja, ngapain dibatas-batasi? Tidak benar. Yang benar adalah kita “hidup di dunia hanya sekali.” Setelah itu ada akhirat yang persiapannya harus dilakukan di dunia.

Keabadian ini pasti adanya. Tidak bisa dipungkiri lagi, dan kita tidak bisa memilih. Kita tidak bisa bilang, aku hanya ingin hidup di dunia ini saja dan tidak mau hidup di akhirat. Tidak bisa. Dan akhirat itu hanya ada dua, nikmat di surga atau sengsara di akhirat. Hanya dua itu. Jadi tidak bisa dihindari, dan kita harus pilih, hidup abadinya nanti mau nikmat atau mau sengsara?

Kita tidak bisa hanya berusaha berbuat yang baik dan tidak mengganggu orang lain tanpa panduan. Apa yang disebut manusia baik menurut perasaannya belum tentu baik secara hakiki, belum tentu mendapat ridloNya. Karena Allah sudah memberi tahu bahwa setan si musuh utama akan membuat apa yang buruk terlihat seakan-akan indah dipandang mata dan dirasa di hati.

Coba lihat mereka yang berhubungan tanpa status nikah. Rasanya indah dan mesra, berbunga-bunga, “love is beautiful” kalau kata pelakunya. Indah dan seakan-akan baik, tak mengganggu siapa-siapa, wong dua-duanya suka dan masih remaja. Siapa yang dirugikan? Atau meminum minuman keras, nggak ganggu kok, hanya sedikit-sedikit saja. Yang rasanya sedikit bisa membukit, bisa membuat orang lain ingin, akhirnya yang “baik” dan “tidak mengganggu orang lain” tak lagi punya arti saat uang habis untuk minum, dan liver berkurang fungsinya.

Kita tidak bisa menggunakan ukuran “baik” dan “tidak mengganggu” tanpa panduan. Apa yang “baik” dan “tidak mengganggu” haruslah dalam rangka mengejar ridloNya, mendapat izinNya, dan akhirnya, mendapat surgaNya.

Mereka yang mengejar keabadian nikmat di surga hidupnya akan tenang. Mungkin mereka tidak bersenang-senang clubbing atau banyak bergembira ria. Mungkin mereka terlihat aneh karena banyak ibadah, banyak puasa, menghabiskan waktu membaca quran. Mereka tidak kejar nikmat dunia, tapi hati mereka tenang karena mereka tahu selalu ada yang menjaga. Jiwa mereka bahagia karena mereka tahu mereka selalu disayang. Kalbu mereka penuh syukur dan pikiran mereka penuh dengan berbuat baik untuk Allah.

Mereka yang mengejar keabadian surga akan memperoleh nikmatnya dunia. Bukan megahnya dunia atau kesuka riaan dunia, dari “hidup yang hanya sekali” tapi mereka akan diberikan rasa bahagia yang hakiki. Mereka tak pusing masa lalu karena tahu Allah sudah tetapkan semua, untuk apa pusing. Mereka tak khawatir masa depan karena yakin apapun yang akan terjadi semua pasti baik.

Mereka tak gundah gulana saat sakit, sakit keras sekalipun, karena tahu bahwa dosa-dosanya sedang dihapus dan mereka bisa makin dekat dengan Sang Pencipta.
Mereka tak risau saat ditipu, dihina, difitnah, dicaci maki di belakang punggun mereka, dikhianati, dicurigai, karena mereka tahu semua itu ujian yang mereka harus lalui.

Mereka juga tahu bahwa suatu hari di akhirat nanti uang yang diambil orang lain, hinaan orang lain, fitnah, pengkhianatan, caci maki, dan berbagai keburukan yang mereka hadapi dengan sabar di dunia itu, akan diganti menjadi nilai kebaikan yang mendekatkan mereka ke surga.

Itulah sebabnya orang yang mengejar surga akan mendapat dunia.

Dengan ketenangan jiwa, dengan kebahagiaan, dengan hati yang selalu bersyukur, mereka akan menerima makna sesungguhnya dari “hidup yang hanya sekali di dunia.” Fahamkah kini, saudaraku?” tanya sang guru.

Pemuda inipun mengangguk terdiam. Masih susah nampaknya mencerna semua, tapi pelan-pelan hatinya tersenyum. “Panjang jalanku untuk memahaminya, semoga aku bisa pelan-pelan ya,” batinnya dalam diam. Terlalu malu untuk mengucap apa-apa di hadapan sang guru.

Bagaimana dengan kita sahabat?

Apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik lagi untuk bisa mengejar keabadian nikmat surgaNya?

Ibnu Qayyim yang berkata bahwa pelaku dosa memiliki tiga buah sungai yang sangat besar sebagai tempat dia menyucikan dirinya di dunia. Jika tidak melakukannya, dia akan dicuci di sungai neraka jahim pada hari kiamat kelak. Tiga sungai itu ialah:

  • sungai tobat yang tulus,
  • sungai hasanah (kebajikan) yang akan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang menempel pada dirinya,
  • dan sungai musibah besar yang mengikis dosa.

Mau yang manakah kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: