Skip to content
Advertisements

Ayah tak ada? Tak apa-apa, karena yang mengurus kita sesungguhnya adalah Allah.

rizki.png

Pada masa hidupnya, Hatim Al Ashom adalah seorang ulama besar, teladan kesederhanaan dan tawakal. Ia memiliki seorang istri dan sembilan orang putri. Suatu hari Hatim menyampaikan niatnya bahwa ia ingin pergi menuntut ilmu lebih tinggi untuk waktu yang lama. Istri dan anak-anaknya pun menyatakan keberatan hati. Mereka khawatir, siapa yang akan menjaga dan memberikan mereka makan, kalau ayahnya tak ada.

Tiba-tiba seorang putrinya, yang berusia sepuluh tahun dan hafal Al Quran, berkata, “Biarkanlah Ayah pergi. Ayah telah menyerahkan kita semua kepada
Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!”

Saudara-saudara dan ibunya terhenyak dan sadar bahwa ada Allah yang akan menjaga mereka. Dengan berat hati dilepasnya sang ayah. Hatim pun pergi.

Hari demi hari berlalu, malam datang menjelang. Keluarga ini mulai kelaparan, tak ada yang bisa dimakan. Maka semua mulai menyalahkan saudaranya yang berusia sepuluh tahun ini. Putri yang hafal Quran ini pun kembali mengingatkan ibunya dan saudara-saudaranya yang sedang kelaparan, “Ayah menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!”

Namun mungkin sulit bagi saudara-saudaranya untuk tetap tenang dan yakin di saat mereka sedang lapar. Tiba-tiba dalam suasana ini pintu rumah mereka diketuk. Ternyata ada serombongan penunggangu kuda di depan rumah mereka.

Pemimpin rombongan pun bertanya, “Adakah air di rumah kalian?”
Yang membukakan pintu pun menjawab, “Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.”

Maka air pun dihidangkan dan semua rombongan meminum air melepas dahaga. Selesai minum, pemimpin rombongan pun bertanya, “Rumah siapa ini?”
“Hatim al Ashom,” jawab putri Hatim.
“Hatim ulama besar muslimin?” tanya sang pemimpin rombongan terkejut. Ia pun kemudian mengeluarkan kantong berisi uang dan dilemparkannya ke dalam rumah untuk sang pemilik rumah. Lalu ia berkata, “Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan.”

Maka para penunggang kuda lain pun melempar kantong uang sampai sulit pintu rumah ditutup saking banyaknya uang. Rupanya pemimpin rombongan ini adalah Abu Ja’far Al Manshur, Amirul Mukminin.

Putri-putri Hatim memandang haru. Dan putrinya yang berumur sepuluh tahuh dan penghafal Quran kemudian berkata, “Jika satu saja pandangan makhluk bisa mencukupi kita, bagaimana jika yang memandang kita adalah Al Khaliq?”

Sahabatku,

Ingatlah selalu bahwa ada Allah yang selalu mencukupi hidup kita. Kekurangan, sakit, kelaparan, semua adalah ujian hidup yang sengaja Ia berikan karena Ia ingin membahagiakan kita di surgaNya nanti.

Tak mungkin kita bisa masuk surgaNya tanpa melalui ujian. Maka marilah kita jalani ujian apapun dalam hidup ini dengan tetap berpegang teguh pada panduanNya, jalanNya.

Jangan gadaikan hidup hanya demi uang.
Jangan cari rizki dari jalan yang tak diridloiNya.
Karena rizki bisa tetap diberikan sebagai ujian yang lebih berat,
ujian yang melalaikan.

Isi hati selalu dengan doa dan permohonan hanya padaNya.
Rizki kita ada di langit,
Bukan di kantor,
Bukan di boss,
Bukan di jabatan.

Sumber inspirasi:
http://pondokjamil.atturots.or.id/berita-rizkiku-ada-di-langit-bukan-di-tempat-kerja.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: