Skip to content
Advertisements

Belajar dari seorang ayah teladan dunia sepanjang zaman

dream.png

Ada seorang laki-laki. Sudah lama ia tak dikaruniai anak. Lama ia meminta kepada Allah swt agar dikaruniai anak. Dan suatu hari alhamdulillah istrinya pun hamil, dan seorang putra lahir dengan sehat.

Tentu sangat bahagia hati laki-laki ini. Dirawatnya bayi laki-laki yang cakap dan pintar ini. Anak ini sungguh telah menjadi buah hati, kecintaan dan sumber kebahagiaannya. Seluruh keluarga besarnya pun bahagia dan bangga atas kelahiran bayi ini.

Suatu hari Allah swt memerintahkannya untuk mengajak istrinya ke padang pasir. Dan diikutinya perintah Allah swt. Yang memberikan istri dan anaklah yang memerintahkan anak dan istrinya ke padang pasir. Tak masuk dalam akalnya untuk menolak. Tak mungkin pula ia mengeluh atau protes, mengatakan yang memerintahkannya ini tak adil. Ia adalah hamba, dimiliki oleh Allah, maka saat yang memilikinya, menciptakannya ini memberikan perintah, tentu ia akan patuh.

Dan di padang pasir, Allah memerintahkannya pula untuk ditinggal di padang pasir. Tak ada terbersit sedikitpun dalam benak laki-laki, suami dan ayah ini untuk protes. Ia pun mengatakan pada istrinya yang belum lama melahirkan, bahwa ia harus meninggalkan istrinya di sana.

Dan istrinya lalu bertanya, “Apakah ini perintah Allah?”

Suaminya pun mengangguk perlahan. Didoakannya lembah padang pasir itu agar suatu hari tempat yang tak berpohon, kosong dan tak ada kehidupan itu, menjadi sebuah kota yang makmur dan sejahtera.

“Inilah rumahMu yang mulia, ya Allah. Sejahterakanlah tempat ini,” doa laki-laki ini, yang sudah tahu bahwa lokasi ini adalah lokasi rumah Allah.

Dan istrinya pun diam dan tenang, meskipun lembah ini kosong, panas terik gersang, dan tak ada kehidupan sama sekali. Kalau Allah yang memerintahkan, pasti Allah akan memeliharanya dan putranya. Istrinya dengan berlari-lari bekerja keras mencari air untuk bayinya. Dan alhamdulillah muncullah mata air dari dalam tanah, yang kemudian disebut zam zam.

Sebuah rombongan kafilah berlalu dan tinggal bersama mereka. Sang istri pun dapat membesarkan anaknya menjadi anak yang sangat pintar, sholeh, beriman dan giat bekerja. Terbentuklah sebuah komunitas perkampungan di sana. Inilah awal muasal kota yang sangat mulia di kemudian hari.

Lalu datanglah si ayah. Ia pun bahagia melihat anak dan istrinya hidup dengan baik dan bahagia. Dan disaksikannya doanya dikabulkan Allah. Kampung tersebut tampak sejahtera dan makmur. Ia pun berkumpul kembali bersama keluarganya.

Tiba-tiba ia bermimpi, dan dalam mimpinya ia diperintahkan untuk mengurbankan anaknya.

Bayangkan.. seorang ayah yang awalnya sangat merindukan seorang anak, diberi anak, dan diperintahkan untuk meninggalkan anak yang masih bayi itu di lembah padang pasir kosong dan gersang, dan lalu setelah bisa berkumpul lagi, anak ini harus dikurbankan.

Laki-laki mana yang tidak sedih?

Tapi inilah kehebatan seorang laki-laki bernama Ibrahim as. Ia menerima perintah tersebut. Maka disampaikannya mimpi tersebut pada anaknya.

Dan inilah luar biasa anaknya. Bayangkan seorang anak yang tak pernah bertemu dengan ayahnya, dan saat baru saja bertemu, melepas rindu, ayahnya menyampaikan bahwa ia harus mengorbankannya sebagai anak. Dan ia taat dan patuh.

“Kalau ini perintah Allah, jalankanlah, ya ayah,” tegasnya dengan tenang.

Ayahnya pun bersyukur mendengarnya. Ia pun melaksanakan perintah tersebut. Dan saat itulah Allah mengganti anaknya dengan seekor kambing.

Merekapun larut dalam haru dan memuliakan Allah swt yang Maha Pengasih Penyayang. Dan sekali lagi sesuai perintah Allah, mereka bekerja bersama mendirikan kembali rumah Allah, kabah, yang menjadi arah shalat seluruh umat Islam seluruh dunia.

Inilah kisah sebuah keluarga luar biasa. Sebuah keluarga beriman yang Allah abadikan dan muliakan di bulan Dzulhidjah ini. Jutaan manusia merayakan kisah Hajar yang ditinggal bersama bayi Ismail as di tengah lembah padang pasir. Jutaan menikmati zam zam yang dikumpulkan oleh Siti Hajar. Jutaan pula melaksanakan sai, perjuangan sang ibu mencari air. Milyaran menghadapkan wajah ke arah Kabah yang mereka bangun bersama. Milyaran pula menyembelih kurban dan berbagi dengan kaum dhuafa.

Inilah kisah ikhlas yang berbuah amal jariah luar biasa, terus membawa manfaat kebaikan sampai akhir zaman, bagi keluarga mulia ini dan seluruh umat Islam seluruh dunia sampai akhir zaman.

Luar biasa.

Kalau Ramadlan mengajak kita belajar dari diri kita sendiri, saat kita membuktikan diri bahwa kita mampu mengendalikan nafsu, Dzulhidjah mengajak kita belajar dari sebuah keluarga yang luar biasa.

Belajar ikhlas, menerima semua ketentuan Ia yang menciptakan kita.
Belajar taat, pada Sang Maha Pemberi hidup.
Belajar percaya, bahwa selama kita mengikuti perintahNya, pasti kita akan dipelihara olehNya.
Belajar untuk tidak galau, karena selalu ada Yang Maha Pengasih Penyayang yang menjaga dan melindungi kita.
Belajar untuk berserah diri, total, hanya berserah padaNya. Mempercayakan anak istri pada penjagaanNya.

Dan apakah arti kisah di atas bagi sahabat sekalian?
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?
Bagaimanakah kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, belajar lebih baik lagi dari Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, dalam menghadapi berbagai ujian hidup kita?

Hal terbaik apa yang dapat kita lakukan sesegera mungkin hari ini, belajar dari kisah ini?
 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: