Skip to content
Advertisements

Iman yang membawa kebaikan sampai akhir zaman

Allah loves you.png

Ada seorang ibu dengan anaknya yang masih bayi, diajak suaminya pergi. Sebagai istri yang patuh dan sholehah ia tak bertanya ke mana. Diikutinya saja suaminya pergi.

Sampailah mereka ke padang pasir. Disusurinya padang pasir tersebut. Dan tiba-tiba suaminya berkata, “Kutinggalkan kau di sini, istriku.”

Ibu muda ini terkejut melihat padang pasir yang luas tak bertepi, dan ia ditinggal sendiri bersama bayinya. Dipandanginya suaminya. Ia tahu suaminya adalah orang yang sangat baik dan tak mungkin menjerumuskannya. Ia pun bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu meninggalkan kami di sini, suamiku?”

Suaminya mengangguk lemah. Ia pun tak tega tapi inilah perintah Allah yang harus dipatuhinya. Lalu ia pun berlalu, pergi meninggalkan istrinya berdua dengan bayinya.

Si ibu tersenyum tanpa rasa khawatir sedikitpun. Suaminya baik dan ia percaya akan kebaikan hati suaminya. Tapi Tuhannya lebih baik lagi dan tak mungkin membiarkannya susah. Ia yakin, percaya bahwa ia akan diselamatkan, kalau hal ini adalah perintahNya.

Ia pun melihat pada tempat minumnya yang kecil. Sebentar lagi airnya habis padahal bayinya harus diberi minum. Maka dipanjatnya bukit di dekatnya. Dari bukit itu ia bisa melihat bukit lainnya di kejauhan, dan nampak ada air di sana. Ia pun berlari kecil menuju bukit kedua. Di sana tak ditemukannya air. Tapi ia melihat ke bukit pertama, ia lihat lagi ada air. Maka ia kembali berlari ke bukit sebelumnya. Demikian sampai tujuh kali bolak balik.

Setelah tujuh kali, tiba-tiba di pasir dilihatnya ada air memancar keluar. Dengan Bahasa Kibti, ia pun berkata “Zam zam,” yang artinya, berkumpullah. Maka dibentuknya pasir di sekitar air tersebut seperti bendungan kecil untuk mengumpulkan air tersebut agar ia mudah menampungnya dan minum darinya.

Air di padang pasir mudah dicium oleh burung-burung. Dan mulailah burung-burung datang tertarik pada air tersebut. Burung-burung tersebut terlihat oleh sekelompok musafir yang sedang berjalan dengan unta menuju wilayah selatan. Mereka berasal dari wilayah utara dimana bendungan mereka roboh dan pohon buah-buahan tak lagi ditemukan. Mereka ingin pergi ke selatan di mana tanahnya sangat subur dan sangat banyak buah-buahan dan makanan lainnya.

Mereka kepanasan dan sangat senang melihat burung-burung berputar-putar menandakan ada sumber mata air di sana. Maka mereka pun menghampiri sumber mata air tersebut dan menemukan seorang ibu dan bayinya yang sedang menikmati air tersebut.

“Wahai Ibu, kami ingin minum dan beristirahat. Perjalanan kami panjang. Bisakah kami tinggal di sini dan membangun perkemahan? Kalau boleh kami akan membayar upeti kepadamu,” tanya pimpinan rombongan tersebut.

“Boleh, silakan,” jawab ibu tersebut.

Dan sejak saat itu tempat itupun berkembang menjadi pemukiman yang tumbuh menjadi kota suci Mekah. Ibu tersebut adalah Siti Hajar, bayinya Nabi Ismail as, dan suaminya Ibrahim as. Air yang mengalir melalui mata air tersebut sampai sekarang dikenal dengan air zam zam dan lintasan dua bukit yang disebut Bukit Safa dan Marwa menjadi ritual haji yang dilaksanakan sampai sekarang.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim membangun kembali kabah dan untuk itulah ia diminta meninggalkan istrinya dan anaknya untuk memulai pembangunan kota Mekah di tengah padang pasir di mana dulu Nabi Adam as membangun kabah untuk pertama kalinya, yang hancur saat banjir bandang Nabi Nuh as melanda.

Nabi Ibrahim tak punya pengetahuan apapun akan hal ini. Ia hanya patuh. Begitu juga Hajar. Coba kalau mereka hanya mengandalkan akal sehat dan tak punya iman. Seorang suami meninggalkan istri dan bayinya di tengah padang pasir, pasti semua orang bilang, gila. Pasti suami tersebut tak mau, apalagi istrinya. Tapi dari sinilah Allah sukses menguji keimanan hamba-hambaNya yang dicintaiNya, dengan istana tersedia dalam surga.

Karena zam zam dan ritual Safa Marwa ada berkat perjuangan Siti Hajar, maka keduanya menjadi amal jariah Siti Hajar. Bayangkan berapa banyak orang yang minum zam zam, dan Siti Hajar mendapat pahalanya, berapa banyak orang yang melintas Safa Marwa dan Siti Hajar mendapat pahalanya. Semua berkat keimanannya, keyakinannya bahwa Allah sangat mencintainya lebih dari apapun dan tetap tenang meskipun ia diperintahkan untuk ditinggal di tengah padang pasir seorang diri bersama bayinya.

Semua berkat iman, semua berkat keyakinan tak tergoyahkan.

Kira-kira apa yang bisa kita lakukan lebih baik lagi hari ini, dengan dasar keimanan lebih besar dan kuat akan cinta kasihNya pada kita?

Kira-kira apa amal jariah yang bisa mulai kita bangun hari ini untuk bisa membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya umat sampai akhir zaman?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: