Skip to content
Advertisements

Merdeka! Sudahkah kita merdeka dari kita?

merdeka!!.png

Merdeka!!

Di bulan Agustus, apalagi di tanggal 17 Agustus, ucapan ini sangat lazim kita ucapkan. Merdeka! Merdeka dari berbagai bentuk penjajahan, agar kita bisa mewujudkan cita-cita mulai, menjadi manusia seutuhnya, menjadi bangsa yang menentukan sendiri nasibnya ke depan.

Kita mungkin sudah tak lagi dijajah seperti dulu kita dijajah Belanda atau Jepang, tapi yang paling mendasar dan perlu kita pertanyakan pada diri kita sendiri, sudahkah kita merdeka dari kita?

Sudahkah kita merdeka dari kepercayaan-kepercayaan diri yang tak bermanfaat?
Ah saya mah siapa?
Biasa apa saya ini? Bisa apa team ini, perusahaan ini?
Masa lalu saya suram, nggak usah mimpi punya masa depan yang lebih baik.
Bukankah kepercayaan ini yang menjajah kita dan membuat kita tak mampu maju dan keluar dari comfort zone?

Bagaimana kita bisa menjadi “manusia seutuhnya” atau punya peran untuk membangun keluarga, komunitas, perusahaan, dan akhirnya bangsa yang menentukan nasib ke depan kalau kita membelenggu sendiri nasib kita dengan kepercayaan-kepercayaan ini?

Sudahkah kita merdeka dari kebiasaan-kebiasaan pembawa kegagalan?
Seperti suka menyalahkan orang lain..
Bukan salah kita. Lihat tuh kliennya seperti itu. (Ya kesempatan dong, kenapa klien malah disalahkan?)
Seenaknya kasih masukan. Team kita ok-ok saja, team yang itu lebih parah dari kita (terus kalau dia lebih parah apa kita nggak punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, gitu?)

Kasih alasan..
Maaf telat, macet. (Baru tahu Jakarta macet?)
Perekonomian parah, kita nggak punya kesempatan lebih baik. (Justru lagi parah banyak perusahaan yang mampu mengambil kesempatan malah menonjol, bukan?)

Denial..
Nggak kok.. kita adalah team paling hebat sedunia. (Padahal angka sudah berdarah-darah).
Siapa bilang aku nggak keren? Keterlaluan, menyebalkan. (Padahal banyak banget yang bisa diperbaiki supaya bisa lebih keren).

Setiap manusia diberikan berbagai potensi dan kesempatan untuk mewujudkan impiannya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarganya, komunitasnya, dan bangsanya.
Dan manusia diberikan berbagai ujian untuk mengasah berbagai potensi tersebut, sekaligus sebagai pembuka kesempatan untuk menjadi lebih maju.
Tapi sudah takdirnya manusia juga diberikan pendamping setan si penggoda, ego dan nafsu diri,
Yang menjajah si potensi untuk bisa maju lebih baik.

Pikiran yang tak merasa mampu untuk mengatasi berbagai ujian itu, membuatnya lebih nyaman menyalahkan orang lain, mengeluarkan berbagai alasan, dan menolak melihat kenyataan.
Dengan demikian mereka punya pembenaran untuk tidak maju.
Punya penjajah yang diciptakan diri sendiri untuk melangkah menjadi lebih baik dan berkontribusi lebih banyak.

Merdeka itu repot, merdeka itu tidak nyaman.
Merdeka itu membutuhkan kemampuan untuk mengakui bahwa kita punya kekurangan,
Dan tidak bisa menunjuk penjajah di luar sana sebagai alasan untuk tidak maju.

Merdeka membutuhkan kemampuan untuk menyadari bahwa kita diciptakan dengan dasar cinta oleh Sang Maha Cinta, untuk disebarkan ke segala penjuru dunia.
Merdeka meminta kita melihat bahwa setiap ujian adalah pintu dariNya yang harus kita buka (unlock) agar kita bisa maju ke tingat lebih tinggi, menyebar lebih banyak cinta, membawa lebih banyak manfaat, mewujudkan lebih banyak keberkahanNya,
Menjadi manusia lebih baik, lebih utuh.

Merdeka memaksa kita untuk mengakui bahwa kita bisa
Bahwa Sang Pembuat Permainan Hidup tak pernah salah memberikan tingkat kesulitan hidup untuk kita atasi bersama.
Bahwa kita sudah lengkap seutuhnya, dengan segala kemampuan, pengalaman, keluarga, team, teman, sahabat, untuk membuka pintu menuju kelas yang lebih tinggi.

Tanpa perlu sembunyi dari kenyataan, menyalahkan, atau mengeluarkan alasan,
Yang menjajah diri dari kekuatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Kita bisa, sahahat, dengan izinNya, dengan ridloNya, tak ada yang tak mungkin.
Berserah diri saja pada Yang Maha Besar, Pencipta Alam Semesta,
Yang menciptakan kita merdeka untuk berfikir, merasa dan memilih.
BersamaNya, insya Allah kita benar-benar merdeka.

Bismillah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: