Skip to content
Advertisements

Jangan resah karena tak ada uang, segalanya di sisi Allah selalu lebih baik

manusia paling cerdas (1)

Banyak orang suka mengeluh:

“Sudah shalat, puasa, sedekah, pokoknya semua sudah dijalankan, kok Allah nggak datang datang juga rejeki dari Allah?”
“Kok dia shalat cuma shalat ied bisa kaya banget?”
“Saya sudah tinggalkan segala pekerjaan yang membawa dosa, tapi kok saya nggak diberikan pengganti? Sementara teman yang terus bekerja di sana bisa menikmati banyak rejeki?”

Dan akhirnya banyak yang bilang, “Allah tidak adil.”

Coba kita tengok sebuah kisah yuk:

Ada dua sahabat, yang satu senang dengan kemewahan dunia, yang satu hanya berharap mendapatkan surga.
Sahabat yang senang kemewahan punya rumah sangat indah di atas bukit.
Sahabat satunya pergi ke sana, dan bertanya, “Bagus sekali rumah ini. Berapa harganya?”
“Seribu dinar,” kata temannya.

Maka sahabatnya pulang dan berdoa pada Allah, “Saya ingin membeli rumah seperti itu di surga, ya Allah. Maka saya akan sedekah seribu dinar.”
Ketika bertemu, ia pun ditanya sahabatnya, “Kok belum beli rumah?”
Dijawabnya, “Aku sudah beli rumah di surga dengan seribu dinar.”
Sahabatnya tertawa terbahak-bahak.
“Hidup hanya sekali. Nikmati saja.”

Sahabat yang senang kemewahan lalu menikah. Ia menghabiskan uang seribu dinar juga.
Maka sahabatnya pun berdoa, “Ya Allah, saya ingin melamar bidadari dengan seribu dinar. Aku akan sedekahkan seribu dinar.”
Saat ditanya sahabatnya ia pun menjawab, “Aku sudah melamar bidadari di surga dengan seribu dinar.”
Maka sahabatnya pun tertawa terbahak-bahak.
“Hidup hanya sekali. Nikmati saja.”

Sahabat yang senang bermewah-mewahan pun kemudian membeli kebun seharga seribu dinar.
Dan sahabat satunya lagi berdoa, “Ya Allah, izinkanlah aku membeli kebun surgamu dengan seribu dinar.”
Saat sahabatnya bertanya ia berkata, “Aku sudah membeli kebun di surga.”
Maka sahabatnya pun tertawa terbahak-bahak.
“Hidup hanya sekali. Nikmati saja.”

Dan akhirnya sang sahabat yang senang kemewahan meninggal dalam kemewahan.
Sahabatnya meninggal seadanya. Uangnya habis disedekahkan dan ia tak minta dibalas di dunia.

Di surga, sahabat yang mengejar surga menikmati istananya, kebun, dan bidadari surga.
Ternyata seribu dinar dibalas Allah dengan seribu istana lengkap dengan kebun yang indah.
Di istananya ada jendela, Allah bukakan kesempatan menengok neraka.
Dan dilihatnya sahabatnya di sana.
Sahabat yang tak mau bersedekah dihukum oleh Allah dan abadi dalam kesengsaraan.

Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Quran, 37:38-61:

Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.
Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan,
tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu,
yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan.
di dalam surga-surga yang penuh nikmat.
di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan.
Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.
(Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.
Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.
Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.
seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.
Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap.
Berkatalah salah seorang diantara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman,
yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?
Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”
Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”
Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.
Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,
jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).
Maka apakah kita tidak akan mati?
melainkan hanya kematian kita yang pertama saja (di dunia), dan kita tidak akan disiksa (di akhirat ini)?
Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.
Untuk kemenangan seperti ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja”

Janganlah pernah kita lalai dari sedekah.
Dan janganlah pernah kita iri pada orang lain.
Apapun yang di sisi Allah lebih baik.

Kita sibuk kerja dan sedekah,
Shalat dan puasa
Rejeki seret
Yang tidak sedekah shalat puasa lebih kaya
Tak apa-apa, sabar dan syukur saja
Mungkin Allah sedang tahan rejeki kita
Agar kita nikmat abadi di surga
Apapun yang di sisi Allah lebih baik

Orang tenang kerja di tempat yang rawan dosa
Kita lurus-lurus saja kok susah?
Tak apa, sabar dan syukur saja
Apapun yang di sisi Allah lebih baik

Orang merampok uang saya
Korupsi dan bermewah-mewahan
Kita jadi miskin dan melarat
Tak apa, sabar dan syukur saja
Apapun yang di sisi Allah lebih baik

Apa yang bisa kita lakukan lebuh baik lagi hari ini untuk mengejar surga yang abadi?
Sumber Inspirasi: Ustadz Hanan Attaqi

Advertisements

2 Comments »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: