Skip to content
Advertisements

Bu Untung, manusia yang merasa paling beruntung sedunia

to be happy is to accept whatever, whenever, whichever, whoever.png

Nama lengkapnya Bu Untung Ikhlas, Bu Untung, anak Pak Ikhlas. Dan sesuai namanya, Bu Untung adalah orang yang selalu merasa beruntung, seperti bapaknya yang selalu ikhlas saja menjalani hidupnya.

Bu Untung selalu bilang, “Untung ini, untung itu… ” segalanya untung.
Pagi hari diucapkannya, “Untung masih dapat satu hari lagi.”
Malam hari diucapkannya, “Untung sudah jam segini. Saatnya tidur.”
Dijalaninya hidupnya detik demi detik. Bu Untung tak pusing akan masa lalu, dan tak khawatir akan masa depan. Apapun yang terjadi detik ini semua adalah “keberuntungan” baginya. Setiap detik adalah hadiah dari Sang Maha Pemberi Detik.
“Yang sudah lewat tak bisa diulang, jadi untuk apa difikirkan? Yang depan belum terjadi dan bukan hak kita menentukan,” demikian prinsipnya.

Pernah lihat Bu Untung makan?
Pemandangan paling nikmat di dunia. Diaturnya makanannya agar ia bisa menikmati satu demi satu potongan makanannya. Nikmat sekali. Seakan dunia berhenti berputar. Siapapun yang makan bersamanya akan meraskan nikmatnya makanan tersebut. Setiap rasa dirasakan sepenuh hati.
Saat Bu Untung minum, dihirupnya minumannya dan dirasakan setiap teguk dengan penuh kenikmatan, melalui kerongkongannya. Yang hangat dirasakannya menghangatkan badannya, yang dingin dinikmatnya sebagai penyegar tubuhnya.

Mindfulness.. begitu teman-temannya menyebutnya. Menerima apapun yang hadir dalam tiap detik hidupnya, apa adanya.

Bu Untung tak selamanya demikian. Dan ia ikhlas dengan masa lalunya. “Untung aku alami semua itu, jadi sekarang aku tahu ga enaknya sikap “maksa” dalam hidup,” jawabnya tenang.

Pernah Bu Untung didiagnosa kanker, dan ia masih juga merasa beruntung.
“Untung didiagnosa sekarang, masih dini,” katanya dengan senyum dibibir.
“Untung pula aku diberi kanker, sekarang aku tahu apa rasanya menjalani kanker,” tambahnya.

Kalau sampai ga sembuh dan meninggal gimana, Bu? teman-temannya menjerit.
“Lah.. untung kan, jadi bisa tahu terlebih dahulu, banyak orang dipanggil mendadak lho,” jelasnya sambil tertawa.
Anak-anak dan suami gimana, Bu?
“Untung mereka disiapkan dari sekarang, kalau ada apa-apa, kan?”
Ibu nggak takut?
“Kenapa takut? Untung sudah sempat hidup sebegini lama kan?”
Harus jadi vegetarian? Ikhlas. “Untung harus jadi vegetarian, biar enak dan ringan badan ini. Selama ini sudah puas makan daging-dagingan.”
Harus banyak istirahat di rumah dan tidak bisa pergi-pergi seperti dulu? Ikhlas.
“Untung harus banyak istirahat, jadi enak bisa menikmati rumah.”

Dan mungkin karena sikapnya yang selalu merasa beruntung, Sang Pemberi Keberuntungan pun memberikan keberuntungan demi keberuntungan. Bu Untung bisa sembuh kanker dengan sangat cepat, dengan senyum yang selalu hadir di bibir.

Semua orang pun menjadi keberuntungan dalam hidupnya.
Ada yang menyebalkan? “Untung ada dia, jadi aku tahu aku nggak boleh begitu.”
Ada yang menjahatinya? “Untung aku yang jadi sasaran, aku bisa tahan, kan?”
Ada yang menipunya? “Untung ditipu, nanti di surga aku dapat tambahan pahala.”
Ada yang mencuri uangnya? “Untung dicuri cuma segini, mungkin aku kurang sedekah kali ya? Gapapa lah, daripada dihukum lebih berat lagi sama Gusti Allah.”
Ada yang selalu marah dan mencurigainya? “Untung aku bertemu dengan mereka, aku bisa latihan ikhlas menghadapi orang yang marah dan buruk sangka padaku.”
Senyum dan salamnya tak dibalas? “Untung sekarang Allah bisa tahu aku senyum dan salam bukan untuk manusia, tapi untukNya. Aku happyyyy…”

Dan Bu Untung tak pernah peduli apakah ia mendapat pujian dari apa yang dilakukannya. Ia seperti akar, aktor penting yang tak pernah peduli ia dihargai atau tidak, dipuji atau dicela. Semua bukan darinya, tapi sudah diatur olehNya. “Untung aku punya Gusti Allah. Yang hebat itu Gusti Allah, bukan aku.”

Dan sebagai akar ia selalu ada di latar belakang. Bu Untung membantu orang lain untuk bersinar. Diberikannya sinarnya untuk sebanyak-banyaknya orang. Saat yang lain mampu bersinar, mendapat pujian, penghargaan, ia pun pergi berlalu seperti embun yang hilang di pagi hari bersama munculnya sinar matahari.

Ia cukup bahagia sudah bisa menjalankan peran sebagai wakilNya. Tanpa harus terlihat dan disebut. Ia selalu ikhlas menghilang dalam gelap, hanya berharap ridloNya. Tugasnya hanyalah berbuat yang terbaik untuk mendapat ridloNya, lebih baik setiap saat, tak lain dan tak bukan. Urusan hasil sudah bukan urusannya, tapi ada Gusti Allah yang mengatur.

Itulah dia Bu Untung, anak Pak Ikhlas, yang selalu mengucap untung dan selalu ikhlas menjalani hidup. Bahagia hatinya, damai jiwanya.

Yuk, apa yang kita bisa pelajari dari Bu Untung?

Advertisements

1 Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: