Skip to content
Advertisements

Alhamdulillah, kurikulum kankerku

1.png

November 2012, aku didiagnosa kanker. Alhamdulillah… berita itu membuka sebuah bab penting baru dalam catatan hidupku. Sebuah petualangan baru pun dimulai.

Seru rasanya. Bagaimana nggak seru, berbagai hal baru menanti untuk dipelajari. Wow…

2.png

Bagiku, hidup adalah sebuah universitas besar. Kepala sekolahnya adalah Sang Pencipta yang memberikanku kurikulum yang sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan kekuatanku. Semua kurikulum punya tujuan sesuai dengan tujuan Sang Pencipta menciptakan kita, untuk menciptakan kebaikan, membangun dunia.

Dan aku pun mulai membuka, buku demi buku, blog demi blog, tahajud demi tahajud, dzikir demi dzikir, untuk mulai belajar, dan mencari kesempatan les private langsung denganNya, mencari petunjukNya, apa yang harus kulakukan untuk lulus dari kurikulum ini.

5.png

Beberapa mata pelajaran yang aku harus pelajari bersama kanker, adalah:

  • menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermanfaat, lebih mampu membawa berkah lebih besar, untuk lebih banyak makhlukNya
  • mengenali setiap sel dalam tubuhku, setiap organ yang membentuk badanku, jiwaku, dan pikiranku
  • mengenali Penciptaku, dan apa yang Ia inginkan dariku

Aku belajar bahwa sesuatu hal yang bagi orang lain dianggap “bencana” bisa menjadi “karunia” kalau kita bisa mensyukurinya.

Bertanyalah selalu: “Apa ya kesempatan yang terbuka melalui kejadian ini yang tak akan terbuka bagi mereka yang tak mengalaminya?”

Pelan-pelan Allah akan membukakan pintu hikmahNya. Mintalah terus petunjukNya.

11.png

Bagiku kanker mengajarkanku bukan hanya untuk sehat, tapi unutk bisa vibrant, rahmatan lil alamin, melalui kanker. Ini yang kuyakini sejak awal menerima kurikulum ini.

Kanker adalah surat cintaNya bagiku untuk memberi tahuku bahwa selama ini ada yang salah dalam hidupku, yang aku harus perbaiki, agar aku bisa tumbuh lebih baik, sesuai fitrahku saat Allah menciptakanku.

Kanker adalah caraNya merengkuhku dalam pelukanNya, saat aku berjalan mencoba mencariNya, meminta bimbinganNya dan ridloNya.

Inilah dia saatnya, inilah dia jalannya.

12.png

Aku mencari tahu bagaimana Allah menciptakan manusia untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Buku demi buku kutemukan, tulisan demi tulisan kubedah, dan kursus demi kursus kuikuti.

Aku pun menemukan apa yang Rasulullah saw katakan dulu, “Ada segumpal daging yang kalau ia baik, maka semua organ tubuh akan baik, dan kalau ia buruk maka seluruh organ tubuh akan buruk. Inilah hati.”

Dan satu pesan Sang Pencipta, “Aku adalah seperti prasangkamu.”

Dua hal ini kutemukan di berbagai materi pelajaranku untuk bisa memberdayakan diriku membangun kesehatanku sendiri. Semua sakit berawal dari hati. Dan aku harus terus membangun prasangka baik setiap detik dalam hidupku untuk bisa menjalankan tugas yang dibawa kanker untukku, untuk belajar sembuh, dan belajar membantu orang lain untuk sembuh.

13.png

Aku juga belajar, bahwa seperti yang Rasulullah saw katakan, semua penyakit berawal dari perut. Maka aku harus menata cara makanku. Allah membawaku menjadi seorang vegetarian, menjaga tubuh yang selalu alkali, sesuai fitrah saat aku dilahirkan.

Dan bukan hanya makanan yang harus diperhatikan, karena alkali bukan hanya karena makanan, tapi terutama juga pikiran. Semua kembali ke pikiran dan hati. Hati yang tenang dan damai menjamin kimiawi tubuh yang aman dan damai juga, yang alkali.

14.png

Dan aku pun belajar bahwa hidup dikendalikan dari dalam, oleh energi yang namanya life energy, energi kehidupan, atau yang oleh orang Cina disebut Qi.

Maka aku pun belajar bernafas untuk bisa mengaktivasi energi kehidupan ini.

15.png

Dan untuk membantu tubuhku mengatasi sel-sel kanker secara langsung, aku menggunakan Electro-Capacitative Cancer Therapy atau ECCT, inovasi karya anak negeri. ECCT mematikan sel kanker tanpa mengganggu sel-sel sehat, sehingga aku merasa nyaman menggunakannya. Alhamdulillah dengan metode-metode ini aku bisa melakukan treatment tanpa harus terkapar di rumah sakit, atau mengeluarkan biaya yang terlalu mahal.

16.png

Dan Allah tak pernah menyalahi janjiNya. Bagi semua yang bisa mensyukuri ujianNya, dilimpahkan banyak karunia. Berbagai penghargaan seperti banjir datang dari berbagai sumber.

Aku bersyukur sekali, bisa mendampingi Fortune PR yang kupimpin mendapatkan berbagai penghargaan di Indonesia maupun Asia Pasifik.

Alhamdulillah… Segala puji hanya untukmu, ya Allah. Maha besar Engkau.

19.png

Selain untuk Fortune PR, berbagai penghargaan pun berdatangan untukku. Mulai dari Penghargaan Anugerah Perempuan Indonesia, Best Future Leader, sampai Indonesia Wonder Woman. Seru ya judulnya. Aku percaya semua ini adalah wujud janjiNya bagi mereka yang bersyukur.

Aku berkeliling dunia untuk menginspirasi banyak perempuan untuk berani menghadapi hidupnya dan untuk terus maju dalam kondisi apapun.

Kusampaikan bahwa semua perempuan- semua manusia – diuji dengan berbagai hal. Ujian itulah yang membuat kita unik apa adanya. Keunikan kita inilah kekuatan kita yang sesungguhnya karena keunikan ini yang membawa berbagai keunggulan untuk membangun dunia. Inilah caraNya membuat kita hidup saling melengkapi.

Dengan demikian kubuktikan bahwa kanker bukanlah penghalang untuk menjadi wakilNya berbuat kebaikan dan menjadi wakilNya bagi makhluk-makhlukNya di muka bumi.

18.png

Kutulis pengalamanku dalam blogku, IndiraAbidin.com, yang ternyata banyak sekali membantu teman-teman penerima kurikulum kanker lainnya. Alhamdulillah menulis pun menjadi sarana terapiku selain untuk berbagi cerita dan semangat.

Kini setiap hari aku menulis, dan aku sangat menikmatinya, seperti juga para pembaca yang menunggu setiap pagi.

Yuk, kita menulis yuk. Kita-kita pengalaman dan pengetahuan apa saja yang bisa kita bagikan untuk membantu teman, saudara dan semua pembaca kita?

17.png

Berkat bimbinganNya aku berhasil mendirikan Lavender Ribbon Cancer Support Group (Yayasan Lavender Indonesia), bersama sahabatku, alm Nita Yusuf.

Alhamdulillah melalui komunitas ini aku dapat bertemu banyak sekali teman-teman sesama penerima kurikulum kanker dan membantu mereka menjalani kurikulumnya.

Aku mengganti berbagai kata untuk menciptakan cara pandang baru melihat kanker, bahwa kanker bukanlah vonis, dan jangan dianggap sebagai penyakit, tapi sebagai kurikulum.

Kami bukan cancer fighter, agar tidak ada stress yang terkait dengan bertempur. Kami adalah penerima kurikulum kanker, yang merasa nikmat dan happy karena senang belajar.

Kami bukan hanya survivor, tapi thriver, karena kami diciptakan bukan hanya untuk survive tapi untuk menjadi rahmatan lil alamin.

Mengubah bahasa mengubah cara pikir, akan mengubah kimiawi tubuh. Temanku, seorang coach berkata, kalau kita melakukan coaching dan berhasil membantu seseorang mengubah cara fikirnya, sesunguhnya kita melakukan coaching untuk seluruh sel dalam tubuhnya. Karena semua akan berubah dengan perubahan cara fikir.

Alhamdulillah perlahan-lahan semua anggota menggunakan bahasa yang sama. Semua menjadi lebih damai dan lebih bahagia, insya Allah lebih sehat dan lebih bermanfaat bagi diri dan sesama.

21.png

Bulan April 2014, setelah satu setengah tahun menggunakan ECCT, hasil scan ECVT menunjukkan bahwa aktivitas sel ku sudah menurun ke tingkat aman. Alhamdulillah.

Jadi bisa kan, berkontribusi, tetap aktif, tetap berkiprah dan juga sembuh? Alhamdulillah.

Kanker mengajarkanku untuk memilih aktivitas. Aku memilih hanya yang aku suka, yang “passion” karena aku percaya ini yang Allah tuntun untukku, memilih jam kerja agar jam 10 sudah bisa tidur, dan memilih tempat kerja, agar badan tetap nyaman dan tidak terlalu lelah. Semua dengan menyenangkan badan, hati, dan pikiran. Tidak harus ngoyo untuk bisa berhasil.

Kalau memang itu jalanNya, dengan izinNya, bisa kok kita mendapat semua. Asal kita ikhlas tak memaksa, hanya berserah diri pada kekuasaanNya. Yakin bahwa pengaturanNya adalah yang terbaik, apapun yang diberikanNya, kita terima dengan bahagia dan penuh syukur. Dan saat kita tengok ke belakang.. ternyata semua yang diberikanNya sudah lebih dari apapun yang dapat kita minta.

23.png

Kini aku berguru di Hanara Well Being Center, Bandung untuk terus mendekat padaNya, mengenali diriku, energiku dan vibrasiku. Belajar menjadi rahmatan lil alamin sampai akhir hayat.

Kalau dulu aku mengira otakku yang menjadi kunci segalanya, sekarang aku menemukan bahwa ternyata hatiku yang harus kuasah untuk bisa membawa damai di jiwa, di tubuh, dan akhirnya menyebar damai bagi semesta.

Kanker adalah pembuka jalan, kini aku ikhlaskan ia pergi, dan semoga Allah tak perlu mengirimkannya lagi kepadaku untuk bisa mengingatkanku, karena aku ingin selalu ingat missi hidupku, untk menjadi pembawa rahmatNya di muka bumi.

Aamiin.

22.png

Marilah terus bertanya, apa yang dibutuhkan tubuh, pikiran dan jiwa kita untuk terus membawa rahmat bagi dunia?

Segala hasil bukanlah hak kita untuk menentukan. Berserahlah pada Sang Maha Penentu Hasil. Kita hanya disuruh melakukan yang terbaik.

Dan karena bukan dari kita, maka apapun hasil usaha kita tak bisa pula kita aku-akui. Semua adalah dariNya dan akan berpulang padaNya.

Dan saat kita berpulang padaNya nanti pertanyaan yang sama akan menanti, “Hal terbaik apa yang sudah kau lakukan untuk membawa rahmatNya bagi semesta?” Kira-kira kita mau jawab apa?

Semoga berkah ya. Aamiin.

🌹Disampaikan dalam acara:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: