Jangan menindas karena kita bisa ditindas lebih kejam lagi 

img_3225-2

Sesungguhnya harta, anak, jabatan, kekuasaan, adalah ujian yang amat sangat berat. Banyak manusia dibuat sombong olehnya. Seperti juga seorang Bapak yang terlihat berjalan di pasar hari itu. Ia sombong luar biasa. Bajunya mewah, dagunya naik ke atas, tak terlihat senyum di wajahnya.

Ia berhenti di hadapan seorang wanita penjual mainan anak-anak.
Dengan kasar ia mengambil sebuah mainan berbentuk cair dan berwarna.
“Apa ini?” tanyanya dengan keras kepada perempuan penjaga toko yang halus lemah lembut.
“Mainan balon-balonan, Pak. Ini bisa ditiup,” jawabnya takut-takut sambil membuka tutup botolnya.
Mungkin karena ia grogi dan keder pada Bapak ini, botol itu pun tertumpah dan mengotori baju si Bapak yang berwarna muda sehingga terlihat sekali ada yang tumpah dengan warna kontras. Diambilnya sebuah lap dan ia pun berusaha membersihkan noda itu, tapi noda berwarna kontras ini tak kunjung hilang.

“Ceroboh sekali sih. Saya tidak terima. Ayo bayar baju ini, karena saya harus beli baju baru sekarang. Harganya Rp 500.000. Ayo bayar.”
Bapak ini terus marah, memaki dan memaksa si penjaga toko untuk membayar.

Perempuan muda mungil ini sangat ketakutan dan mulai menangis. Gajinya pun kecil sekali, mana mungkin ia bisa bayar? Dari mana uangnya? Belum lagi kalau sampai terdengar pemilik toko, ia pun bisa dimarahi dan dipecat.

“Pak, saya sedang tidak punya uang, Pak. Saya mohon maaf sebesar-besarnya, Pak. Ampuni saya,” katanya bercampur tangis.

“Tidak mau tahu. Kamu sudah mengotori baju ini, padahal saya harus pergi ke sebuah tempat lain dan harus pakai baju yang bagus, saya tidak mau tahu, Mbak,” hardiknya.

Tiba-tiba datanglah seorang ibu dan berkata, “Kalau cuma Rp 500.000 kamu tidak perlu menangis. Ini Rp 500.000, kamu bisa berikan pada Bapak ini. Ayo berhenti menangis,” hiburnya sambil memegang pundak si remaja putri penjaga toko.

Penjaga toko ini memandang si Ibu seperti melihat malaikat penolong. Diambilnya uang tersebut dan diberikannya pada si Bapak.

Si Bapak dengan bengis memandangi si Ibu. Ia sedang ingin menyiksa penjaga toko, dan ia kesal ada yang ikut campur. Tapi ia senang bisa mendapat apa yang ia minta. Diambilnya uang itu dan ia pun melangkah keluar toko.

“Pak, jangan pergi dulu,” tegas Ibu itu.

“Ada apa lagi?” tanya si Bapak bengis.

“Anak ini sudah bayar baju itu. Ayo, berikan baju itu pada anak ini,” tegas ibu tersebut.

“Tapi kan saya harus beli dulu baju baru, tak mungkin saya berikan yang ini,” kata si Bapak dengan bengis.

“Tidak mau tahu, anak ini sudah membayar, jadi berikan sekarang baju itu pada anak ini. Saya tidak mau tahu, atau saya panggil suami saya, polisi di sini. Bapak bikin onar di sini,” tegasnya. Ternyata si Ibu ini juga sangat galak dan mampu membuat si Bapak sombong keder.

“Ayo Pak, buka bajunya,” seru si Ibu. Orang-orang lain mulai berkumpul dan ramai melihat kejadian ini. Si Bapak malu dikerubuti orang-orang, terlihat dipecundangi oleh si Ibu yang tenang tapi sangat tegas.

“Aduh, si Ibu. Sudah ambil lagi uangnya. Saya maafkan dan saya tidak minta uang lagi,” kata si Bapak yang mulai ketakutan dikerubuti banyak ibu-ibu.

“Baju ini tidak dijual lagi. Kalau Bapak mau pergi, beli lagi baju ini dari anak yang sudah membayar baju ini,” kata si Ibu.

Karena benar-benar sudah keder dikelilingi Ibu-ibu lain yang mencemoohnya, si Bapak pun menyerah, “Baiklah, saya beli lagi baju ini karena saya harus pakai baju keluar dari toko ini. Ini uangmu, saya beli lagi ya,” katanya pada si anak, matanya tak berani memandang si Ibu tegas.

“Harganya sudah berubah, Pak. Saya tak rela anak ini menjual hanya dengan harga Rp 500.000. Sekarang anak ini menjual baju ini dengan harga Rp 1 juta,” seru Ibu ini. Jago sekali ia rupanya.

“Haaaaaah? 1 juta?” matanya terbelalak.

“Iya. Ayo bayar, kalau masih mau pakai baju itu, Pak,” tegas si Ibu.

Si Bapak celingak celinguk melihat sekeliling, dan makin keder melihat makin banyak ibu-ibu yang mengelilinginya.

“Ini Rp 1 juta,” serunya sambil mengeluarkan uang dan buru-buru mencoba pergi menyeruak kerumunan ibu-ibu yang bersorak sorai melihat si Bapak kalah wibawa dengan si Ibu tegas.

“Nah sekarang kamu punya uang Rp 1 juta,” kata Ibu itu mengelus kepala remaja penjaga toko yang terbelalak matanya tak percaya apa yang sedang terjadi, sambil memegang uang Rp 1 juta. Dikembalikannya Rp 500.000 kepada si Ibu.

“Ini uang Ibu, saya tidak bisa ambil, saya kembalikan, terima kasih ya,” katanya malu-malu. Jadi Rp 500.000 untuknya, Rp 500.000 dikembalikan pada si Ibu.

Ibu itu tersenyum. “Baiklah, saya ambil ini sebagai kenang-kenangan dari kamu ya. Bangunlah kepercayaan dirimu. Allah selalu hadir bersamamu, jangan pernah takut dengan orang sombong seperti itu, karena mereka sesungguhnya lemah,” sambutnya dengan lemah lembut sambil berlalu keluar toko.

Dosa iblis hanya satu: sombong. Satu kesalahan ini saja sudah cukup membuat iblis dikeluarkan dari surga. Maka jauhilah sifat sombong.

Sombong muncul dari perasaan kurang, minder dan tak mempunyai arti. Seseorang merasa harus sombong untuk mendapatkan perasaan berarti, perasaan penting an dihormati. Nah, jauhilah sakit sombong dengan terus memasukkan cintaNya dalam hati. Yakinlah bahwa kita dilahirkan di atas muka bumi dengan sebuah misi, dan kita penting, kita penuh arti, bagiNya yang menciptakan kita.

Dan saat kita melihat orang yang sombong, ketahuilah bahwa mereka sesungguhnya rapuh di dalam. Mereka lemah dan tidak bahagia.

Siapa yang merendah, Allah akan mengangkatnya
Siapa yang meninggikan diri, Allah akan merendahkannya

Nah,
Apa hal terbaik yang bisa kita kerjakan hari ini untuk mencegah kesombongan dari dalam hati, jiwa, kata dan perilaku kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s