Skip to content
Advertisements

Boetet Satidjah, Inspirator dan Motivator perempuan dari Tanah Batak

-Our books and pens are the most powerful weapon that are handy.-.png

Di Medan dulu ada seorang perempuan bernama Boetet Satidjah. Perempuan ini bukan sembarang orang. Boetet Satidjah tercatat sebagai pendiri dan sekaligus editor surat kabar bulanan “Perempuan Bergerak” yang terbit di Medan tahun 1919 (De Preanger-bode, 19-06-1919).

Motto surat kabar kaum perempuan ini adalah “De beste stuurlui staan aan wal” atau “sahabat terbaik mampu melindungi” – sesama perempuan harus mampu saling mendukung, saling melindungi. Surat kabar bulanan ini bertujuan untuk memajukan perempuan dengan mengupas berbagai aspek dalam dunia perempuan, termasuk urusan membesarkan anak, pendidikan, dan urusan rumah tangga.

“Perempuan Bergerak” mendorong perempuan untuk tidak bermalas-malasan dan menegaskan pada semua pembacanya bahwa sudah waktunya untuk perempuan bergerak lebih maju.

Boetet kelak dikenal sebagai istri dari Parada Harahap, wartawan paling revolusioner di Indonesia. Adik-adiknya juga tidak ketinggalan untuk mendirikan surat kabar yang diberi nama ‘Boroe Tapanoeli’. Surat kabar ini diterbitkan oleh tokoh-tokoh perempuan muda di Padangsidimpuan, dan terbit pertama kali pada tanggal 10 Oktober 1940.

Berkat hasil kerja Boetet, banyak perempuan lain, terutama perempuan Batak, terinspirasi untuk maju, saling mendukung dan saling membantu untuk menciptakan perubahan dalam komunitas mereka. Tulisan membuat opini seorang perempuan di satu tempat mampu mempengaruhi masyarakat secara luas. Tulisan membuat seorang Boetet mampu menggerakkan banyak perempuan lain untuk mengikuti jejaknya.

Inilah peranan wartawan dan editor, inilah peranan media dalam menginspirasi dan membangun cara pandang yang maju. Inilah pentingnya menulis, karena sekarang semua orang bisa menulis dan menjadi jurnalis seperti Butet Satidja.

Tidak heran perempuan Batak maju di masa itu. Kesamaan derajat perempuan dikenal pula dalam sistem sosial  ‘dalihan na tolu’  atau “hati-hati terhadap kahanggi (semarga)”, mengayomi terhadap boru (marga yang mengambil boru) dan bersembah terhadap mora (marga pemberi boru).
Dalam konteks sosial ini perempuan Batak harus ditinggikan tempatnya.

Peran penting perempuan di bidang pendidikan dan pers adalah produk ‘dalihan na tolu’ ini.

Selamat perempuan-perempuan Indonesia yang hebat! Apa hal terbaik hari ini yang dapat dilakukan untuk menjadi pembawa berkah bagi semesta seperti tujuan Allah menciptakan kita sekian tahun yang lalu, belajar dari Boetet Satidja?

Apa hal terbaik hari ini yang bisa kita lakukan untuk menginspirasi minimal satu orang saja untuk bisa maju dan berkontribusi?

Apa hal terbaik hari ini yang bisa membuat kita mulai rajin menulis?
Sumber: http://akhirmh.blogspot.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: