Hidup itu 90% ikhlas menerima, 10% cerdas berkarya

10.15.19 (1).png

Life is 10% how we make it and 90% how we take it.

Hidup itu 10% kita ciptakan dan 90% kita terima. Dengan demikian kita wajib belajar berkreasi, mencipta, menjadi tanganNya di muka bumi, tapi kita lebih wajib lagi belajar untuk ikhlas, menerima, menghargai, mensyukuri semua yang sudah ada di dalam hidup.

Fakta bahwa kita muncul di muka bumi, sama sekali bukan keinginan kita, dan tak ada campur tangan kita sama sekali.
Kita harus 90% ikhlas, terima, menghargai dan mensyukuri keluarga kita yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan sifatnya, adatnya, perasaan, pikiran, dan perbuatannya.
10% kita bisa mengingatkan, menasehati, mendorong agar pikiran, perasaan, perbuatan mereka bisa sesuai dengan harapan kita.
90% kita harus berserah kepadaNya untuk membolak balikkan hati mereka, karena Allah sudah mengingatkan bahwa hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati, dan kita hanya bisa mengingatkan.

10% kita bisa memilih pekerjaan, berdoa untuk mendapatkan rejeki yang terbaik, berusaha dengan kerja keras dan kerja cerdas mendapatkan apa yang kita impi-impikan.
90% kita harus menerima siapa yang Allah gerakkan hatinya untuk menerima kita, usaha apa yang diberikanNya pada kita, serta rejeki yang telah Allah tentukan dengan penuh syukur.
90% kita harus menerima bahwa ada hukum alam yang telah diciptakanNya, hukum ketertarikan, hukum berbagi, hukum prasangka baik.
10% kita bisa berusaha lagi, berdoa, berbuat baik sesuai dengan semua hukum itu.
90% kita harus menyerahkan semua hasil padaNya, dan mensyukuri semua hasil, serta belajar dari sana untuk terus menjadi lebih baik.

10% kita bisa berdoa dan berharap
90% kita harus menerima bahwa apapun yang Allah ciptakan adalah yang terbaik bagi kita, dan belum tentu harapan kita itu baik.

10% kita bisa terus berusaha dan berdoa di masa ini
90% kita tinggal menikmati masa kini sepenuh hati, mengisinya dengan kebahagiaan, syukur.
90% itu kita isi dengan ikhlas dengan masa lalu, masa depan, masa kini.

10% tugas kita adalah melimpahkan cinta sebesarnya kepada diri kita sendiri, semua makhluk yang ada di sekeliling kita, dan mencintaiNya sebagai sumber segala cinta.
90% kita tinggal menikmati semua limpahan kasihNya, karena semua nikmat karuniaNya tak ada bandingannya dengan apapun yang kita lakukan, sejak lahir hinggal meninggal.
Maka nikmatNya yang mana lagi yang mau kita bandingkan dengan apapun bencana yang ia hadirkan untuk kebaikan kita?
NikmatNya yang mana lagi yang ingin kita keluhkan, dibandingkan dengan semua kebesaran yang telah kita nikmati?
NikmatNya yang mana lagi yang ingin kita pertanyakan, khawatirkan, dibanding dengan skenario besarnya untuk bumi dan akhirat kita dengan dasar cintaNya yang jauh lebih besar daripada apapun yang dapat kita bayangkan?

NikmatNya yang mana lagi?

Yogya, 18 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s