Skip to content
Advertisements

Jangan bangga saat kita dzalim dengan tubuh

To live the lives we truly want and deserve, and not just the lives we settle for, we need a third measure of success that goes beyond money and power.png

Dalai Lama mengatakan, bahwa manusia itu makhluk paling aneh. Manusia mengorbankan kesehatannya demi uang, sampai kesehatannya memburuk. Lalu semua uang yang didapatnya sebelumnya harus dikorbankan kembali untuk bisa sehat. Lalu ia sangat khawatir mengenai masa depan, sehingga ia tak menikmati masa kini. Akhirnya ia tak hidup di masa depan, tak pula hidup di masa kini. Ia hidup seakan-akan tak akan mati, lalu ia mati tanpa benar-benar menikmati hidup.

Ini adalah keanehan manusia yang pernah pula aku jalani sampai aku didiagnosa kanker. Kanker mengingatkanku bahwa hidup akan ada akhirnya, dan aku pun harus mempersiapkannya. Tidak layak hidup hanya untuk dunia, dan hanya untuk satu aspek pula, pekerjaan. 

Seorang warga periklanan di Filipina baru saja meninggal, diduga karena overwork, bekerja berlebihan. Beberapa tahun lalu seorang staf industri yang sama di Jakarta mengalami hal yang sama, meninggal setelah berkicau di twitter, “30 jam non stop bekerja dan masih kuat..”

Worth it nggak sih?

Nggak, rasanya. Kita bekerja dalam kerangka beribadah, dalam berkontribusi membangun masyarakat pada jalanNya, untuk membangun keluarga sebagai pembangun dunia di tahapan selanjutnya, untuk bersilaturahmi dalam kebaikan membangun dunia dan menggapai akhirat. Ini tujuan bekerja. Dan modal utamanya adalah kondisi tubuh, pikiran, jiwa yang prima, sehingga dalam jangka waktu terbatas kualitas dan kuantitas optimal dapat tercapai. Jadi semua itu tidak boleh mengorbankan modal satu-satunya ini. 

Ibadah apapun tidak boleh mengorbankan kesehatan. Puasa tidak boleh setahun penuh. Shalat pun tak bisa semalaman penuh. Tahajud hanya bisa dilakukan setelah bangun tidur. Jadi kalau kerja membuat kita lupa pada hak-hak tubuh, pada ibadah-ibadah lainnya, pada tanggung jawab lainnya, itu bukan ibadah lagi. Itu dzalim, menciptakan kerusakan. Padahal tugas kita di dunia hanyalah membangun kebaikan dan mencegah kerusakan.

Dan ternyata kerja yang seimbang justru lebih efektif. Otak yang tidak diganggu oleh stress lebih mampu berfikir kreatif dan inovatif daripada otak yang diganggu oleh stress. Apalagi stress yang berkelanjutan tanpa disadari. Itulah yang menyebabkan banyak orang yang merasa “tidak ada ide” karena prefrontral cortex, bagian otak untuk berfikir kreatif, tidak bisa bekerja efektif. Akhirnya kerja yang tidak memperhatikan kondisi body mind soul yang prima, akan menjadi kerja seadanya, setengah-setengah, dan tidak mengeluarkan potensi yang paling besar yang bisa diberikan. Padahal kita punya batas waktu hidup di dunia, sayang sekali kalau hidup kita tidak sampai menghasilkan master piece yang menginspirasi dan bisa diwariskan, menciptakan legacy untuk generasi selanjutnya, a ding in the universe, kata Steve Jobs.

Ariana Huffington, pendiri koran online terbesar, Huffington Post, pernah pula sakit akibat kerja berlebihan. Setelah itu ia kapok dan menulis buku untuk mengingatkan dunia, “Thrive: The Third Metric to Redefining Success and Creating a Life of Well-Being, Wisom and Wonder.” Dikatakannya, “Kita fikir sukses itu jumlah jam kita bekerja, padahal sukses adalah kualitas dari jam kita bekerja.” Dan kualitas ini hanya bisa didapat saat kondisi prima.

Tony Robbins mengingatkan untuk selalu mengintegrasikan hidup dan kerja. Kerja untuk sehat, untuk membangun, untuk bisa berkolaborasi dengan keluarga, teman, saudara secara profesional dan penuh integritas. Itulah sebabnya ROWE kini menjadi trend.

Dalam Result Only Work Experience (ROWE) tim bisa menentukan sendiri bagaimana dan di mana mereka ingin bekerja. Dan rupanya hal ini sudah dijadikan daya tarik oleh berbagai agency, untuk menarik millenial yang ingin bekerja whatever, wherever, whenever. Mereka mengatur sendiri targetnya, apa yang didapat, cara mereka ingin belajar, dan akhirnya skedul kerjanya, sesuai life purpose mereka masing-masing, yang digali dalam coaching process bersama leader dan supervisor mereka. Dengan demikian setiap warga bertanggung jawab atas kesehatan dan keseimbangan hidup mereka masing-masing, dengan memperhatikan komitmen mereka terhadap perusahaan.

Di zaman revolusi industri kerja diatur dengan mekanisme kontrol. Di zaman ini kerja harus dikembangkan dengan pemberdayaan, pembukaan wawasan dan penemuan diri (self discovery). Itulah syarat kita mencapai tingkat mastery, untuk menciptakan master piece, dan bukan hasil karya model pabrikan.

Kerja yang terbaik adalah juga kerja yang melibatkan Boss yang sesungguhnya, Sang Pencipta Alam Semesta, yang memberikan kita kerja, dan untuk siapa kita sesungguhnya bekerja.

Ikhlaskan batasan kemampuan tubuh, pikiran dan jiwa, jadilah tanganNya di dunia, dan serahkan semua hasil hanya padaNya.

Saat Sang Pencipta bekerja, tak ada lagi batasan dari yang bisa Ia hasilkan, antara lain melalui kerja kita. Orang bilang “the sky is the limit” – langitlah yang menjadi batas. Tapi denganNya di sisi kita, bahkan langit pun bukan batasan.

Teman-teman,

Jagalah tubuh, pikiran, jiwa kita, tim kita, teman-teman kita untuk bisa mengeluarkan potensi terbesar, menghasilkan master piece, hasil terbaik, dengan kerja yang sehat, menjaga integritas, dan tidak lagi dengan cara-cara kontrol seperti zaman revolusi industri.

Saat kita bekerja dengan mitra usaha lain, seperti perusahaan iklan, PR, atau apapun perusahaan mitra tersebut, ingatkanlah tim kerja mereka untuk tetap menjaga keseimbangan hidupnya. Karena mereka akan mati-matian berjuang untuk kita tanpa memperhatikan kesehatan mereka sendiri. Kita semua ingin kreatifitas dan potensi terbesar yang mereka bisa berikan, bukan?

Suatu hari nanti, kalau Sang Pencipta meminta pertanggung jawaban kita terhadap diri kita, teman kerja kita, team kita, mitra kita apa yang akan kita sampaikan?

Bagaimana agar kita bisa berperan membantu diri dan orang lain tumbuh pesat mencapai potensi terbesar, dan tidak menjadi warga yang mediocre karena overwork?

Referensi:

Death of an Ogilvy Philippines Employee Sparks Renewed Debate Over Work-Life Balance at Agencies  

Thrive Quotes

How to Create a Results-oriented Culture

What ‘Results Oriented Work Environemnts’ Offer PR Pros

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: