Skip to content
Advertisements

Titik hitam dan ruang putih dalam hidup, mengeluh dan menghargai

IMG_1608

Seorang guru menulis sebuah titik hitam di papan tulis besar berwarna putih. Lalu ia bertanya, “Anak-anak, apa yang kalian lihat di sini?”

Semua jawaban sama, “Titik hitam, Pak.”

“Apakah hanya titik hitam? tidak adakah yang lain?” tanya Pak Guru kembali.

“Benar, hanya titik hitam,” jawab semua muridnya.

“Tidak ada yang lihat dasar yang putih yang sebegitu besarnya?” tanya Pak Guru lagi. Dan semua muridnya terdiam.

Dasar putih itu besar sekali, saking besarnya sampai tak terlihat. Dan inilah cerminan hidup kita. Sekarang tak perlu melihat contoh cerita di atas. Coba lihat di sini:

Untitled design.png

Coba berikan gambar di atas kepada 10 orang yang tidak sedang membaca blog post ini, “Apa yang anda lihat?” Rata-rata akan menjawab, “titik hitam.” Akan jarang sekali yang menjawab “Ruang luas putih dan ada titik hitam.” Ruang putih itu dianggap sudah seharusnya ada, jadi tidak perlu disebut lagi.

Lebih mudah bagi kita untuk melihat titik hitam dalam hidup kita. Dan tak mudah untuk melihat ruang putih yang sungguh sangat besar dalam hidup kita. Titik hitam adalah keburukan, dan ruang putih adalah karunia yang amat sangat besar. Ruang putih adalah udara yang kita hirup, sel-sel sehat dan organ yang berfungsi baik dengan sangat menakjubkan di seluruh tubuh kita yang membuat kita masih bisa membaca tulisan ini. Ruang putih adalah rejeki yang membuat kita mampu mendapat akses internet untuk membaca ini, dan ilmu yang membuat kita bisa membaca.

Titik hitam adalah berbagai ujian yang Allah berikan, sakit, perasaan kurang uang, kurang rejeki, kurang sehat, keluhan tubuh, suami yang cuek tadi pagi, anak yang terasa sangat kurang ajar, dan berbagai hal lain.

Kalau dihitung, ruang putih itu jauh lebih besar, begitu juga karunia bagi kita. Kita bisa muncul di dunia, lahir dan besar.. itu semua karunia yang amat sangat besar. Tapi tak terlihat, luput dari perhatian dan tak bisa kita hargai.

Titik hitam ini, atau ujian hidup, jumlahnya amat sangat sedikit dalam hidup. Kalau ada yang sakit, berapa persen sih sel yang ikut sakit, dibanding yang masih berfungsi baik? Dan sudah berapa tahun ia sakit, dibanding berapa tahun ia sehat?

Lebih mudah mengeluhkah si titik hitam daripada mensyukuri si ruang putih. Itu memang sudah menjadi bagian permainan hidup yang Allah ciptakan agar permain hidup kita seru dan tidak datar-datar saja. Pertanyaannya, mampukah kita memenangkan permainan hidup ini untuk mendapat hadiah akhir yang luar biasa indah.. kebahagiaan lahir batin, dunia akhirat.. dari Game Master hidup ini?

Dan hari kita kita isi dengan keluhan mengenai si titik hitam ini, tanpa ingat bahwa ada ruang putih yang begitu besar. Ingat saja tidak, boro-boro bersyukur. Apakah kita bisa menang dalam permainan hidup kalau terus seperti itu?

Belum lagi ada orang yang bukan hanya tak mau mensyukuri ruang putihnya tapi juga iri terhadap ruang putih orang lain.
“Kok dia begitu, saya begini?”
Dan semua sel dalam tubuhnya ikut tidak happy, akhirnya sakit.
Maukah kita begitu?

Marilah kita mulai menghargai ruang putih kita, mensyukurinya, dan membaginya dengan yang lain. Bahagialah atas ruang putih orang lain, kemampuan untuk bahagia atas ruang putih semua orang lain adalah juga karunia yang membuat kita hidup lebih indah.. nilai ekstra dalam permainan hidup, energi yang membuat kita bisa maju lebih baik.

Mulailah melihat betapa besar karunia yang telah Allah berikan, betapa indah dunia yang telah diciptakanNya, dan betapa banyak ilmu yang telah diajarkanNya.
Seberapa banyak kita sudab bersyukur melalui ucapan syukur?
Kalau 24 jam kita menikmati udaraNya, seberapa sering dalam 24 jam kita berterima kasih atasnya? Dan tidak mengeluhkan cobaanNya, apalagi memarahiNya atau menganggapNya tidak adil?

Seberapa banyak kita sudah pula bersyukur melalui perbuatan baik?
Kalau semua orang dihadirkan sebagai hadiah bagi hidup kita, sudahkah kita membantu mereka? Melayani mereka? Belajar dari mereka?
Bahkan seorang pengemis di hadapan kita pun dikirim olehNya untuk kita.
Sudahkah kita manfaatkan kehadiran beliau dengan berbagi?

Bagaimanakah kita bisa bersyukur dengan lebih baik lagi, mulai hari ini?
Bagaimanakah kita bisa berbagi dengan lebih luas lagi, mulai hari ini?
Bagaimanakah kita bisa mendekat kepadaNya dengan lebih intim lagi, mulai hari ini?
Dan bagaimanakah kita bisa melakukannya dengan lebih baik setiap hari?
Sampai saatnya kita pergi?
Dan mengapa hal ini penting bagi kita?

Advertisements

1 Comment »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: