Skip to content
Advertisements

Kanker: pelukan hangat Allah untukku


Alm Sinta Rini Medrian adalah salah satu anggota Lavender yang aktif menulis. Banyak tulisannya yang sangat indah untuk dibaca dan diambil hikmahnya. Saya akan berbagi tulisan-tulisan ini untuk mengenang almarhumah. Semoga semua ilmu ini dapat menjadi amal jariah yang membawa kebahagiaan baginya di akhirat.

Dan semoga semua tulisan ini menyemangati teman-teman untuk juga rajin membagi ilmu melalui tulisan. Semoga semua juga menjadi amal jariah teman-teman.

Aamiin.

Kanker: pelukan hangat Allah untukku

Oleh Sinta Rini Medrian

Saya terdiagnosa kanker payudara pada bulan Oktober 2013. Tidak semua teman saya tahu mengenai hal ini. Saya sih tidak pernah merahasiakan, meski juga tidak pernah dengan sengaja mengumumkan :). Kalau ada teman yang tanya, saya jawab dengan terbuka. Biasanya sih, topik kanker muncul secara tidak sengaja karena awalnya mereka bertanya tentang pola makan saya yang memang berubah total. Saya jarang ‘niat’ ngobrolin soal kanker bukan karena apa-apa, hanya ingin fokus pada proses penyembuhan. Nggak mau diribetin dengan pikiran ‘gimana cara cerita sama orang’ atau ‘gimana cara merespon responnya orang yang belum tentu tahu gimana harus merespon’ *halah!* Apalagi pada saat itu saya masih rini yang ‘lama’, yang suka kebanyakan mikir dan ribet sendiri menganalisa.

Jieeeh, jadi sekarang Rini nya udah baru nih? :p

Rasanya sih iyes, Alhamdulillah berproses terus. Makanya sekarang sudah jauh lebih nyaman untuk bicara soal kanker dan memutuskan untuk mulai banyak menulis soal ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi saya dan bagi siapapun yang membacanya 😉

Bagi saya, kanker bukan lagi sekedar sebuah kondisi yang sedang saya perjuangkan kesembuhannya. Ikhtiar tentu, namun ada makna yang dalam dan indah di balik itu. Kanker menjadi titik balik kehidupan saya.

Tentu untuk bisa akhirnya sampai ke ‘rasa’ seperti ini, saya melalui perjalanan yang panjang dan…. pretty much a roller coaster ride :D. Well, sepanjang hayat pun saya akan terus berproses. Alhamdulillah, selama ini Allah tidak pernah membiarkan saya sendiri. Selain didampingi oleh suami, keluarga, dan sahabat-sahabat yang sangat supportive, saya juga dikirimi olehNya mentor-mentor yang menginspirasi dan banyak teman baru yang luar biasa.

Sejak awal terdiagnosa, meski situasi hati terkadang naik turun kanan kiri belok belok :p saya selalu berusaha untuk sesedikit mungkin mengeluhkan atau menangisi kondisi. Saya juga tidak mengalami fase di mana saya marah pada Tuhan atau nggak terima saya kena kanker, misalnya. Alhamdulillah. It took not so long to get myself together after the initial diagnosis and then do lots and lots of readings on how to regain my health back. Ratusan artikel, jurnal, blog, dan buku kemudian, saya mengambil kesimpulan ini:

“Cancer is my body screaming out for help”

Ternyata, ada yang salah dengan cara saya memperlakukan tubuh saya. Setelah dipikir-pikir, sebenarnya selama ini ia sudah sering protes kecil-kecilan. Sedikit-sedikit sakit, masuk-keluar rumah sakit, GERD, maag kronis, tukak lambung, vertigo, bronkhitis…but I simply ignored it. Gak mempan di kasih warning kecil-kecil, akhirnya bom waktunya meledak. Sejak saat itu, saya belajar bagaimana seharusnya memperlakukan tubuh melalui nutrisi yang baik, olahraga, dan istirahat yang cukup. Di luar sana ada banyak sekali referensi mengenai pola hidup sehat yang berbeda-beda dan bahkan terkadang saling bertentangan. Saya menerapkan trial and error dalam menemukan pola makan yang paling pas dengan kebutuhan tubuh saya, bahkan hingga hari ini. Setiap hari ada saja hal baru tentang nutrisi yang saya pelajari dan terapkan.

Lambat laun saya jatuh cinta pada pola hidup sehat ini. I believe taking care of our body is the right thing to do. Saya bertekad untuk terus melanjutkan meski setelah saya sembuh sekalipun. Saya bahkan berniat untuk kembali ke bangku sekolah dan mempelajari holistic nutrition agar saya bisa membantu lebih banyak orang untuk hidup sehat. Wow, in the middle of this, I discovered a new passion and set up a new goal! So excited!

Setelah kurang lebih setahun berkutat dengan proses penyembuhan yang lebih berfokus pada aspek fisik, perjalanan selanjutnya mempertemukan saya dengan banyak sekali sosok yang menginspirasi saya untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bermula dari sebuah informasi bahwa faktor terbesar yang memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif sebenarnya adalah faktor psikis, saya tergerak untuk menggali lebih dalam lagi soal kanker. Lalu saya kembali belajar, belajar, dan belajar…hingga akhirnya muncul sebuah kesimpulan baru:

“Cancer is my soul screaming out for help. The physical form of the condition is only a manifestation of the real cause”

Kalau kata salah satu mentor saya –saya akan bercerita tentang beliau di tulisan-tulisan berikutnya- menangani kanker hanya pada aspek ‘sakit fisik’ nya saja itu ibarat membabat rumput liar tanpa mencabut akarnya. Selama akarnya masih ada dan hidup, rumput itu akan tumbuh lagi dan lagi. Dan yang menjadi akar ternyata adalah faktor psikis yang bisa jadi sudah membebani diri selama bertahun-tahun. Jreeeeng….! Pelajaran baru lagi! 😉

Dan proses belajar pun berlanjut. Saya belajar dari siapa saja dan dari peristiwa apapun. Saya baca, saya dengar, saya latih, saya terapkan. Kesandung, bingung, balik lagi, baca lagi. Ada beberapa sesi/kelas khusus yang saya ikuti selama setahun belakangan sehingga proses belajar saya lebih terarah, soal ini juga akan saya ceritakan suatu saat nanti.

Seiring berjalannya waktu, muncul sebuah kesadaran besar…kok, cara pandang saya terhadap diri, orang lain, dan dunia mulai berubah? Kok, saya merasa jauuuh lebih positif dan optimis? Kok, saya jarang banget merasa tegang seperti dulu? Kok, saya jarang marah? Kok, emosi-emosi negatif saya jarang muncul? Kok, saya jadi menemukan passion yang selama ini saya nggak tahu? Kok, saya jadi bersemangat sekali untuk belajar lebih banyak agar bisa lebih bermanfaat bagi orang lain? Kok, saya jadi merasa punya banyak sekali cinta untuk suami dan keluarga? Kok, saya jadi merasa sangat dekat dengan Allah? Kok, beribadah rasanya jadi luar biasa nikmat?

KOK, KANKER INI MEMBAWA BEGITU BANYAK HAL POSITIF KE DALAM HIDUP SAYA?

Akhirnya saya sampai juga ke ‘rasa’ yang saya ungkapkan di awal tulisan tadi. Kini saya paham, kenapa mentor saya yang adalah seorang survivor sering menyebut kanker sebagai anugerah. Ketika kanker ternyata hadir sebagai sebuah kesempatan yang mendorong kita untuk belajar menjadi orang yang lebih baik, bagaimana mungkin kita melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan?

Melalui kanker, Allah ijinkan saya untuk belajar dan bertransformasi. Kanker memicu saya untuk jauuuh lebih aware dan mindful tentang apa yang saya pikirkan, saya rasakan, dan saya lakukan. Dari dua tahun perjalanan berupaya mengenal kanker dan berikhtiar menyembuhkan diri, saya sadar bahwa kanker adalah pelukan hangat dari Sang Maha. He wants to upgrade me. He wants me to become a better person. He wants me to hold on tighter to Him than to worry about things. He wants me to learn how to be patient and to not give up at the same time. He wants me to always be grateful for my life. He wants me to remember why I was created in the first place. And the reason behind all of these, is none other but LOVE.

Alhamdulillah, thank you Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: