Kematian adalah ketidakpastian yang dapat dipersiapkan dengan sangat baik – in memoriam Sinta Rini Medrian

Arti hidup manusia tidak ditentukan oleh panjang dan pendeknya. Ada yang umurnya pendek tapi sungguh penuh arti. Rasulullah “hanya” berumur 63 tahun, namun usia itu cukup untuk menyampaikan pesan Allah bagi umat manusia. Semua tugas dan missi hidupnya usai dalam 63 tahun. Ada pula yang berumur sampai di atas 70 tahun tapi tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Bukan panjang pendek umur yang penting, tapi apakah umur tersebut ditutup dengan baik dan berkah?

Itulah yang ditunjukkan oleh sahabat saya, alm Sinta Rini Medrian.

Rini dan aku adalah sama-sama penerima kurikulum kanker, bertemu di Lavender Ribbon Cancer Support Group dan kami banyak sekali menemukan kesamaan cara pandang. Rini mengikuti beberapa training yang juga aku ikuti. Kami sama-sama lulusan Magnetic Baar Power (MBP) yang diadakan oleh Mbak Auk Murat, sama-sama sempat menggunakan Electro Capacitative Cancer Therapy (ECCT) dan pada akhirnya kami sama-sama belajar self healing di Hanara.

Dari yang awalnya Rini tertutup mengenai kurikulum kankernya sampai akhirnya ia mampu menceritakannya dengan ringan dan tanpa beban. Beberapa blog post telah ditulisnya untuk berbagi pengalaman mengenai ilmu yang didapatnya dari kurikulum kankernya. Dari yang awalnya sangat mengandalkan logika sampai yang akhirnya benar-benar berhati lembut dan berjiwa tenang. DI akhir hidupnya Rini mampu mengobati sakitnya dengan dzikir, mampu membaca pengaruh dari setiap jenis dzikir yang berbeda pada organ-organ tubuh yang berbeda, bahkan tahu kapan adzan hadir tanpa harus melihat matahari, atau jam. Rini bisa merasa, meraba, menghayati dan menyelami jiwanya sendiri. Ia menjadi jiwa yang tenang dan siap dikumpulkan oleh Sang Penciptanya di akhir hidupnya.

Rini menjalani proses kurikulum kankernya dengan sangat tekun. Setiap pelatihan ditekuninya dan langsung diterapkannya pada kehidupannya. Setiap kejadian disyukurinya dan diambil pelajaran serta hikmahnya. Dari berbagai ilmunya ia sadar bahwa yang penting adalah membangun ketenangan jiwa dan kesatuan antara badan, pikiran dan jiwa. Itulah sebabnya ia berguru di Hanara. Kami pun belajar berbagai ilmu tubuh, bagaimana jiwa, pikiran dan tubuh saling terkoneksi satu sama lain. Berbagai pelajaran didapatnya di sana. Rini berhasil mengasah Spiritual Intelligence nya di sana. Bukan hanya dengan badan pikiran dan jiwa, kami pun belajar menyatukan diri dengan alam.

Dalam prosesnya tiba-tiba Rini menjadi sangat sensitif terhadap radiasi handphone. Ia tak lagi bisa pergi ke mana-mana karena dari perjalanan sampai tujuan banyak sekali handphone yang membuatnya tersiksa. Dan saat itulah ia benar-benar menyelami hidupnya berdua bersama ibunya. Rini mengatakan bahwa itulah saatnya Allah memintanya mulai belajar untuk menghadapi kematian. Rupanya bukan hanya dengan tubuh, pikiran, jiwanya dan alam. Kini ia diminta Allah belajar menyatukan diri denganNya.

Ia berkata pada ibunya, bahwa ia bukan takut mati, tapi takut amalnya belum cukup untuk bisa diterima olehNya dalam surgaNya. Rupanya setelah itulah ia diberikan waktu oleh Allah untuk mencukupkan semua amal ibadahnya, fokus hidup hanya untuk berdzikir.

Setelah sekian lama hidup di Jakarta bersama suami, Oddy Medrian, dalam proses ini Rini dituntun oleh Allah untuk tinggal berdua ibunya di Cimahi, diurus kembali oleh ibunya yang luar biasa tangguh dan mendalami dzikir bersama ibunya. Suaminya datang Jumat malam dan pulang kembali Senin pagi ke Jakarta. Jadi Rini fokus menjalani dzikir tanpa harus urus apa-apa lagi. Dan ibu serta suaminya puas mengurus Rini pagi sampai malam. Setiap habis shalat pun ibunya memberi Rini air minum yang didoakannya selama shalat.

Di rumah Rini mengobati semua rasa sakitnya dengan dzikir. Ia tak pernah sekalipun mengeluh mengenai sakitnya. Rini selalu berprasangka baik pada Allah. Saat suaminya atau ibunya merasa khawatir, galau atau apapun yang di luar jalur, Rini selalu mengingatkan untuk kembali syukur, kembali ikhlas dan tersenyum. Ia pun berhasil mempelajari dzikir apa yang baik untuk setiap sakit yang dirasakannya. Tak pernah ada keluhan keluar dari mulutnya. Hanya penghayatan dan pencarian hikmah dari setiap kejadian.

Mendengar Rini sangat sensitif terhadap berbagai hal, bukan hanya radiasi handphone tapi juga microwave, atau pesawat yang terbang di atas rumahnya, aku teringat kisah putri yang tidur di atas puluhan tumpukan kasur dan masih bisa merasakan bahwa di bawah tempat tidur ada kacang. Aku cerita pada anakku, Hana, “Tante Rini itu seperti princess. Princess itu sangat sensitif dan bisa merasa kalau ada yang tidak beres, sekecil apapun.” Itulah Rini bagiku. Dan betapa saat itu aku ingin menggali ilmu yang dipelajarinya mengenai dzikir dan organ tubuh, dzikir dan rasa, dzikir dan jiwa.

Beberapa bulan menjelang akhir hayatnya Rini berusaha keras membangun tenaganya karena ia ingin mendampingi suaminya yang pindah ke Singapura. Dan akhirnya ia berhasil. Sampai akhirnya suaminya bisa berkomunikasi Singapura-Cimahi via whats app. Semua kondisinya membaik, dan semua mengira Rini sebentar lagi akan siap pindah ke Singapura. Aku pun sampai berencana untuk mengunjungi Rini di Singapura. Rupanya Allah memberi Rini kesempatan untuk menikmati kembali hidupnya dengan energi barunya. Dan selama beberapa bulan itu Rini benar-benar seperti “kejar setoran” melakukan dzikir sebanyak-banyaknya. Tujuan awalnya adalah agar ia bisa punya energi untuk bisa pindah ke Singapura, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Itu semua adalah agar ia bisa benar-benar siap dan “cukup” untuk bisa pindah ke dalam surgaNya.

Setelah semua kondisi membaik, tiba-tiba Rini kejang. Aku pun sangat kaget ketika diberi tahu, karena aku fikir aku akan bisa menemui Rini di Singapura dengan kondisinya yang membaik semua. Kukirim doa padanya dan kuminta teman-temanku berdoa bersama baginya. Rupanya berbagai doa, shalat permohonan semua orang termasuk Rini sendiri, suaminya dan berbagai komunitas membuatnya sangat kuat. Meskipun tensinya turun naik Rini tidak pernah tidak sadar. Dan mulutnya selalu bergerak untuk berdzikir. “Kejar setoran,” kata ibunya. Ketika suaminya melafazkan doa tak sesuai urutan, Rini tahu dan memintanya memperbaiki urutan doanya.

Dan di akhir, Rini hanya seperti sedang khusuk dzikir saat dipanggilNya. Tiba-tiba dua butir air mata keluar di matanya, dan mulutnya tersenyum. Badannya berisi kembali dan kulitnya sangat bersih, putih, tak ada kotoran kulit mati sama sekali. Ibunya berkata pada suaminya, “Abang tahu apa artinya dua butir air mata dan bibir yang tersenyum?”

“Apa Mah?” tanya suaminya.

“Rini melihat pintu surga. Ini yang Rasulullah pernah sampaikan,” kata ibunya lagi.

Dan sepanjang jalan di ambulance, suaminya pun mengatakan pada alm Rini yang didampinginya pulang ke rumah, “Baby, indah sekali kepergianmu. Semua orang bisa iri dengan cara seperti ini,” bisiknya pada alm istrinya dengan penuh bahagia.

“Rupanya kematian adalah ketidakpastian yang bisa kita siapkan dengan baik,” demikian kesimpulan suaminya menyaksikan semua proses yang dialami Rini.

Semua proses pemakaman berjalan dengan sangat lancar, jauh lebih cepat daripada perkiraan semua pihak. Alam pun menyambut dengan syahdu, teduh penuh kelembutan.

Dan rumah duka pun berubah menjadi rumah syukur, di mana semua orang bersyukur bisa menyaksikan kepergian yang begitu damai, begitu dekat dengan Sang Pencipta dan begitu penuh makna. Akhir hidupnya begitu penuh makna dan sarat pelajaran bagi mereka yang dekat dengannya. Dan kita semua sadar bahwa semua keindahan ini dihadiahkan oleh Allah melalui kanker. Kalau bukan karena adanya kanker, belum tentu Rini punya kesempatan indah seperti ini.

Dan semoga aku bisa meneruskan berbagai pelajaran ini agar dunia pun bisa belajar dari akhir yang indah ini. Semoga dunia bisa faham, bahwa kanker bisa menjadi hadiahNya yang sangat sarat makna. Tergantung pada bagaimana kita memberi arti padanya. Tergantung syukur kita atasnya.

_________________________________

Ingin membantu teman-teman penerima kanker di Lavender? Silakan kirim donasi anda ke Yayasan Lavender Indonesia di Bank Mandiri nomor rekening 1270007342932. Kirim bukti transfer ke Indri Yusnita via wa atau sms di +62 815 8700930.

Sumber:

ow.ly/IZM7308Uwqp

#WorldCancerDay

Advertisements

6 comments

  1. Mbak, izin reshare/reblog ya.. Mbak Rini (rohimahullah) adalah kakaknya Risye, rekan kerja saya. Tulisan ini menyentuh banget, Mbak, sekaligus mengingatkan saya, agar bersiap juga. Wallahua’lam kapan ajal tiba.

    Kematian adalah misteri Ilahi, datangnya bisa “dipersiapkan”, bisa juga mendadak. Seperti ibu kandung saya yang meninggal tanpa sakit, dalam 1 jam setelah mengeluh sakit di dada, beliau langsung berpulang, tanpa sempat saya berpamitan dan meminta maafnya..

    Terima kasih ya, Mbak, sudah menuliskan ini..

    Like

  2. Reblogged this on Live to Learn to Live and commented:
    Tulisan tentang Mbak Sinta Rini, kakak dari Risye Dwiyani (The World Bank Indonesia), rekan kerja dalam tim besar PNPM Mandiri Perkotaan hingga KOTAKU sekarang. Tulisan ini sebagai pengingat diri juga bahwa kontrak hidup tidak berdasarkan deret hitung (maksudnya usia), tetapi sepenuhnya hak Allah. Namun kita bisa mempersiapkannya sejak sekarang, insya Allah.

    Selebihnya, insya Allah, husnul khotimah ya, Mbak Rini.. She was so young, (gone too soon according to us) and yet, inspiring. Insya Allah kisah hidupnya bermanfaat buat kita semua. Aamiin..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s