Riset: kebahagiaan didapat dengan berbagi, bukan dengan mengkonsumsi

Sahabat, masih ingat kisah Shakuben, seorang janda tukang sapu di sebuah sekolah yang mengumpulkan pensil-pensil bekas dari tempat sampah untuk diberikan pada anak-anak yang tidak bisa beli pensil?

Shakuben belajar dari Gandhi yang sangat menghargai cinta yang melekat pada sebuah pemberian. Shakuben mencoba memasukkan cinta dalam setiap pensil yang diambilnya dari tempat sampah. Ia memilih untuk tidak membeli pensil di toko untuk diberikan pada anak-anak itu, tapi ia bersusah payah mengobrak-abrik tempat sampah untuk mendapatkan pensil-pensil tersebut. Selain ia bisa mendapat lebih banyak pensil daripada harus membeli, ia memasukkan cinta dalam proses tersebut.

Shakuben belajar dari Gandhi, menghargai sesuatu yang tak dapat dihitung, cinta, perhatian. Dan pada saat kita menghargai hal-hal tersebut, terjadi sebuah transformasi dalam diri kita. Nipun Mehta menjelaskan bahwa kalau kita akan memusatkan perhatian pada orang lain, bukan diri kita sendiri. Dan pada saat itu kita akan menemukan ketenangan, kebahagiaan, rasa syukur, yang pada gilirannya akan mempengaruhi biokimia dalam tubuh kita untuk meningkatkan daya tahan kita terhadap penyakit dan menyembuhkan penyakit yang ada.

Seorang profesor Harvard meneliti dan menemukan bahwa seseorang akan lebih bahagia apabila ia memberikan uangnya pada mereka yang membutuhkan daripada kalau menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang ia fikir ia senangi.

Berbagi juga penting untuk pikiran. Pada saat kita berbagi kita akan menemukan ketenangan jiwa. Keinginan berbagi hanya bisa terjadi pada saat kita merasa cukup, content, dan tidak menuntut lebih banyak. Kita berhenti bertanya, “Apa yang bisa saya dapat” dan mulai berkata, “Apa yang bisa saya berikan.”

Memberi cinta tidak membuat kita kekurangan cinta. Berbagi cinta membuat kita mendapat lebih banyak cinta.

Memberi cinta tak membutuhkan uang, sehingga setiap orang bisa memberi dengan cara yang unik dan berbeda.

Ragu Makwana, seorang polio yang berjalan dengan tangan, memilih untuk mendatangi keluarga-keluarga yang bermasalah dengan membawa tanaman, memberikan cintanya, semangatnya, berbagai cerita yang bisa membahagiakan keluarga tersebut dan bersama-sama memelihara tanaman tersebut. Ia akan datang kembali untuk memeriksa tanaman tersebut dan kondisi keluarga yang memeliharanya. Polio tak membuatnya tak mampu untuk berbagi cinta.

Everybody can be great, because everyone can serve, kata Martin Luther King.

Inilah proses yang terjadi dibalik perintahNya untuk berbagi, untuk bersilaturahmi. Sang Pencipta sudah menyiapkan proses ini, dan kita tinggal mengikuti: berbagi, sedekah, memberikan cinta tanpa pamrih (unconditional love) memanjangkan umur.

Yuk kita ikuti petunjukNya yuk.

Kalau Shakuben, seorang tukang sapu di sekolah, dan Ragu, seorang miskin penderita polio, bisa memberikan cinta tanpa pamrihnya kepada siapapun yang ditemuinya, apa yang dapat kita berikan hari ini, yang lebih baik lagi dari kemarin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s