Skip to content
Advertisements

Masjid teladan 

Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah Ta’ala (mengharapkan wajah-Nya) maka Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di Surga.png

Di masa Rasulullah segala kegiatan berpusat di masjid. Dan demikianlah seharusnya seluruh kegiatan umat Islam. Setiap masjid perlu bekerja untuk bisa menjadi pusat kehidupan umat. Bukan hanya tempat untuk shalat tapi juga untuk belajar, berobat, membincangkan kehidupan umat, berkumpul membangun silaturahmi dan lain sebagainya. Masjid pun bahkan perlu berfikir mengenai ekonomi umat dan pemberdayaannya.

Mungkin Masjid Jogokariyan bisa menjadi contoh. Ada beberapa hal yang mereka miliki yang perlu menjadi contoh bagi masjid lain, seperti yang diungkap Ustad Salim A Fillah dan Batara News.

Data base warga

Setiap tahun masjid Jogokariyan mengadakan sensus untuk memperbaharui data jemaah, agar dapat lebih baik berkomunikasi dengan jemaahnya. Data base ini mencakup:
– Nama, alamat dan data demografis lain
– Siapa saja yang sholat dan yang belum sholat
– Yang sholat di Masjid dan yang belum sholat di masjid
– Yang sudah berzakat dan yang belum berzakat
– Yang sudah berqurban dan yang belum berqurban
– Yang aktif mengikuti kegiatan masjid dan yang belum
– Yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana

Dari Data Base diatas bisa diketahui bahwa dari 1030 kepala keluarga di sekitar masjid, atau 4.000an penduduk di sekitar masjid, yang belum sholat tahun 2010 ada 17 orang, penurunan dari angka 127 orang di tahun 2000.

Maka para pengurus dan warga bisa melihat bahwa dakwah berhasil dijalankan, karena dalam 10 tahun terlihat jelas penurunan angka warga yang belum shalat.

Data jamaah ini juga digunakan untuk Gerakan Shubuh Berjamaah. Masjid mengadakan gerakan dengan mengundang seluruh warga menggunakan undangan layaknya undangan pernikahan, sangat bagus dan menghormati penerimanya. Undangan dilengkapi hadits-hadits keutamaan shalat subuh. Alhamdulillah hasilnya sangat baik, dengan jumlah jemaah yang mendekati jumlah jemaah Shalat Jumat.

Memelihara Dokumentasi Masjid

Masjid Jogokariyan memelihara dokumentasi masjid dengan sangat baik. Mereka masih menyimpan sebuah foto tahun 1967 di mana seorang Bapak berpeci hitam, baju batik dan bersarung mengawasi para pengaduk semen bekerja membangun masjid.

Di tahun 2002/2003 saat masjid direnovasi besar-besaran foto tersebut dikirim pada putra si Bapak tua di dalam foto. Putranya kebetulan adalah seorang juragan kayu. Pesan dari masjid untuk sang putra:

“Ini gambar Ayahanda Bapak ketika membangun Masjid Jogokariyan, kini Masjid sudah tak mampu lagi menampung Jamaah, sehingga kami bermaksud merenovasi masjid. Jika berkenan melanjutkan amal jariyah Ayahanda Bapak, kami tunggu partisipasi bapak di Jogokariyan.”

Sang anak pun mengirim Rp 1 milyar untuk dana renovasi masjid, menyambung kecintaan ayahnya terhadap masjidnya.

Sistem Pendanaan Masjid

Masjid Jogokariyan mengembangkan dan memberdayakan perekonomian warga dengan berkolaborasi mengadakan berbagai kegiatan di masjid. Setiap pekan ada ratusan tamu yang konsumsinya disediakan oleh rumah makan setempat. Maka usaha warga dan jemaah pun bergulir dan berkembang.

Setiap pemasukan infak langsung disalurkan agar tidak mengendap di bank. Masjid Jokoriyan pantang menyimpan, karena setiap saat selalu ada warga yang membutuhkan uang untuk berobat, makan, sekolah dan lain sebagainya.

Masjid Jogokariyan pada tahun 2005 menginisiasi Gerakan Jamaah Mandiri. Mereka menghitung jumlah biaya total dalam setahun dan membaginya dengan 52, sehingga didapat angka biaya mingguan, yang dibagi lagi dengan jumlah warga yang bisa ditampung di masjid. Didapatlah biaya kebutuhan menyediakan tempat bagi warga di dalam masjid setiap minggunya. Itulah biaya yang ditanggung masjid untuk setiap jemaah.

Setiap jemaah yang bisa berinfak dengan jumlah itu disebut Jemaah Mandiri, karena mereka membiayai sendiri biaya yang dibutuhkan untuk mengakomodasi kehadiran mereka di dalam masjid. Kelebihannya disebut subsidi bagi mereka yng tidak mampu membayar. Maka mereka yang membayar lebih disebut Jemaah Pensubsidi.
Mereka yang tidak berinfak atau berinfak kurang dari biaya kebutuhan per orang per minggu disebut Jemaah Disubsidi.

Hal tersebut dikomunikasikan pada warga. Pada setiap pengumuman, ada pernyataan:
”Doakan kami tetap mampu melayani ibadah anda sebaik-baiknya.”

Gerakan ini berhasil meningkatkan jumlah infak sebesar 400%. Ternyata orang tak mau disebut jemaah disubsidi.

Sarana dan Prasarana Masjid

Masjid menyediakan fasilitas wifi gratis, sehingga jemaah tak perlu ke warnet. Wifi disdiakan di masjid sehingga kondisi tidak mendukung hal-hal yang negatif.

Masjid juga menyediakan ruang olah raga atau bermain dengan tenis meja dan berbagai fasilitas lain. Dengan demikian para pemuda bisa beraktivitas dengan sehat dan tetap ingat waktu shalat.

Komunikasi tanpa meminta

Setiap kali ada kebutuhan untuk renovasi, tidak pernah ada proposal yang terkesan meminta-minta pada warga. Spanduk dipasang di depan masjid dengan perkataan: “Mohon maaf ibadah Anda terganggu, Masjid Jogokariyan sedang kami renovasi.”
Ada nomor rekening untuk membantu warga transfer langsung ke rekening.

Asuransi Masjid

Sejak 2005 ada Universal Conference Insurance. Seluruh jemaah bisa berobat di pusat kesehatan (rumah sakit atau klinik) yang bekerja sama dengan masjid dengan gratis.

Nah, teman, yuk kita ambil teladan masjid ini. Siapapun bisa mengikuti contoh-contoh ini karena contoh-contoh ini bukan hal-hal yang sulit dilakukan. Sangat sederhana namun bisa sangat berdampak menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat.

Apa hal yang paling sederhana yang bisa dilakukan hari ini untuk mulai membangun masjid di lingkungan teman-teman?
Dan bagaimanakah hal ini bisa rutin dilakukan dengan lebih baik lagi setiap hari?

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Ps. Terima kasih untuk Pak Reva (SSQ) yang menginspirasiku menulis ini dengan mengirimkan berita Barata News dalam group SSQ.
Semoga berkah, Bapak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: