Skip to content
Advertisements

Mau mulia, kaya dan sejahtera? Coba cek hati, pikiran dan jiwa, sudah kayakah kita di sana?

img_4807

Seorang alim ulama besar yang kemalaman dalam perjalanannya, berpakaian kumal kelelahan sampai di sebuah kota. Ia bertemu dengan seorang pengusaha kaya dalam sebuah perjamuan. Pengusaha kaya ini memincingkan sebelah mata, menghinanya dan tak mau berdekatan dengannya.

Keesokan harinya ulama ini bertemu kembali dengan pengusaha kaya ini dalam acara lain di mana ulama ini harus menjadi pembicara. Karena baju sang ulama sudah sangat bagus dan mewah, sang pengusaha kaya tak mengenalinya.

Sang pengusaha kaya mengajaknya makan di meja yang sama bersamanya karena ia ingin berkonsultasi mengenai usahanya yang mandeg.

Berkatalah sang ulama,
“Allah tak pandang bulu dalam membukakan jalan kemuliaan.
Ada sebuah hukum yang berlaku dalam pengaturan rizkiNya
Mereka yang menghormati semua ciptaanNya tanpa pandang bulu
Akan pula dihormatiNya setiap saat
Mereka yang selalu berusaha membahagiakan orang lain
Akan pula dibahagiakan olehNya
Dicukupi seluruh kebutuhanNya
Tanpa harus merasa miskin karena kondisinya
Mereka yang menhina hamba-hamba dan semestaNya
Akan pula dihinaNya dan direndahkanNya
Mereka yang merasa kuat dan seenaknya terhadap hambaNya dan ciptaan lainNya
Memainkan serangga, mubazir dengan alam, menindas manusia dan hewan,
Akan pula ditindas dan ditekan olehNya

Makin kita tak menuntut,
Makin kita berserah dan ikhlas akan ketentuanNya
Makin kita diberi kemuliaan
Kalau tak sekarang, bisa jadi di akhirat nanti
Semua punya masanya
Semua punya kadarnya
Tinggal tunggu waktunya
Hidup kita adalah cerminan kita
Perasaan, perkataan dan perbuatan kita.

Jadi bingung dengan rizki mandeg?
Lihat saja hidup kita.
Apakah kita sudah melancarkan rizki orang lain?
Apakah kita sudah cukup mensyukuri semua karuniaNya?
Apakah kita sudah cukup memberi arti bagi hidup orang lain?

Rizki kita, hidup kita
Kita yang menjawab
Semua berjalan dengan hukumNya
Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Lalu ia tanggalkan baju luarnya yang bagus,
“Inilah yang kau hargai, bukan aku.
Karena kemarin dengan bajuku yang lain kau tak ingin berdekatan denganku.
Baju hanyalah atribut, bukan sesuatu yang esensial.
Mungkin kekayaanmu baru atribut,
Belum sampai kaya secara esensial
Karena mereka yang kaya secara esensial
Akan selalu bersyukur, menghormati, menghargai dan ikhlas akan semua pemberianNya.”

Dan pergilah si ulama meninggalkan pengusaha kaya yang bengong
speechless, tak bisa berkata apa-apa.
Merenung akan atribut dan esensi.

Sudahkah hidup kita menyentuh esensinya?
Hidup dengan ikhlas, syukur dan bahagia
Merasa kaya dengan apa adanya?
Mulia karena selalu memuliakan?
Sejahtera karena selalu mensejahterakan?

Karena kaya, mulia dan sejahtera,
Tidak tergantung jumlah harta
Tapi tergantung indahnya hati, pikiran, jiwa
Yang diungkap oleh kata dan usaha

Apa hal terkecil hari ini yang dapat menjadikan kita kaya mulia dan sejahtera dari dalam hati, pikiran dan jiwa?
Bagaimanakah kita dapat menjaganya lebih baik setiap hari sampai akhir hidup nanti?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: