Kaya itu bukan di harta. Kaya ada di hati.

img_3094

Seorang hartawan yang kaya raya baru saja meninggal dunia. Istrinya sangat berduka. Rumah yang besar terasa kosong dan menyiksanya. Anak-anaknya tinggal di luar negeri, punya keluarga di sana. Mereka jarang mengunjunginya. Ia kesepian, merasa sendiri dan sering marah-marah. Maka ia pun memutuskan pindah ke sebuah rumah yang lebih kecil. Tetap mewah, ada di kompleks mewah, tapi lebih kecil.

Kompleks perumahan yang baru terletak di dekat sebuah perkampungan. Anak-anak yang tinggal di perkampungan itu beberapa kali lewat lalu lalang bermain dalam kompleks tersebut. Pelan-pelan perempuan kaya raya tersebut mulai mengenali wajah-wajah anak-anak tersebut. Ia mulai tahu wajah, tapi tak tertarik untuk mengundang mereka masuk ke dalam rumah kosong dan mewah itu. Ia curiga dan tak terlalu tertarik untuk bergaul dengan anak-anak itu. “Nanti mereka minta makan minum dan bikin kotor,” pikirnya dengan jijik membayangkan kalau ada anak-anak kampung yang main ke rumahnya.

Suatu hari listrik mati. Si perempuan malas menyalakan lilin-lilin di seluruh rumahnya. Ia hanya menyalakan di kamarnya sehingga dari luar tetap terlihat gelap.

Tiba-tiba ada ketokan di pintu. Ia kaget, karena tak pernah ia menerima tamu, dan tak ada yang mengatakan akan datang ke rumah itu. Disibaknya horden kamarnya, dan dilihatnya anak-anak dari kampung sebelah di muka pintunya.

“Pasti orang-orang kampung itu minta lilin,” batinnya. Ia makin malas membuka pintu. Tapi mereka tak juga pergi. Akhirnya ia meminta pembantunya membuka pintu.

“Assalamualaikum ww. Selamat malam,” sapa anak-anak itu.

“Selamat malam. Ada apa, nak?” tanya pembantu rumah yang membuka pintu.

“Ibu ada? Bagaimana ibu? Rumahnya gelap sekali. Tidak ada lilin ya? Ini kami bawakan lilin kalau tidak ada. Kasihan ibu kan sendirian.”

Suara kecil itu terdengar oleh perempuan kaya dari dalam kamarnya. Ia kaget. Ia curiga anak-anak ini akan meminta-minta, ia jijik dan takut anak-anak ini akan mengotori rumahnya. Ternyata kini ia menemukan bahwa hati anak-anak ini lebih bersih daripada hatinya yang penuh curiga dan tak mau peduli pada anak-anak ini. Ternyata anak-anak ini memperhatikan bahwa ia tinggal sendiri. Ternyata anak-anak ini memperhatikan bahwa rumahnya gelap. Ternyata anak-anak ini peduli. Ternyata anak-anak ini sangat penuh kasih.

Ternyata ia yang hartanya lebih banyak, tidak lebih sejahtera daripada anak-anak kampung ini. Ternyata anak-anak ini lebih sejahtera dari dalam. Dalam kondisi hidup mereka di kampung, mereka sudah merasa cukup, sehingga mereka bisa memikirkan orang lain, dan ingin membantu orang lain, menyenangkan hati orang lain.

Hatinya tersentuh begitu dalam. Dari yang tadinya jijik kini ia jatuh cinta pada anak-anak ini. Maka dihampirinya mereka dan diundangnya masuk.

“Ibu sudah ada lilin di kamar, tapi kamu masuk saja yuk, temani Ibu mau?” ajaknya.

“Kami hanya ingin memberikan ini, Ibu. Kami tidak bisa lama-lama, kata Bunda kami, karena kami harus sekolah besok,” jawab anak-anak ini.

“Kalau begitu besok pulang sekolah datang ya, Ibu ada kue untuk kamu,” undang perempuan kaya itu lagi. Anak-anak itu pun bersorak gembira, dan pamit pulang.

Keesokan harinya anak-anak itu datang, dan disuguhi kue-kue enak. Mereka ngobrol panjang lebar. Perempuan kaya itu merasa sangat gembira dan bahagia. Ia mulai merasa hidupnya penuh arti, minimal bagi anak-anak yang tak punya banyak uang, tapi kaya di hati ini. Ia menyediakan tontonan bagi anak-anak itu, mulai mencarikan guru bahasa Inggris dan mengaji. Dijadikannya rumahnya tempat berkumpul anak-anak ini. Ia pun kini sibuk mengurus anak-anak ini. Ia memperhatikan pendidikan dan kesehatan mereka, datang ke rumah mereka kalau ada yang sakit, dan memberikan bantuan sekedarnya.

Ia menemukan bahwa kesibukannya ini menjadikan hidupnya sangat indah dan penuh bunga. Ia tak lagi marah-marah karena anaknya tak pernah datang, ia tak lagi sedih merenung sendirian karena merasa tak ada yang memperhatikan. Anak-anak ini sering datang membawa berbagai bawaan dari orang tua mereka. Dari ubi rebus, nasi uduk, dan berbagai hal. Ia measa sangat kaya.

Sampai suatu hari Ibu ini mendapat diagnosa kanker.

Anak-anak ini terus mendampinginya, menemaninya menjalani berbagai jenis terapi di rumah sakit, membawakan apapun yang ia butuhkan, karena anak-anaknya pun hanya berkomunikasi melalui skype.

Sampai suatu hari ia meninggal dunia, anak-anak ini serta orang tuanyalah yang membacakan nama Sang Pencipta di telinganya, dan menemaninya sampai ia benar-benar pergi.

Ia mungkin tak ditemani anak-anak kandungnya, tapi ia tetap bahagia dan merasa penuh syukur. Di akhir hidupnya ia tak lagi mengisi harinya dengan kesedihan, kesepian, atau marah pada anak-anaknya yang sebelumnya sering menjadi sasaran kekesalannya. Ia meninggal dengan tenang, dengan bahagia, dan dengan hati yang kaya dan sejahtera.

 

Dari:

 

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s