Skip to content
Advertisements

Apakah kita harus diberi sakit dulu baru rajin beribadah dan beramal sholeh?

Namanya Andiny Az Zahra Basalamah. Andiny lahir Juli 1996 dengan kondisi normal. Di kelas 5 SD ia sering merasa lemas, bahkan sering sampai sesak  nafas.

Setelah beberapa kali menjalani pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Andiny memiliki Polisitemia Vera level 2.

Di kelas 7 SMP Andiny sakit dan harus diopname di Mount Elizabeth. Dokter menyatakan bahwa Polisitemia Vera nya sudah naik ke level 3, level tertinggi. Tulang sum sum nya terlalu banyak memproduksi butiran sel darah merah tanpa bisa dibendung oleh obat sekalipun. Ia sampai sempat koma 3 bulan di Mount Elizabeth.

Andiny pun merasa hidupnya tak lama lagi. Ibunya meninggal di usia muda, 31 tahun, saat Andiny masih berusia 6 tahun. Andiny merasa nasibnya pun akan sama, meninggal muda. Perasaan ini tidak membuatnya demotivasi atau putus semangat, ia pun mulai membuat rencana pertemuan dengan Sang Pencipta.

Andiny mulai rajin belajar mengaji. Ia pun rajin menghafal berbagai surat Al Quran. Al Kahfi, Ar Rahman, Yasin, Maryam, juz amma, Al Waqiah, Al Muzzamil, semua dihafalnya.

Hari demi hari dijalaninya dengan bayangan bahwa ia tak lama lagi akan meninggal. Dan ia harus terus mengisi hidupnya dengan mendekatkan diri padaNya.

Kini Andiny sudah berusia 19 tahun, sudah 9x drop dan diopname. Dan ia terus bertahan dan berusaha untuk terus mendekat kepadaNya. Ia merasa sangat bersyukur masih bisa menerima hidup, hari demi hari. 

Saat dokternya mengatakan usianya tinggal 5-8 tahun lagi Andiny makin membulatkan niat untuk menghafal Al Quran 30 juz. Setiap hari Andiny mengaji dari pagi jam 8.30 sampai selesai shalat dzuhur. Setiap ayat dibacanya dua puluh kali dan disetornya tiap habis Magrib sampai jam 20.00 tiap malam kecuali Sabtu dan Minggu.

Dalam satu setengah tahun 16 juz berhasil dihafalnya. Inilah bekal yang ingin dibawanya menghadap Allah swt saat waktunya tiba.

Shalat Senin Kamis dan shalat tahajud pun rutin dikerjakannya sejak SMP. Setiap jam 2 ia terbangun dengan sendirinya tanpa weker. Setelah tahajud 2 rakaat dan witir 3 rakaat ia mengaji 1-3 juz.

Allah memberikannya kekuatan untuk selalu tahajud dan mengaji, sesakit apapun ia. Saat tahajud dan mengaji ia tak lagi merasa sakit. Rasa lemas baru datang setelah shalat subuh.

Andiny merasa sangat disayang Allah dengan kondisi yang dihadapinya. Mungkin orang lain merasa kasihan padanya tapi ia merasa sangat bersyukur.

Perjuangan menghadapi penyakit terus dijalankannya. Saat serangannya datang ia merasa sesak nafas dan harus bernafas dengan bantuan oksigen karena suplai darah ke otak berkurang.

Di rumahnya tabung-tabung oksigen disediakan ayahnya di beberapa ruangan dan juga di mobil. Sebulan sekali Andiny menjalani  Terapi Radioaktif Fosfor P-32 untuk menurunkan produksi butiran sel darah merahnya. Tapi apapun yang dijalaninya Allah belum ridla sakitnya meninggalkannya atau minimal menjadi lebih baik. Dan ia pun ikhlas. Mungkin kalau sembuh ia belum tentu serajin ini beribadah, batinnya.

Hari demi hari terus dijalaninya bersama Polisitemia Vera yang dikirim Allah menemaninya bersama semua amalannya. Andiny pun terus minta izin agar ia bisa menghafal seluruh surat Al Quran sebelum dipanggil dan agar ia dijemput dalam sujud melantunkan ayat-ayatNya.

Tak pernah sekalipun ia menyesali apalagi marah pada Allah. Ia ridlo dan ikhlas atas semua yang diberikanNya. Dengan bahagia Andiny berbagi kisahnya untuk dapat memotivasi banyak teman yang juga diberi pelajaran sakit olehNya.

Bencana dan sakit sesungguhnya sama saja. Keduanya bisa mendekatkan atau menjauhkan kita dariNya. TantanganNya adalah bagaimana kita bisa terus mendekat padaNya, menjalankan semua- semua – dan semua perintahNya tanpa menganalisa dan memilih. Tanpa harus sibuk dengan aib orang lain dan fokus memperkuat diri sendiri.

Mereka yang sudah dipanggil Allah minta waktu lebih lama untuk beramal mencari bekal. Mereka yang masih punya waktu seringkali menunda-nunda.

Saat aku didiagnosa kanker pun dalam sujud syukurku aku berkata padaNya, “Aku ikhlas dan bersyukur kalau Allah panggil aku dengan kanker. Tapi aku tidak tahu apakah bekal amalku cukup. Kalau Allah berikan aku waktu lebih, aku akan jadikan hidupku sebagai wakilNya, beribadah lebih banyak padaNya.” Sampai sekarang pun aku belum seperti Andiny. Aku pun punya banyak sekali PR mencari bekal amalan di depan.

Apakah Allah harus memberi sakit dan bencana dulu baru kita kembali mendekat padaNya, menjalankan perintahNya, menjauhi larangaNya?

Apakah Allah harus menahan kesembuhan karena kalau kita sembuh mungkin kita menjadi jauh dariNya?

Bagaimanakah agar kita dapat terus mendekat padaNya apapun kondisi kita karena kita tak pernah tahu kapan panggilanNya tiba?

Nuhun pisan untuk Teh Julia, Lavender Bandung, yang berbagi kisah Andiny di group Lavender. Semoga berkah bagi kita semua. Aamiin.

๐ŸŽ๐Ÿ‹๐Ÿ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: