Sumber kegagalan adalah pikiran dan perasaan kita sendiri, bukan dari luar


Banyak orang yang menyalahkan kondisi sebagai alasan mengapa mereka tak berhasil meraih harapan dan cita-citanya, dan mendapatkan kebahagiaan. Ada yang bilang karena tak punya uang, tak punya orang tua kaya, karena tidak punya pendidikan tinggi, dan yang paling parah adalah yang mengatakan karena tinggal di negara ini. Alasan, alasan, alasan, selalu ada alasan.

Pernah waktu itu ada yang mengatakan padaku, “Ibu enak, punya nama belakang Abidin, itu yang buat Ibu sukses.” Nama belakang pula dijadikan alasan. Apakah semua yang punya nama belakang Abidin semua sukses? Dan apakah yang tak punya nama belakang Abidin tak ada yang sukses. Ini alasan paling lucu yang pernah aku dengar. Orang pintar sekali mencari alasan untuk tidak sukses. Dan dengan melakukan itu sesungguhnya mereka sedang menciptakan hambatan bagi dirinya sendiri untuk sukses.

Kalau mau tengok ke daftar orang yang merasa berhasil dan merasa bahagia, mereka tak selalu punya uang, tak selalu lahir dari orang tua kaya, tak selalu punya masa kecil yang indah, atau berpendidikan tinggi. Ada konglomerat hanya lulus SD, ada orang-orang yang merasa bahagia dan cukup tanpa harus punya uang banyak. Ada yang bisa menjadi orang yang sangat berpengaruh tanpa harus punya jabatan tinggi atau kekayaan, dan mereka merasa cukup bahagia dengan kondisi itu.

Yang membuat mereka semua sukses tanpa harus punya uang, jabatan, kekuasaan, atau orang tua, atau yang paling lucu, tanpa harus punya nama belakang tertentu.. adalah perasaan dan keyakinan bahwa mereka sudah cukup diberikan kekuatan dan potensi oelh Sang Maha Kuasa untuk meraih apa yang mereka ingin raih. Perasaan dan keyakinan inilah yang membuat mereka terus berjuang mendapatkan apapun yang mereka ingin dapatkan. Allah sudah mengatakan bahwa Allah adalah seperti keyakinan hambaNya kepadaNya. The Law of Attraction atau Hukum Tarik Menarik mengatakan bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita yakini, dengan izinNya.

Sukarno bukan seorang kaya, tapi ia yakin bahwa ia bisa berbuat sesuatu untuk bangsanya. Dengan keyakinannya ia bisa mendapatkan dana dan apapun yang ia butuhkan untuk berbuat sesuatu, sesuai dengan keyakinannya. Menjadi presiden adalah jalan, tapi yang ia kejar sesungguhnya adalah membangun negara yang ia cintai ini. Keyakinannya dan semangatnya yang membuat semua orang mendukungnya.

Nick Vujicic, motivator tak bertangan tak berkaki, bukan hanya cacad tapi ia juga bukan orang kaya, bukan orang berpengaruh. Tapi dengan keyakinannya bahwa ia bisa berkontribusi memotivasi dunia, ia bisa mendapatkan dana, pengaruh, bantuan dan apapun yang ia butuhkan untuk memotivasi dunia. Keyakinannya dan passion nya yang membawanya ke sana.

Obama juga bukan lahir dari keluarga presiden atau keluarga kaya. Keyakinannya bahwa ia bisa meningkatkan kualitas hidup bangsanya yang membawanya menjadi presiden yang mendapat dukungan luas. Keyakinannya menjadi magnet bagi banyak orang untuk ikut membantu visinya.

Sukarno, Nick dan Obama bukan berasal dari keluarga kaya, berpangkat dan berkedudukan. Keyakinan, keteguhan, dedikasi dan kesungguhan mereka membawa orang-orang yang kaya, berpangkat dan berpengaruh untuk mendukung mereka. 

Jadi, berhentilah menciptakan kegagalan diri sendiri dengan menciptakan alasan dan keluhan. Sang Pencipta menciptakan kita lengkap dengan semua yang kita butuhkan. Ikhlaslah menerima bahwa kita diciptakan dengan segala kelengkapan dariNya untuk maju dan sukses.

Coba tanyakan pada lubuk hati yang paling dalam,
Apa yang sesungguhnya ia inginkan?
Apa jawaban yang akan diberikan saat Sang Pencipta bertanya, “Sudah kau gunakan seperti apa potensi luar biasa yang Kuberikan padamu?”
Kenapa itu penting? Bagi siapa saja itu penting?
Seberapa penting?
Apa rasanya saat semua itu diraih dan capai?
Apa kata orang?
Apa kata ayah kita? Ibu kita? pasangan kita? anak-anak kita?
Apa kata diri kita sendiri?
Kesempatan apa saja yang akan terbuka kalau semua itu menjadi kenyataan?
Apa saja kekuatan baru yang akan muncul saat semua terwujud?
Dan kalau semua itu penting, bagaimana kita bisa mewujudkannya, mulai dari diri sendiri saat ini? Mulai dari yang kecil?

Apa yang bisa lebih baik kita lakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s