Rejeki itu dariNya, bukan dari boss, atau perusahaan. Patuhlah dan bersyukurlah hanya padaNya

img_2358

Ada pesan indah dari Pak Sonny di group Neuronesia Community, yang perlu benar-benar kita cermati dan jadikan pola pandang kita sehari-hari. Kita simak yuk.

● Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.

● Aku melihat hidup temanku tak ada duka dan kepedihan, Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.

● Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian. Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dlm kehidupannya..

● Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, Ternyata ia hanya berbahagia “menjadi apa adanya”

● Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung

● Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain.. Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku.. Tapi rejekiku tahu di mana diriku

● Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya menuju kepadaku

● Allah yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku

● Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja.. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusanNya

● Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijaminNya, adalah kekeliruan berganda

● Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati

● Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya

● Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendakNya. Ikhtiar itu perbuatan.

● Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak, “Darimana dan digunakan untuk apa” Karena rejeki hanyalah “Hak Pakai”, bukan “Hak Milik”

Yuk sahabat, syukuri semuanya. Apapun itu, baik sempit atau lapang, kaya atau miskin, sakit atau sehat, muda atau tua, sama saja, semua adalah cobaan. Cobaan dariNya untuk melihat, apakah kita dapat ikhlas, sabar, bersyukur dan terus ada dalam jalanNya pada setiap kondisi?

Seberapa sadar kita bahwa semua rejeki kita adalah dariNya, bukan dari kerja keras kita, dari boss kita atau perusahaan kita?

Seberapa mampu kita patuh hanya padaNya, sehingga apapun yang kita lakukan untuk mendapat rizki benar-benar ada dalam jalanNya, sebagai bentuk ibadah hanya untuk mendapat ridloNya?

Seberapa besar pekerjaan kita ditujukan sebagai bentuk syukur padaNya, atas semua nikmat dan karuniaNya, sehingga kita tak akan pernah berfikir hitung-hitungan, tapi terus fokus pada memberi manfaat bagi semua ciptaanNya, tanpa pamrih?

Seberapa tenang kita dalam setiap kondisi bencana, karena yakin Allah Maha Mencukupi?

Dan mampukah kita merasa cukup dan bahagia atas apapun yang diberikanNya, meskipun semua membawa kesempitan, bencana datang bertubi-tubi, atau godaan datang dari kanan kiri?

Kalau semua sudah kita yakini dan syukuri, insya Allah tak akan lagi ada kata-kata:

“Cari yang haram saja susah apalagi yang halal?”

“Aduh kalau saya keluar dari perusahaan yang mengerjakan hal haram ini, bagaimana saya nanti bisa dapat kerjaan lagi?”

“Cari makan di Indonesia ya begini, harus korupsi, kalau nggak, nggak bisa hidup, nggak cukup buat hidup.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s