Skip to content
Advertisements

Kadang-kadang pengalaman dan ilmu adalah musuh terbesar kita 


Di sebuah perusahaan konsultan kenamaan Indonesia pernah ada dua jenis pimpinan. Satu Bu Maria, seorang mantan direktur di perusahaan sebelumnya. Sangat pintar, sangat jago dan sangat menguasai bidang yang jasanya diberikan oleh perusahaan konsultan tersebut.

Satunya lagi Bu Asima, yang tidak punya pengalaman yang persis seperti yang diberikan jasanya oleh perusahaan tersebut, tapi ia punya semangat belajar luar biasa. 

Bu Maria memimpin dengan tangan besi. Karena ia merasa tahu semuanya, maka ia tak pernah mau mendengar masukan dari mereka yang dipimpinnya. Bahkan klien-klien pun seringkali dianggapnya tidak sepintar dirinya. Ia menentukan berbagai kebijakan berdasarkan pendapatnya sendiri. Ia menilai semua orang berdasarkan standard yang dimilikinya.

Bu Asima yang tak terlalu menguasai urusan teknis dari layanan perusahaan, belajar dari sebanyak-banyaknya orang, termasuk mereka yang dipimpinnya. Meskipun tak menguasai secara teknis, kemampuan manajerial dan kepemimpinannya ternyata membuatnya mampu memenangkan hati klien dan mereka yang dipimpinnya. 

Bu Maria yang pintar ternyata tak mampu bertahan lama di perusahaan tersebut. Team yang dipimpinnya tak mendukungnya, target kinerjanya pun tak berhasil dicapainya. Sebaliknya Bu Asima yang tak sepintar Bu Maria, berhasil bertahan cukup lama, mampu mendorong kemajuan perusahaan tempatnya bekerja. 

Inilah contoh di mana pengalaman dan pengetahuan menjadi musuh terbesar dalam kesuksesan kita. Merasa pintar membuat kita memandang rendah orang lain, enggan belajar dan tak mendatangkan dukungan. 

Mereka yang merasa sudah pintar tak mau lagi membuka telinga, mata, dan pikiran untuk ide-ide baru, belajar hal-hal baru dan tumbuh bersama teamnya. Padahal industri sekarang berkembang sangat pesat. Apa yang baik kemarin belum tentu baik saat ini. Pengetahuan dan pengalaman kita bisa jadi sudah kadaluwarsa dalam menghadapi tantangan yang ada. Team yang lebih turun kelapangan mungkin lebih faham kondisi dan kebutuhan, tapi sikap sok tahu membuat mereka yang tahu malas memberi masukan dan berdiskusi.

Begitu kita merasa paling pintar sedunia, maka kemampuan kita menginspirasi pun akan melemah. Siapa yang suka pada orang yang sombong.

Orang yang merasa paling tahu juga gatal untuk terus menerus memberikan nasehat, mengatakan apa yang harus orang lakukan, dan bukan menggali kemampuan dan sumber daya yang ada.

Ilmu dan pengalaman yang membawa sombong menciptakan batasan.
Ilmu dan pengalaman saat itu menjauhkan kita dari cinta, dari bahagia, dari rahmatan lil alamin. Kita tak bisa menjadi pembawa berkahNya bagi semesta dengan sikap sombong dan merasa paling tahu.

Kejarlah ilmu seluas mungkin, bangun pengalaman sekaya mungkin. Tapi itu saja tidak cukup untuk sukses. Dibutuhkan hati yang mau merendah dan selalu belajar untuk selalu mendengar dan peka dengan apa yang tak terkatakan.

Kata Roosevelt, “People don’t care how much we know, until they know how much we care (orang tidak peduli seberapa banyak kita tahu, sampai mereka tahu betapa besar kita peduli).”

Bagaimanakah kita bisa lebih sukses dengan memenangkan hati, menurunkan ego, menjauhkan sombong, dan benar-benar memimpin, mengasuh, menjadi teman, sahabat yang penuh cinta tanpa kondisi?

Apa rasanya sukses yang penuh cinta?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: