Skip to content
Advertisements

1 Desember Hari Maria Walanda Maramis, teladan pejuang perempuan Minahasa

Di berbagai daerah sejarah mencatat banyak perempuan yang maju ke muka untuk melakukan perubahan. Mereka membangun teladan dengan semangat dan kerja kerasnya untuk kebaikan masyarakat daerahnya. Beberapa dari mereka bahkan terus dikenang sepanjang masa. Salah satunya adalah Maria Walanda Maramis dari Minahasa.

Setiap tanggal 1 Desember masyrakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis. Bagi masyarakat Minahasa beliau adalah tokoh pejuang kemajuan perempuan Minahasa di dunia politik dan pendidikan.

Maria lahir sebagai putri bungsu Maramis dan Sarah Rotinsulu di Kema, Minahasa Utara. Maria menjadi yatim piatu di usia enam tahun saat kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal dalam waktu yang singkat. Oleh pamannya, ia dan kakak perempuannya disekolahkan di Sekolah Melayu di Maumbi. Mereka tak banyak menerima pendidikan selain ilmu baca tulis. Perempuan dianggap tak membutuhkan belajar karena akhirnya hanya akan mengasuh anak dan keluarga. Maria beruntung pamannya sangat sadar pendidikan. Perempuan lain belum tentu mendapatkan pendidikan dasar sekalipun.

Setelah dewasa Maria pindah ke Manado di mana ia banyak menulis di surat kabar Tjahaja Siang. Menurut Maria seorang ibu memiliki peranan sentral dalam keluarga, dan karenanya seorang ibu wajib mendapat pendidikan yang baik. Ibulah pendidik pertama setiap anak yang lahir, setiap calon pemimpin bangsa. Pendapat inilah yang terus disuarakannya dalam tulisan-tulisannya.

Maria dan teman-temannya mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada tanggal 8 Juli 1917 untuk memberikan pendidikan dasar pada perempuan. PIKAT tumbuh di berbagai daerah di Minahasa, bahkan sampai ke pulau Jawa. Di pulau Jawa PIKAT ada di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. PIKAT menjadi tempat Maria menumpahkan dedikasi, cinta dan kerja kerasnya bagi perempuan Minahasa dan nusantara. Ia terus menulis dan mendidik melalui PIKAT sampai akhir hayatnya.

Saat Minahasa Raad didirikan di Minahasa tahun 1919 sebagai badan perwakilan rakyat, anggotanya hanya terdiri dari laki-laki. Maria maju ke depan dan memperjuangkan posisi peremuan dalam Minahasa Raad. Pada tahun 1921 usahanya membuahkan hasil. Batavia memperbolehkan perempuan menjadi bagian dari Minahasa Raad.

Maria menikah dengan Joseph Frederick Caselung Walanda, seorang guru bahasa pada tahun 1890. Mereka dikaruniai dua anak yang dikirim ke sekolah guru di Batavia. Selepas sekolah, salah satu anaknya, Anna Matuli Walanda, kemudian tertarik untuk turut membantu ibunya di PIKAT sebagai guru.


Perangko Maria Walanda Maramis keluaran tahun 1999

Maria meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun. Beliau mendapat gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Mei 1969. Patung Ibu Maria Walanda Maramis didirikan di Manado untuk mengingatkan masyarakat Manado bahwa pernah ada seorang perempuan, seorang ibu yang sangat hebat, berjuang dan berdedikasi penuh untuk kemajuan perempuan dan kemajuan Minahasa.

Belajar dari Ibu Maria Walanda Maramis kita pun disadarkan bahwa kemuliaan, kehebatan, tidak harus lahir dari kondisi yang hebat pula. Ibu Maria adalah anak yatim piatu dari desa kecil. Ia pun dididik untuk ikut tradisi. Semangatnya, kecintaannya pada kaum perempuan, dan keteguhannya untuk berjuang mungkin aneh sekali bagi perempuan saat itu. Saat ini banyak perempuan yang maju ke muka. Tapi saat itu? Mungkin ia dianggap perempuan aneh dari planet lain yang lancang dan tak tahu diri. Tapi ia tetap maju. Ia tak putus harapan bertahun-tahun berjuang untuk perempuan agar perempuan mendapat tempat di politik. Hanya dengan adanya perempuan di badan wakil rakyat, suara dan kepentingan perempuan dapat terwakili dan diperjuangkan.

Inilah kehebatan Maria yang perlu menjadi contoh bagi kita semua. Dengan keteladanannya kita bisa menjadikannya mentor hidup dalam membangun nilai-nilai perjuangan untuk kemajuan perempuan, menghilangkan kebodohan, nilai-nilai pantang menyerah, dan kecintaan pada pendidikan. Jangan takut dianggap aneh, tak tahu diri atau lancang. Selama kita yakin yang kita perjuangkan ada dalam jalanNya, dan penting untuk masyarakat, majulah terus seperti Ibu Maria.

Semoga dengan mengenal perempuan hebat ini lebih dalam kita dapat menjadi pendidik dan pejuang yang lebih baik dalam rumah tangga, keluarga, dan masyarakat. Dan semoga semua usaha kita, perjuangan kita, mendapat ridloNya. Aamiin.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: