Justru saat kita tak punya kita harus berbagi

 

Saat orang diajak berbagi, atau diajak tak menawar belanjaan dengan tujuan berbagi, banyak yang merasa tak punya cukup uang, atau kekurangan, sempit sehingga menolak mentah-mentah ajakan itu. Padahal Allah menyuruh kita berbagi dalam kelapangan dan kesempitan. Justru pada saat kita sempit kita perlu berbagi. Mungkin perasaan kesempitan itu muncul karena kita kurang berbagi, karena itu pula pesan Allah. Saat kita tak mau berbagi maka kita akan selalu merasa kekurangan.

Kita simak cerita di bawah ini yuk..

Suatu malam ada seorang laki-laki melangkah gontai memasuki sebuah restoran. Ia bingung, karena uangnya habis. Ia baru saja memulai bisnis dan bisnisnya gagal, dan ia merasa hancur. Di dalam restoran ia termangu, bingung, uangnya belum tentu cukup untuk makan beberapa hari itu.

Di tengah kebingungannya ia melihat seorang anak laki-laki masuk menuntun seorang ibu, dan membukakan pintu baginya. Anak ini melayani ibu tersebut dengan sangat baik, sangat perhatian, dengan penuh cinta. Laki-laki tersentuh melihat betapa perhatiannya anak ini.

Ia menghampiri anak ini, dan berkata, “Halo, nak. Kamu benar-benar menyentuh hatiku. Apa yang kamu lakukan benar-benar cool.

Anak ini menjawab, “Oh, itu ibuku.”

“Wah, benar-benar lebih cool, seorang anak seusia kamu memperlakukan ibunya seperti itu. Kamu harus traktir ibu kamu makan siang”, jawab laki-laki itu.

“Saya kan baru 9 tahun, saya tidak bekerja, tidak punya uang,” kata anak tersebut.

Laki-laki itu mengambil uang dalam kantongnya, dan berkata, “Sekarang kamu punya uang.”

“Aku tidak bisa terima ini, ini bukan uangku,” kata anak ini.

“Pasti bisa,” jawab laki-laki itu sambil pergi meninggalkan anak itu dalam kegembiraan.

Laki-laki itu pulang ke apartment dalam kondisi tak punya uang sama sekali. Ia tak punya uang bahkan untuk makan keesokan harinya. Tapi ia tak takut. Ia benar-benar gembira membayangkan anak laki-laki itu mentraktir ibunya. Tak ada sesal sama sekali. Baginya pengalaman itu sungguh sangat powerful. Ia merasa terbebas dari rasa kekurangan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia benar-benar merasa berkelebihan, tanpa harus punya uang.

Keesokan harinya, saat ia masih berfikir, apa yang harus dilakukannya untuk bisa dapat uang, tiba-tiba seseorang yang berhutang padanya menghubunginya, mengirimkan cek sebesar $1,200 yang dipinjamnya dan lebih besar lagi, karena ia menyesal akan keterlambatannya mengembalikan uang itu.

Laki-laki itu terhenyak, dan menangis. Uang yang diterimanya jauh melebihi kebutuhannya saat itu. Dan ia pun merenung. Rupanya saat kita bisa terbebas dari rasa keterbatasan, rasa tidak punya, dan membangun rasa berkecukupan, kita akan benar-benar diberkahi dengan kecukupan, batinnya dalam hati.

Laki-laki ini adalah Tony Robbins. Kini ia memberi makan bagi 150 juta orang per tahun dan merencanakan untuk memberi makan bagi 500 juta orang di masa mendatang. Ia menjadi mentor bagi milyarder-milyarder kelas dunia, bahkan juga presiden Amerika. Ia belajar dari klien-kliennya dan banyak milyarder lain. Ilmunya dibagikan pada publik melalui berbagai seminar, tulisan, buku dan video.

Tony berkata, “Justru di saat tidak ada uang sama sekali kita harus memberi. Fikirkan bagaimana kita memberi, dan bebaskan diri dari perasaan kekurangan dan keterbatasan. Maka hidup akan langsung menjadikan kita manusia yang berkecukupan.” Mungkin kita merasa sempit dan miskin justru karena kita kurang berbagi. Justru perasaan kekurangan kita itulah yang membuat kita kurang dan sempit.

Seberapa besar keyakinan kita bahwa Allah memenuhi janjiNya untuk selalu mencukupi hambaNya?

Seberapa besar keyakinan kita bahwa Allah sayang pada hambaNya yang penuh sayang pada sesama?

Jadi, dalam skala 1-10, di mana 1 merasa sangat terbatas dan tak punya, serta 10 merasa berkecukupan, kita ada di angka berapa? Apa yang harus dilakukan untuk bisa ada di angka 10, dan merasa benar-benar berkecukupan?

Kenapa hal itu penting?

Kisah ini pertama kali kutulis di Living is Giving, blog kompasianaku: http://www.kompasiana.com/indiraabidin/living-is-giving_583e9b49347b614208870445 http://www.kompasiana.com/indiraabidin/living-is-giving_583e9b49347b614208870445

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s