Hilangkan kebiasaan menawar dan sedekah dengan tidak mengambil kembalian yuk


Wah… buat perempuan susah sekali menghilangkan kebiasaan menawar dan tidak ambil kembalian ya. Kehebatan menawar sering kali menjadi keahlian yang sangat dibanggakan oleh perempuan. Sampai suatu hari saya disadarkan untuk menghilangkan sifat “tega” dalam menawar, yang saya share di sini: “Jangan sadis kalau tawar menawar, ingat keluarganya perlu hidup layak.”

Dalam program “Unleash Your Potential” bersama Hanara di Bali November 2016, dr. Hanson membawa kami ke pasar. Kami diajak belanja dengan syarat tidak boleh menawar. Malah kalau bisa kembaliannya tidak usah diambil. Dikasih saja. Kami pun harus bisa membahagiakannya dengan hal itu agar kebaikan ini tidak menyakiti hatinya dan tidak ditolak. Seandainya pun ditolak kami harus ikhlas. Itulah saat introspeksi diri, mungkin cara memberi belum baik, mungkin ada rasa sombong yang tertangkap penjualnya sehingga mereka tak ingin menerima kebaikan tersebut.

Kami semua bingung… ibu-ibu biasa menawar sampai habis kan? Tapi ya kami harus jalankan. Namanya juga tugas. Ada yang mencari penjual souvenir di pinggir jalan Kuta, ada yang sampai masuk ke pasar basah.

Setelah kami pulang belanja, kami semua berbagi pengalaman dan di videokan. Ternyata pengalaman teman-teman sangat bagus-bagus dan mengharukan.

Ada yang ke pasar belanja wortel, dan penjualnya gembira sekali sambil berkata, “Terima kasih. Ini uang nasi saya hari ini.”

Ada yang sambil berkaca-kaca berkata, “Baik-baik sekali sih ibu-ibu ini. Saya juga merasa jadi harus lebih baik lagi, tidak boleh mainkan harga.” Ternyata kebaikan melahirkan inspirasi kebaikan.

Dan saat salah satu sahabat yang orang Bali melebihkan pembayaran si penjual tak terima. Mungkin kalau ke sesama orang Bali mereka merasa harus berbuat baik juga. Sudah bagus tidak ditawar. Jangan sampai kembalian pun tak diterima, mungkin pikirnya.

Kami semua dites dengan tes kinesiologi, dan ternyata kegiatan berbagi yang simpel itu menguatkan kami semua. Dan bukan hanya kami tapi juga penjual yang bahagia dan mengungkapkan kebahagian itu, berterima kasih pada ibu-ibu baik hati ini.

Aku pun dicek. Yang pertama proses transaksiku dilihat banyak orang. Ternyata itu melemahkanku. Yang kedua tidak ada yang melihat. Ternyata yang kedua ini menguatkanku.

Bahkan dokter bilang, keluhan-keluhan sakitku bisa hilang kalau aku rutin lakukan ini, karena kebaikan ini menyembuhkanku.

Menarik ya.
Kalau dipikir, berapalah uang yang kita berikan dengan tidak menawar dan tidak ambil uang kembalian. Tapi pengaruh nya terhadap kebahagiaan kita dan kebahagiaan mereka itu priceless, tak dapat dihitung dengan uang.

Yuk, kita mulai rutinkan yuk. 

  • Jangan menawar
  • Jangan ambil kembalian
  • Syukuri posisi kita sebagai pembeli dengan segala kesejahteraan yang telah Allah berikan sehingga kita mampu membeli di hari itu
  • Doakan mereka
  • Ikhlas kalau sampai respon mereka tak sesuai harapan, karena kita berbuat kebaikan bukan untuk mendapat respon atau ucapan apa-apa kan?
  • Evaluasi terus cara kita memberi, buang jauh-jauh rasa sombong

Kira-kira apa hal terkecil yang bisa kita lakukan hari ini untuk mulai membangun kebiasaan ini?

Bagaimana kita dapat melakukan nya dengan lebih baik setiap hari?

Semoga berkah ya. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s