Kekuatan memberi yang menyembuhkan

IMG_3529

Sahabat-sahabat blog,

Salah satu langkah sembuh yang kami jalani di Hanara adalah unconditional love, mencintai tanpa kondisi. Ternyata banyak penelitian  membuktikan bahwa memberi dengan dasar cinta tanpa pamrih itu menyembuhkan.

Michael Norton dan rekan-rekan penelitinya di Harvard Business School menemukan bahwa memberikan uang kepada orang lain lebih membahagiakan daripada menggunakan uang tersebut untuk keperluannya sendiri.

Sonja Lyubomirsky, seorang “Pakar Kebahagiaan” dan seorang professor psikologi di University of California, Riverside, menemukan hal yang sama saat responden pada risetnya melakukan lima kegiatan berbagi setiap minggu selama enam minggu.

Jorge Moll dan rekan-rekannya di National Institutes of Health menemukan bahwa saat orang melakukan sedekah, bagian otak yang berhubungan dengan perasaan senang, hubungan sosial, rasa percaya akan mengeluarkan efek hangat menyala. Hal itu juga mengeluarkan endorfin, sehingga muncul perasaan positif yang dikenal sebagai helper’s high atau “kebahagiaan berbagi.”

Dalam bukunya  Why Good Things Happen to Good People, (Mengapa Hal-Hal Baik Terjadi Pada Orang Baik) Stephen Post, seorang profesor pada ilmu preventive medicine (kesehatan pencegahan) di Stony Brook University, menyebutkan bahwa berbagi sangat membantu menyembuhkan sakit-sakit kronis seperti HIV dan Multiple Sclerosis.

Tahun  1999 Doug Oman dari University of California, Berkeley,menemukan bahwa orang-orang tua yang melakukan kegiatan sosial di dua atau lebih organisasi, lebih mampu bertahan hidup daripada orang-orang tua yang tidak melakukan kegiatan sosial.

Stephanie Brown dari University of Michigan melihat hal yang sama pada penelitian sejenis di tahun 2003. Stephanie menemukan bahwa orang-orang tua yang senang membantu teman, saudara, tetangga, atau selalu memberikan dukungan emosional pada pasangannya, menikmati umur yang lebih panjang. Dan hanya menerima bantuan tersebut, tidak terkait dengan umur yang lebih panjang.

Dr. Allan Kuts mengadakan penelitian yang melibatkan 3.000 sukarelawan. Ia menemukan bahwa memberi dan menolong orang lain mengurangi rasa sakit, meengurangi stress, meningkatkan endorfin (hormon positif) dan menyehatkan secara umum.

Prof. David Mc Clelland juga mengatakan bahwa melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain memperkuat sistem imun atau kekebalan tubuh, sebaliknya orang kikir cenderung terserang banyak penyakit.

Seseorang yang merasa terbatas, tak berkecukupan dan takut miskin selalu stress. Tubuhnya akan memproduksi hormon kortisol yang mengurangi kekebalan tubuh. Demikian juga orang yang memberi tanpa dasar keikhlasan. Saat orang yang diberi tak merespon sesuai harapan ia kecewa dan hal itu tidak menyehatkan.

Dari berbagai penelitian ini, ditemukan bahwa kebiasaan memberi bermanfaat bagi kesehatan karena:

  • Menurunkan tekanan darah
  • Meningkatkan rasa percaya diri
  • Menurukan depresi
  • Menekan tingkat stress

Yuk, apa hal terkecil yang bisa kita lakukan hari ini untuk berbagi, membantu mereka yang membutuhkan, tanpa pamrih, tanpa meminta balasan, tanpa berharap ucapan terima kasih?

Bagaimana agar kita bisa menjadikannya kebiasaan, setiap hari lebih baik dari hari sebelumnya?
“..dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” Al Muddatstsir 6.

Sumber:
Wanna Give? This Is Your Brain on a ‘Helper’s High’
5 Ways Giving Is Good for You
Artikel kiriman Subhany Prayitno di grup Kelas Terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s