Setiap Pengalaman Adalah Guru Yang Hebat. Mampukah kita menjadi pembelajar ikhlas penuh syukur?


Seorang perempuan menikah dengan pujaan hatinya. Sayang sekali, setelah menikah suaminya berubah menjadi pria kejam. Ia gemar memukuli istrinya. Tak berhenti di situ ia pun mengancam nyawa anak mereka satu-satunya.

Si istri merasa putus asa. Ia pun bercerai untuk menyelamatkan nyawanya dan nyawa anak satu-satunya.

Dalam proses itu ia pun belajar. Otaknya, yang gemar melindungi tuannya, berkata bahwa laki-laki adalah makhluk pembawa maut. Bukan hanya itu, tapi otaknya juga mencerna bahwa ia menderita karena ia percaya pada seseorang. Maka ia pun berkata bahwa ia tak akan pernah lagi mempercayai seseorang.

Maka dalam kesendiriannya perempuan itu tak mau lagi percaya pada siapapun, apalagi laki-laki, yang dianggapnya pembawa maut. Ia pun menjadi sangat kesepian dan depressi.

Untunglah ia bertemu sebuah tempat di mana ia belajar untuk ikhlas dan bersyukur menerima semua pelajaran dariNya. Akhirnya ia mampu melihat dunia di luar dirinya, berbagi tanpa kondisi, dan kembali mempercayai orang lain.

Pengalaman memang adalah guru, di mana kita harus banyak belajar darinya. Kita harus bisa menjadi pembelajar yang bijaksana dan memilih apa yang perlu kita pelajari dan dari sisi mana kita harus belajar.

Otak sangat cerdas, dan ia punya tugas penting, untuk melindungi tuannya. Maka ia belajar dengan menyamaratakan banyak hal. Semua dianggapnya sama, agar tuannya terlindung dari berbagai kekecewaan, sakit hati dan lain-lain.

Itulah sebabnya banyak orang takut maju, karena otak mereka menasehati untuk tidak mencoba.
“Nanti sakit, lho.”
“Kalau ditolak orang bagaimana?”
“Kalau gagal ketahuan orang banyak, gimana?”
“Pasti gagal. Sudahlah. Yang aman-aman saja.”
“Perubahan? Aku tak suka. Aku tak punya kendali.”

Jadi, memang penting untuk mengimani bahwa kita selalu ada dalam lindunganNya, dan apapun yang diberikanNya adalah hadiah. Ikhlas saja. Kenapa harus takut?

Penting untuk yakin bahwa yang memberikan ujian adalah Sang Maha Kasih, Maha Guru yang Maha Penyayang. Ia tak mungkin menjerumuskan kita, kalau kita berpegang pada taliNya.

Penting untuk melihat hidup hanya sebagai tempat cari bekal untuk hidup yang abadi nanti. Dan semua kejadian adalah guru untuk menguji ikhlas, syukur, dan kemampuan berbuat baik penuh kasih pada siapapun, termasuk yang menyakiti dan mendzalimi.

Kalau si otak menolak untuk menghadapi ujian berikutnya, ingatkan ia, “Aku akan baik-baik saja, karena ada Allah di sisiku. Aku harus maju sekarang.”

Penting untuk belajar dengan bijaksana, untuk mencintai semua ujianNya. Untuk mensyukuri semua orang yang dihadirkan dalam hidup kita, yang membuat kita jatuh cinta atau marah dendam. Untuk tahu bahwa cinta dan dendam semua akan berlalu. Yang tinggal adalah pelajaran untuk naik kelas. Untuk faham bahwa semua ujian menguatkan dan membawa kita ke kelas yang lebih tinggi, sehingga kita tak perlu takut menghadapi ujian yang lebih susah atau menghadapi manusia lain.

Penting untuk selalu berkata, “Alhamdulillah, terima kasih atas semua pengalaman yang kau jadikan guru bagiku. DenganMu di sisiku, mudahkanlah aku untuk menghadapi semua pelajaran dan ujianMu.”

Maka semua pengalaman akan menjadi guru terbaik untuk mempersiapkan kita masuk ke dalam surgaNya, yang hanya layak dihuni hanya oleh mereka yang lulus dari ujian-ujianNya di dunia. Setiap sabar, ikhlas dan syukurmu menjalani ujianNya akan menjadi batu istana di surga, dengan izinNya.

Jadi, sampai di mana pelajaranmu?
Sudah sejauh mana pelajaran-pelajaranmu memberimu batu-batu istanamu di surga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s