Jangan hanya sibuk berobat, atasi sakit dari akarnya, di tubuh, pikiran dan jiwa, berserahlah hanya padaNya.

 

Kembali ke blog post kemarin, mengenai rebusan mie yang airnya meluap ke luar panci. Saat air mendidih dan air luber, apakah kita harusnya sibuk lap airnya saja, atau matikan api kompornya? Matikan api kompornya, bukan?

Siapapun yang sibuk lap-lap air yang sudah mendidih keluar panci akan buru-buru kita nasehati, “Matikan apinya, ayo, matikan apinya. Itu sudah luber,” mungkin agak keras, sambil agak berteriak. Dan ibu-ibu akan membatin, “Aduh, gimana sih, kok begitu saja nggak ngerti.”

Lucunya, orang yang sama, belum tentu melakukan hal yang sama terhadap badannya sendiri. Apabila badan sudah menjerit dengan berbagai jeritannya, dalam berbagai bentuk sakit, kita hanya mengatasi gejalanya. Begitu gejalanya hilang, atau air yang mendidih tidak lagi keluar panci, kita tenang. Padahal api belum mati.

Sumber segala penyakit, dan sumber segala kesembuhan adalah Allah. Semua penyakit adalah pesan cinta Allah untuk kembali ke fitrah, ke kondisi Ia ciptakan kita, kepada kedekatan antara kita denganNya yang Allah inginkan. Hanya kepadaNya lah kita harus kembali dalam kondisi sakit. Dokter, tabib, teman, ahli apapun, hanyalah tanganNya yang membantu kita mengatasi sakit kita. Tapi kita seringkali sibuk hanya bertanya ke dokter, lupa untuk mencari petunjuk dari Yang Maha Penyembuh. Dokter bilang kita sembuh, kita puas. Lupa untuk tanya ke Allah, apakah di mata Allah masih ada lagi yang harus kita lakukan?

Penyakit apapun, adalah cara tubuh mengatakan kepada kita, ada yang salah dalam tubuh, ada yang tidak sesuai fitrahnya ia diciptakan. Mungkin pola hidup kita salah, mungkin pola makan kita terlalu banyak pengawet, mungkin kita kurang istirahat, mungkin kita terlalu berat bekerja, kurang memasukkan nutrisi, mungkin kita terlalu banyak khawatir, galau, resah sehingga hormon stress terlalu banyak keluar dan imunitas kita lemah, dan lain-lain.

Pada dasarnya hampir seluruh penyakit saat ini disebabkan oleh kurang baiknya gaya hidup dan stress. Kanker, sakit jantung, stroke, dan berbagai penyakit lain semua tidak muncul tiba-tiba. Prosesnya sudah lama sekali, dan mungkin sudah diberi sinyal oleh tubuh jauh-jauh hari, tapi tidak kita hiraukan. Ibarat air sudah luber dan kita sibuk mengatasi air yang luber saja. Kita tetap menjalani gaya hidup, pola makan, pola pikir yang sama. Ibarat api tidak kita matikan.

Dan kalaupun kita atasi, kita pun fokus hanya berobat, tidak mencari akar sesungguhnya di tubuh, di pikiran dan jiwa kita. Yang kanker hanya sibuk kemo, radiasi dan operasi. Tidak mau berfikir lebih jauh, apa yang dulu mendatangkan kanker ke dalam hidup kita? Pola hidup, pola makan, pola pikir terus saja dijalani seperti sebelumnya. Api pun tidak dimatikan.

Jadi, matikan apinya, larilah langsung kepada Allah. Terimalah semua ketentuanNya, ikhlas dan nikmati semua suguhanNya, syukuri semuanya, maka jiwa kita akan tenang, bahagia, jauh dari galau. Mintalah petunjukNya, apa jalan terbaik yang telah ditetapkanNya sebagai jalan kesembuhan. Dalam kondisi tenang petunjukNya akan lebih jelas terbaca. Jalani dengan penuh syukur. Jangan perbesar api dengan membesarkan rasa galau, khawatir atau resah. Selalu sucikan diri, istighfar setiap saat, teruslah mendekat padaNya.

Matikan apinya, evaluasi gaya hidup, pola makan, pola pikir, dan tingkat stress kita. Atasi semua satu persatu sebagai bentuk kasih sayang kita pada tubuh, pikiran dan jiwa kita. Bangun energi dalam tubuh kita agar kita menjadi manusia yang sehat, sejahtera, lahir batin. Bangun gaya hidup yang baik, pola pikir positif, ikhlas, dan bahagia. Cintai dan sayangi seluruh sel dalam tubuh kita, pikiran dan jiwa kita. Banyaklah berbagi tanpa tulus ikhlas (unconditional love) agar hormon-hormon bahagia mensejahterakan tubuh, pikiran dan jiwa kita. Dan apapun hasilnya, ikhlas.

Yuk kita matikan api, yuk. Jangan sibuk dengan luberan airnya saja. Serahkan semua hanya padaNya, minta petunjukNya, dan ambil tanggung jawab terhadap kondisi diri kita sendiri. Bantulah keluarga, teman dan semua orang agar mereka tidak stress dengan kondisi kita, karena stress mereka bisa menambah stress kita. Syukuri semuanya, dan berbagilah dengan penuh cinta. Ikhlas, syukur dan cinta membantu kita untuk kembali ke fitrah, dan sembuh dari dalam, dari akar.

Nah jadi pertanyaannya hari ini, bagaimanakah kita bisa lebih mendekat lagi kepadaNya untuk meminta petunjukNya mengenai apapun masalah yang sedang kita hadapi saat ini?

Dan bagaimanakah kita bisa mengembalikan kondisi tubuh kita kepada fitrahnya, lebih baik lagi dari sebelumnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s