Jadilah wadah seluas telaga, yang mampu menjadikan semua garam masalah sebagai manfaat bagi semesta

img_9556

Pada suatu hari, ada seorang anak muda yang dirundung duka dan galau luar biasa. Ia hampir berencana bunuh diri karena dirasa tidak sanggup lagi hidup di dunia, menanggung berbagai permasalahan hidup. Ia mendatangi seorang tua bijaksana yang terkenal di daerahnya.

Anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab si anak muda, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”

“Segar,” sahut si anak muda.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak,” jawab si anak muda.

“Seperti itu jugalah hidup. Kalau masalah hanya dihadapi dengan wadah hati dan jiwa sebesar mangkuk, maka masalah akan terasa sangat pahit. Dan kalau masalah dihadapi dengan hati dan jiwa sebesar telaga, masalah tak akan terasa pahit, karena air yang menetralisirnya jauh lebih banyak. Dan ketahuilah, Allah memberi garam dengan melihat wadah. Allah tidak pernah memberi masalah lebih dari batas kemampuannya. Jadi pahit atau tidak tergantung bagaimana kita melihat wadah kita. Sebesar mangkuk atau seluas telaga? Semua di tanganmu,” tegas Pak Tua dengan lemah lembut.

“Sang Pencipta tahu kau mampu. Dan garam itu diberikan bukan tanpa maksud. Ada hikmah kebaikan di baliknya, karena diberikan oleh Sang Maha Pengasih Penyayang. Kalau garam ini bisa kita lihat sebagai manfaat, maka rasa pahit penting lagi,” sambungnya.

Nah, sahabat, bagaimana dengan kita?

Semua masalah, uijan, bencana, adalah garam cinta Allah. Bersyukurkah kita menerimanya? Rasa syukur kita bisa memperbesar wadah hati, tubuh dan jiwa kita, agar kita bisa menerima garam cinta dengan lapang dan menikmati manfaatnya.

Derajat kita, tempat kita di surga nanti, besarnya istana abadi kita nanti, tergantung besarnya telaga yang mampu kita bangun berkat banyaknya garam Allah tersebut. Jadi, sudah seberapa luas telaga kita? Sudah seberapa banyak garam yang menjadi batu istana di surga?

Apa rasanya di tubuh, di pikiran dan di hati, saat menyadari bahwa semua masalah sesungguhnya adalah garam cinta yang penuh manfaat dariNya?

Terasakah bahwa seluruh tubuh, pikiran dan hati mulai menjadi lapang? Lapangkanlah terus dengan ikhlas dan syukurmu. Maka ia akan terus membesar menjadi sebesar telaga. Semoga Allah pun ridlo memperbesar istana kita di surga melalui setiap garam cinta yang dikirimNya. Aamiin.

🍓🍉🍋

Diadapsi dari tulisan kiriman Rivany W, Kelas Terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s