Skip to content
Advertisements

Jalan yang sulit menuju surga bisa menjadi nikmat, semua tergantung kaca mata kita

img_2170

Sebuah keluarga sedang pergi hiking. Sepanjang jalan si kakak, yang baru kali ini pergi hiking, mengeluh terus.
“Aku tidak suka jalannya tidak bagus.”
“Huuh.. ini ada beluut ya.. jijik.”
“Aduh lumpur di mana-mana. Sepatuku kotor.”
“Tanganku gatal, nyamuk besar-besar banget, sih.”

Adiknya, anehnya, tidak ikut mengeluh. Ia tak memperhatikan apa yang menjadi keluhan kakanya. Ia sibuk menikmati semua keindahan alam yang baru pertama kali ditemuinya.
“Owww… bagus sekali kepik ini. Baru sekali aku lihat ada kepik sebagus ini.”
“Kupu-kupunya indah banget sayapnya.”
“Oh, ini dia yang namanya belalang sembah.”

Keduanya terus berjalan. Ayah Bundanya terus mendorong semua agar tak lama berhenti agar dapat cepart sampai di puncak.

Begitu di puncak, pemandangan begitu indah. Si kakak terpesona. Ia tak lagi mengeluh. Ia hanya terdiam memandangi pemandangan yang begitu indah sambil menikmati minuman hangat yang disiapkan ibunya.

Si adik cerewet berkomentar mengenai indahnya matahari, awan dan berbagai hal yang begitu menakjubkan baginya.

Ayahnya pun bertanya pada Kakak, “Menyesal pergi hiking?”
“Nggak, ayah. Indah banget di atas sini ya,” kata kakaknya.
“Nah, jadi lain kali, sabar saja. Kalau sabar semua juga akan jadi baik. Surga itu susah lho jalannya. Nggak gampang masuk surga. Tapi kita semua tahu surga indahnya luar biasa. Kita tinggal bukan hanya di rumah tapi di istana. Mau nggak?” tanya ayahnya.
“Mau, Ayah,” jawab Si Kakak termangu-mangu.

Ayahnya mengangguk-angguk, sambil memperhatikan kedua anaknya. Si adik tak lagi butuh omongan apapun. Ia terus berceloteh mengagumi keindahan alam. Seperti apapun respon mereka, Ayah tetap lega tak ada yang berhenti. Karena tak semua anak bisa bertahan terus berjalan untuk bisa menikmati pemandangan di atas puncak.

Nah, sama juga dengan surga kita.
Kita bisa menggapai surga sambil terus mengeluh, merasakan semua penderitaan yang ada, karena memang surga banyak sekali ujian dan tantangannya. Surga sungguh bukan jalan yang mudah. Berat sekali, penuh duri dan lobang.
Dan kita bisa juga menggapai surga dengan penuh syukur, menikmati semua keindahan dari berbagai tantangan yang ada. Karena semak belukar yang dikeluhkan oleh yang satu, juga memiliki bunga yang indah yang menjadi kekaguman yang lain.

Seberapa besar kita ingin hidup penuh nikmat?
Seberapa penting kita hidup dengan penuh senyum?
Seberapa indah hidup kita bila kita fokus pada sisi indah dari semua ujian?

Ujian yang mana lagi yang masih perlu kita lihat dari sisi berbeda? Bagaimanaka kita bisa mulai menikmati semua ujian yang ada?

Tapi apapun itu, selama kita mendapat ridloNya untuk terus berada dalam jalanNya, kita akan sampai pada surgaNya. Kita akan selamat. Jadi, apapun pilihan kita, jalan yang indah karena bisa mensyukuri ujian, atau jalan yang sulit karena terus mengeluh, yang penting.. jalan terus mengejar ridloNya. Hampiri Allah, berlarilah mendekat padaNya, maka Allah pun akan sambut kita dengan penuh cinta kasihNya.

Yuk, kita berdoa terus agar kita bisa mendapat ridloNya berjalan dalam jalanNya sampai akhir ya. Aamiin.

Advertisements

2 Comments »

  1. Setuju mbak, sebagaimana juga Allah sering menyebut berulang-ulang kepada manusia dalam surat Ar-Rahman, Fabiayyi ala irobbikuma tukazziban. Semoga kita termasuk selalu dalam golongan orang-orang yang bersyukur, beriman dan berpegang teguh pada jalan Allah. Taqabbalallah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: