Ada masalah? Kira-kira apa maksud Sang Maha Kasih memberikannya padamu?

IMG_2389-0

Seorang penerima kurikulum (pasien) GERD malam-malam kirim pesan WA padaku. “Mbak, aku takut kalau aku kambuh GERD nya dan saat itu tidak ada orang di rumah, bagaimana? Aku takut, Mbak. Aduh, makin takut makin sakit.” 

Ya pastinyalah, batinku.

“Mbak, kira-kira kalau Allah Yang Maha Pengasih Penyayang memberikan kesempatan pada Mbak mengalami hal itu, apa maksud Allah?” tanyaku.

Ia terdiam dan lama tak menjawab. Aku pun melanjutkan aktivitasku. Sebelum beristirahat, aku menerima jawaban darinya. “Iya, benar, Mbak. Allah sayang padaku dan akan selalu jaga aku. Terima kasih ya. Pertanyaan seperti ini yang aku butuhkan, Mbak. Sekarang aku jadi lebih kuat,” ketiknya.

Alhamdulillah, batinku lagi. Mungkin GERD beliau muncul karena banyak sekali ketakutan dalam pikirannya yang menekan lambungnya. Setelah malam itu ia tak pernah lagi menghubungiku, padahal sebelumnya setiap hari bisa beberapa kali ia menyampaikan keluhannya. Alhamdulillah.

Seorang anggota Lavender Ribbon Cancer Support Group suatu hari menyatakan ketakutannya yang menghantuinya.

“Aku takut kalau kanker makin parah, aku akan kesakitan. Aku nggak mau sakit, Mbak. Aku takut,” keluhnya setegah menangis.

Kuajukan pertanyaan yang sama, “Kira-kira kalau Sang Maha Pengasih Penyayang memberikan hal itu, apa maksudNya yang penuh kasih itu?”

“Iya ya Mbak. Aku lupa ada Tuhan yang selalu menyayangiku. Terima kasih banyak ya Mbak. Aku nggak setakut tadi lagi. Terus bantu aku ya, Mbak,” jawabnya.

“Insya Allah aku akan selalu bantu apapun yang aku bisa,” jawabku menentramkan hatinya.

Ada teman lain dalam group lainnya yang suatu hari menjerit, “Ibuku selalu meledak-ledak padaku. Aku capek. Dia selalu sibuk dengan urusannya dan aku tidak diperhatikannya,” jeritnya.

Sekali lagi aku bertanya dalam group, “Kira-kira kalau Allah Yang Maha Pengasih Penyayang memberikan ibu yang seperti itu, apa maksudNya?”

Ia tak menjawab. Tapi ada yang kemudian menyatakan terima kasih padaku di luar group. “Aduh, jawaban tetah membuatku banyak berfikir dan merenung. Iya ya, kan Allah sayang sama kita. Kenapa aku harus pikir macam-macam? Santai saja, ada Allah yang selalu jaga aku kok,” katanya.

“Benar, cukup kok ada Allah yang sayang sama kita lebih dari segalanya. Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal mawla wa nikmal wakil, la hawla walla quwatta illa billah (cukup Allah lah penolong kita, tiada pertolongan selain pertolongan Allah),” jawabku.

Teman yang tadi bertanya di group pun, meskipun tidak menjawab saat itu juga, kemudian mulai sering memunculkan kalimat-kalimat syukur dan tak lagi mengeluhkan ibunya. Yaah.. mudah-mudahan hatinya kena juga. Hehe. Yang mengubah hati hanya Allah. Aku hanya berusaha menjadi penaNya, mulutNya untuk menyampaikan pesanNya, untuk mengingatkan keberadaanNya dan cintaNya. Hasilnya bukan wilayahku. Itu murni urusan Allah. Jadi aku happy saja. Lagipula anggota Lavender yang mengeluh panjang pendek dan aku coba bantu banyak sekali. Kalau aku pusing saat apa yang aku usahakan tak berhasil, mana ada waktu bantu yang lain. Lebih baik evaluasi caraku daripada pusing memikirkan wilayah yang bukan kekuasaanku, bukan? Hehe..

Nah dari pengalamanku, pertanyaan ini adalah pertanyaan andalanku untuk membantu teman mengatasi berbagai jenis masalah, “Kira-kira kalau Sang Maha Pengasih Penyayang memberikan hal itu, apa maksudNya?” Berbagai keluhan seringkali bisa diatasi, ketakutan seringkali hilang, saat mereka diajak untuk ingat bahwa ada Allah yang mencintai mereka dan selalu melindungi mereka. Pertanyaan ini aku tanyakan dengan asumsi dasar bahwa teman-temanku adalah teman-teman yang percaya pada Allah swt, pada cinta Sang Pencipta. 

Rasa takut dimunculkan oleh otak kita yang selalu ingin melindungi kita, menjaga kita dari berbagai bahaya yang ada di depan, yang belum tentu kejadian juga. Seperti orang yang sangat protektif, dan selalu mengingatkan, “Hati-hati ini, hati-hati itu, kalau itu terjadi bagaimana? Jangan ini dan jangan itu. Nanti jatuh, nanti diculik orang, nanti kotor, nanti kena tanah.”

Kita sangat bersyukur ada yang selalu mengingatkan kita, di sisi lain kita juga perlu ingat bahwa kalau semua takut, semua jangan, kapan kita bisa maju? Biasanya yang kita lakukan kita menentramkan mereka dan bilang, “OK, aku hati-hati kok. Tenang saja..”

Itulah juga yang perlu kita katakana pada si otak. “Kan ada Allah yang selalu menjaga kita, mencintai kita dan hanya memberikan sesuai dengan kemampuan kita. Kalau Allah memberikan hal ini pada kita, pasti ada hikmah di baliknya. Tenang ya. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Dan biasanya kalau lulus ujian, ada hadiahnya lho. Allah Maha Baik.”

Jadi bagi kita sendiri, setiap kali ada rasa takut, rasa khawatir, katakanlah pada si otak, “Tenang saja, ada Allah kok. “Kira-kira kalau Sang Maha Pengasih Penyayang memberikan hal itu, apa maksudNya yang penuh kasih itu, ya? Asiiik.. Allah pasti mau kasih aku sesuatu. Apa ya sesuatu itu?”

Kalau ada teman yang ketakutan, khawatir, atau selalu mengeluh, tanya saja, “Kira-kira kalau Allah Yang Maha Pengasih Penyayang memberikan hal itu, apa maksudNya?”

Ajak mereka bersyukur, agar karuniaNya mengalir padanya. Hentikan keluhannya, karena keluhan itu yang membuat karuniaNya menjauh darinya, dan tubuhnya melemah.

Semoga Allah ridlo dan menjadikan pertanyaan sederhana ini sebagai jalan menuju surgaNya ya. Aamiin.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s