Masalah tidak akan habis sampai akhir zaman. Derajat kita ditentukan sikap kita menghadapi masalah.

img_2505

Kemarin ada yang berkeluh kesah padaku. “Masalahku banyak sekali, Mbak. Gimana ya. Saya nggak semangat lagi hidup.”

Nah lho.. sampai nggak semangat hidup? Separah itukah?

“Masalah apa saja sih? Yuk kita buat daftar masalah, yuk. Tulis 5 saja masalah paling besar, 1 masalah ditulis di 1 halaman ya,” pesanku sambil mencarikan kertas dan pensil. Maka ia pun menuliskan masalahnya, satu masalah dalam satu halaman.

“Sudah? Sekarang tulis di bawah setiap masalah: Alhamdulillah Allah sudah kasih masalah ini. Berkat masalah ini aku bisa…..” ajakku lagi. Ia pun menulis dengan tekun, agak lama hal ini dilakukan.

“Sudah? Sekarang coba tulis: Aku minta maaf pada…. untuk masalah ini, karena…. Dan aku memaafkan …. dalam masalah ini, karena….” ajakku lagi. Yang ini lebih lama lagi, tapi selesai juga kok akhirnya.

“Bagaimana? Masih berat masalahnya?”

“Nggak sih mbak. Terima kasih ya, Mbak. Masih gengsi bicara sama orang-orang ini. Astaghfirullah,” jawabnya.

“Seberapa penting kamu memaafkan mereka semua supaya kamu bisa bebas dan nggak kepikiran lagi, move on dengan hidup kamu?” tanyaku lagi.

“Hmmm.. iya Mbak. Benar,” jawabnya.

Kutinggalkan ia setelah itu. Dan saat kubaca, masalah-masalah itu belum ada apa-apanya dibanding masalah banyak teman lain. Dan mereka bisa tetap produktif dengan riang gembira. Memang itulah kita semua. Masalah orang lain terlihat kecil. Saat masalah itu jadi masalah kita, dunia serasa mau runtuh. Kadang kita butuh bantuan untuk ingat lagi bahwa semua masalah diberikan sesuai kemampuan kita.

Masalah tidak akan pernah habis. Masalah sekarang, kalau bisa kita atasi dengan baik, akan meningkatkan derajat kita. Kalau tidak, Allah akan terus kasih ujian yang sama sampai kita mampu mengambil hikmah dan belajar mensyukuri masalah tersebut, bahagia dengan mampu memahami masalah.
Yuk, kalau masih pusing dengan berbagai masalah, coba praktekkan ini ya:

  1. Buat daftar masalah. Tulis 5 masalah terbesar. Satu masalah di setiap halaman
  2. Tulis di bawah masalah: “Alhamdulillah Allah berikan masalah ini. Berkat masalah ini saya bisa…. (isi titik-titik ini)”
  3. Tulis lagi di bawahnya: “Aku maafkan …… terkait masalah ini. Dan aku pun minta maaf pada …. terkait masalah ini. Rupanya Allah kirim mereka untuk menjadi pengujiku.
  4. Tulis lagi di bawahnya: “Maafkan aku, ya Allah, baru kali ini aku mensyukuri karuniaMu terkait masalah ini.”

Dengan demikian kita mengubah masalah menjadi karunia, dan mampu mensyukurinya. Ikhlaskan semuanya, nikmati semua masalah yang Allah berikan seperti guru kita memberikan kita soal-soal matematikan atau IPA/IPS, syukuri semua, berbagi dengan ilmu yang dipelajari dari masalah ini, dan berbahagialah saat orang-orang lain berbahagia terkait dengan masalah ini.

Semoga Allah meridloi upaya kita mensyukuri semua masalahNya, sebagai kurikulum hidup dalam jalanNya, demi pertemuan suci denganNya nanti.

Aamiin.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s