Dunia tak sekecil perkiraan kita. Buka hati, buka mata, buka kesempatan yuk.


Seperti yang kita bahas kemarin dalam “Buka Mata, Buka Hati, Buka Kemungkinan, Jangan Mudah Prasangka,” kita semua seringkali malas berfikir, enggan melakukan klarifikasi dan cepat sekali buat kesimpulan dan asumsi. Seringkali kita terjerumus menghakimi orang hanya karena beberapa hal yang mendukung opini kita yang seringkali sudah ada sebelum hal itu terjadi. Dan salah-salah kita mempengaruhi orang lain juga untuk menghakimi orang lain. Dosa jariah bisa berjalan lama setelahnya. Hati-hati.

Jadi marilah kita lebih berhati-hati. Nikmati saja berbagai kejadian dan ambil hikmahnya, jangan menilai, apalagi menghakimi sesuatu sebagai keburukan atau ketidakadilan, karena sesungguhnya yang kita adili adalah Allah.

Kita perlu berhati-hati dengan diri sendiri dan ingatkan orang lain yang juga terjerumus menghakimi. Ada 3 hal yang biasa terjadi:

💐 Menghapus: orang yang menganggap dunia kusut memilih hanya melihat wajah yang kusut. Kalau ada yang gembira, mereka akan hapus, tidak akan mereka lihat, dan bilang, “Kebetulan.”

Coba buka wawasannya dengan bertanya: “Apa yang menyebabkan kegembiraan mereka hanya kebetulan?”

Karena bisa saja mereka lebih banyak gembiranya daripada sedihnya, seperti yang terjadi di album foto pernikahan tanpa tawa di tulisan di atas (Buka Mata, Buka Hati).

💐 Menggeneralisasi: “Dunia ini makin parah” Mereka sudah punya suatu pandangan tertentu dan menganggap semua pasti seperti itu.

Coba bantu dengan bertanya, “Maksudnya dunia yang mana?”

Karena banyak “dunia” yang tidak makin parah.

Mereka yang sering melakukan hal ini tak lagi merasa perlu berusaha karena toh dunia sudah parah dan tak ada lagi yang dapat dilakukan.

💐 Pengaruh: menganggap faktor luar mempengaruhi faktor dalam, “Kamu jahat sekali. Kamu yang menyebabkan aku terpuruk seperti ini.” atau “Suamiku membuatku sengsara seperti ini,” atau yang lebih sering terjadi, “Mukanya judes, bikin aku marah.”

Coba bantu dengan bertanya,”Maksudnya kamu memilih untuk menjadi terpuruk karena aku?”

“Maksudnya kamu memilih menjadi sengsara karena apa yang suamimu lakukan?”

“Maksudnya kamu memilih untuk marah karena mukanya yang judes?”

Karena ada saja orang lain yang mendapat perlakuan yang sama dan tak menjadi terpuruk, tidak marah atau tidak merasa sengsara.

Orang yang menganggap faktor luar mempengaruhi faktor dalam seringkali menempatkan diri sebagai korban dunia luar, sementara mereka bisa memilih untuk tidak menjadi korban.

💐 Menetapkan aturan: merasa bahwa orang harus begini, harus begitu, harus melakukan ini dan harus melakukan itu. “Dia kan perempuan, harusnya dia bicara dengan lebih halus padaku, dong. Kok nggak sopan seperti itu sih?”

Coba bantu dengan bertanya, “Apakah maksudnya semua perempuan harus setiap saat bicara halus? Kamu barusan haluskah?”

Aturan bisa sangat membebani orang yang memiliki aturan dan mereka yang ada di sekitarnya. Mereka sulit untuk fleksibel dan mudah sakit hati atau stress tingkat tinggi karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan aturan mereka.

Dan aturan seringkali diterapkan secara double standard, berlaku untuk orang lain tapi tidak untuk diri sendiri.

Yuk, mulai sekarang kita dengarkan benar-benar dan sadari kalau sampai kita menghakimi atau terlalu cepat ambil kesimpulan yuk. Nggak enak, lho, rasanya. Lebih enak mengartikan apapun yang terjadi sebagai karunia Sang Maha Kasih dan Maha Besar. Apapun yang terjadi ada hikmahnya, ada kebaikannya, dan itulah yang kita perlu cari, gali, sadari dan belajar dari sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s